Pembersihan Sisa-Sisa Pemberontak PKI Madiun di Jawa Timur (3): Pembersihan di Bojonegoro

Pembersihan Sisa-Sisa Pemberontak PKI Madiun di Jawa Timur (3): Pembersihan di Bojonegoro [1]

 

Bojonegoro yang terletak di sebelah timur kota Cepu tidak luput dari ancaman komunis, karena antara Bojonegoro dan Madiun terdapat pemusatan tentara komunis di desa Klimo. Selain itu karena arus pengungsi dari daerah Cepu semakin meningkat, maka kota ini mengalami ancaman kekurangan bahan pangan.[2]

Untuk mengatasi ancaman kekuarangan bahan pangan bagi rakyat dan pasukan yang berada di bojonegoro, pemerintah mengirimkan perbekalan melalui udara dengan pesawat AURI. Perbekalan diterjunkan dengan paying kecil menggunakan pesawat Dakota RI – 002. Selain bahan pangan juga obat-obatan serta senjata yang sangat dibutuhkan pasukan darat dalam menunjang operasi pembebasan daerah-daerah yang masih dikuasai pemberontak. Laporan Mayor Soedirman dari Bojonegoro, menyebutkan bahwa perhubungan antara Bojonegoro – Cepu – Solo terputus akibat pengrusakan yang dilakukan oleh para pemberontak. PKI juga merencanakan penghancuran waduk Pacol dengan mengumpulkan sejumlah buruh dekat waduk itu di daerah KIono, dan jika usaha tersebut berhasil maka Bojonegoro akan banjir.[3]Aksi lainnya yang dilakukan oleh para pemberontak di daerah ini ialah menyerang rumah penjara Mojoranu dan membebaskan 36 orang PKI yang ditawan di situ. Pada peristiwa ini, mereka menahan 9 orang pegawai rumah penjara tersebut.[4]

Pembersihan di Bojonegoro dan sekitarnya di lancarkan pasukan Mayor Soedirman dengan mendapat bantuan dari rakyat yang hanya menggunakan bambu runcing. Para pemberontak yang terdesak dapat dikepung di Mojoranu. Dalam pertempuran itu banyak rakyat yang menjadi korban. Akhirnya pasukan kita mematahkan perlawanan para pemberontak sehingga aksi mereka tidak berkembang secara luas.

***

[1] Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2] DR. A.H. Nasution. op. cit., hal. 368

[3] Soeloeh Rakjat, 11 Oktober 1948

[4] Kolonel Warsito, op. cit. hal. 50

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*