PENANGKAPAN TERHADAP DIRI SJAHRIR

PENANGKAPAN TERHADAP DIRI SJAHRIR[1]

 

17 Januari 1962

Kawan-kawan saya telah mengadakan hubungan dengan berbagai orang yang mempunyai kedudukan dalam pemerintah guna mencari tahu bagaimana duduk perkara sekitar penangkapan atas diri Sutan Sjahrir dan yang lain lain pada Senin pagi yang lalu. Macam-macam hal yang kedengaran dan semua itu menunjukkan belum juga diketahui dengan pasti apa sebab­sebabnya dilakukan penangkapan itu.

Ada yang bilang bukan 6 orang yang ditangkap melainkan 16 orang. Ada yang menyebutkan angka 12. Di asrama CPM di Jalan Hayam Wuruk ditahan 6 orang yaitu 1 bekas Perdana Menteri (Sjahrir), dua bekas Wakil Perdana Menteri (Mr. Roem dan Prawoto), 1 bekas Menteri Luar Negeri (Anak Agung Gde Agung) dan dua bekas anggota parlemen pilihan rakyat (Yunan Nasution dan Subadio Sastrosatomo). Tetapi kabarnya di Rumah Tahanan Militer ditahan pula 6 orang lain. Nama mereka belum diketahui.

Seorang teman saya menghubungi Kolonel Sudirgo, Komandan CPM, dan ia hanya mengatakan dia tinggal menjalankan perintah atasan belaka dalam melaksanakan penangkapan tadi. Ada teman yang menghubungi Wakil KASAD Letjen Gatot Subroto dan Mayjen A. Yani dan dari mereka diperoleh petunjuk Markas Besar Angkatan Darat tidak tahu menahu tentang penangkapan itu. Sampai di mana benarnya ini sulit bagi saya mengatakannya.

Terdapat pula keterangan bahwa KASAD Jenderal A.H. Nasution mengatakan kepada pewira-perwira tinggi tadi dia sudah di fait-accomplikan saja dengan penangkapan itu oleh Presiden/Peperti. Dapatkah hal ini dipercaya?

Seorang kawan saya yang lain menghubungi Menteri Luar Negeri Subandrio yang notabene jadi Ketua Badan Pusat Inteli­ jen (BPI). Subandrio mengadakan janji dengan kawan itu supaya bertemu di Japangan terbang Kemayoran saja untuk membicarakan soal tersebut lebih jauh. Tetapi di sana ternyata Subandrio tidak ada yakni tatkala Wakil Presiden RPA Amir Hakim tiba . Jadi jelas Subandrio mau mengelakkan diri dari memberikan keterangan tentang penangkapan terhadap Sjahrir.

Seorang kawan lain lagi menghubungi Menteri Pertama Djuanda. Ia menyatakan sebetulnya memang sejak dulu sudah ada rencana-rencana untuk mengadakan penangkapan akan tetapi selalu didep saja. Setelah terjadi “Peristiwa Cendrawasih” di Makassar (penggranatan terhadap Presiden Sukarno) baru-baru ini, maka rupa-rupanya rencana itu dijalankan sekarang. Apa maksud ucapan Djuanda ini? Apakah orang-orang seperti Sjahrir, Prawoto dan lain-lain itu dianggap oleh pemerintah Sukarno ada hubungan dengan peristiwa penggranatan di Makassar?

Keterangan lain mengatakan memang sejak dulu orang seperti Dr,. Subandrio beranggapan bahwa oposisi harus dibuat tidak berdaya begitu terjadi clash fisik dengan Belanda dalam soal Irian Barat. Dengan demikian dapat diselamatkan apa yang dinamakan home front. Clash sudah terjadi pada Minggu malam. Maka bukanlah sudah sewajarnya apabila segera dilaksanakan standing order untuk menangkap tokoh-tokoh oposisi? Selain itu dikatakan juga, Subandrio berpendapat memanglah terjadi konspirasi atau persekongkolan di kalangan tokoh­ tokoh oposisi seperti Hatta, Sjahrir , Roem tatkala mereka ­ menghadiri upacara pembakaran mayat (Palebon) ayah Anak Agung Gde Agung di Gianyar. Jadi berdasarkan semua itu kini beralasan menahan Sjahrir dan kawan-kawannya.

Dalam pada itu tetap tidak diketahui dengan pasti apa motif-motif sebenarnya pihak pemerintah menangkap Sjahrir dan kawan-kawannya. Desas-desus kini merajalela dalam masyarakat politik ibu kota.

Seorang diplomat dari kedutaan besar Pakistan mengunjungi saya hari ini dan ia bertanya apakah benar di Padangsidempuan juga telah dilakukan penahauan atas diri Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap? Saya katakan tidak tahu.

Ramanath, wartawan kantor berita “AP” datang mencek kepada saya tentang kebenaran berita penangkapan terhadap Sjahrir. Di luar negeri rupanya berita penangkapan itu belum tersiar. Setidak-tidaknya Radio Australia yang saya dengarkan petang ini tidak menyebutkan apa-apa. Robertson, seorang wartawan Inggris menceritakan kepada saya telegram yang dikirimkannya dari sini ditahan 24 jam oleh sensor walaupun berita kawat itu berisi keterangan Yani perihal pertempuran laut dengan Belanda. “Di mana logikanya semua ini?” tanya Robertson. “Jangan tanya soal logika dalam hal ini,” nyeletuk rekannya. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 156-158.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*