Pembersihan Pasukan Antek G30 S PKI oleh Tentara Siliwangi

Jum’at, 13 Oktober 2017 – 05:00 WIB

 

Demikian pula di wilayah Korem 061/Suryakencana Bogor pun dilakukan razia dan penangkapan oleh jajaran Tentara Kodam Siliwangi terhadap oknum-oknum TNI yang dicurigai. Sampai tanggal 9 November 1965, sebanyak 789 orang ditahan di daerah Bogor.

Operasi militer yang dilancarkan di daerah Karawang telah berhasil menangkap sejumlah anggota PKI. Dari mereka dapat diketahui, bahwa di Kabupaten Karawang sebelum terjadi pemberontakan G30S/PKI telah disiapkan susunan pemerintahan daerah yang baru.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang diketuai oleh Dan Pom V1/3-5 Letda CPM Usman Sjamsu, para tawanan tersebut mengatakan bahwa Gatot Kotjo BA (Ketua Pemuda Rakyat) sebagai calon Komandan Kodim 0604, Mas Mira Subahadi sebagai calon bupati dan Saidi Sugito sebagai calon Kepala Polisi Resort.

Sedangkan senjata mereka diperoleh dari Kabupaten Bekasi dan sebagai daerah pengunduran adalah Cidore, Kecamatan Pangkalan Dati II Karawang.

Di Tasikmalaya dan Garut serta kabupaten-kabupaten lainnya sebanyak 300.000 orang yang tergabung dalam Komando Aksi Umat Islam dan Brigade Siaga mendukung operasi militer yang dilakukan oleh Kodam Siliwangi. Namun demikian ada pula dari anggota-anggota PKI dan ormas-ormasnya sendiri yang mengutuk pemberontakan tersebut. Hal ini disebabkan mulai timbulnya kesadaran di kalangan mereka bahwa tindakan gerombolan G30S/PKI adalah tindakan kontra revolusi dan menyeleweng dari ideologi Pancasila.

Banyak di antara mereka yang mengatakan telah ditipu oleh atasannya. Oleh sebab itu, mereka menyatakan ke luar dari keanggotaan PKI.

Sebelum Pangdam VI/Siliwangi Mayjen TNI Ibrahim Adjie selaku Pepelrada mengumumkan pembubaran PKI, maka atas kesadaraannya sendiri anggota-anggota PKI tersebut telah membubarkan diri. Secara resmi dalam briefing di Aula Kodam VI tanggal 17 November 1965, Pangdam VI/Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie di hadapan para wakil partai politik dan organisasi­organisasi massa mengumumkan pembubaran PKI dan ormas-­ormasnya.

Selanjutnya pembersihan besar-besaran unsur militer yang pro PKI kembali dilakukan saat Panglima Kodam VI/Siliwangi dijabat Mayjen TNI HR Dharsono. Pak Ton sapaan akrab HR Dharsono merupakan penganti Ibrahim Adjie.

Sebelumnya HR Dharsono adalah Kasdam VI/Siliwangi atau wakil dari Ibrahim Adjie di jajaran pasukan kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.

Dimana atas perintah Mayjen TNI HR Dharsono sejumlah perwira di jajaran Kodam Siliwangi yang dicurigai terlibat PKI, antara lain Kolonel Djukardi yang menjabat sebagai Wali Kota Bandung, Mayjen Rukman, Brigjen Soemali dan lain-lain ditangkap. Selain itu ditangkap juga beberapa Komandan Kodim dan perwira intelijen yang disusupi PKI . Hal ini berdasarkan data dari anggota Biro Khusus PKI yang berhasil ditangkap oleh Jajaran Kodam Siliwangi.

Demikian pula di wilayah Korem 061/Suryakencana Bogor pun dilakukan razia dan penangkapan oleh jajaran Tentara Kodam Siliwangi terhadap oknum-oknum TNI yang dicurigai. Sampai tanggal 9 November 1965, sebanyak 789 orang ditahan di daerah Bogor.

Operasi militer yang dilancarkan di daerah Karawang telah berhasil menangkap sejumlah anggota PKI. Dari mereka dapat diketahui, bahwa di Kabupaten Karawang sebelum terjadi pemberontakan G30S/PKI telah disiapkan susunan pemerintahan daerah yang baru.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang diketuai oleh Dan Pom V1/3-5 Letda CPM Usman Sjamsu, para tawanan tersebut mengatakan bahwa Gatot Kotjo BA (Ketua Pemuda Rakyat) sebagai calon Komandan Kodim 0604, Mas Mira Subahadi sebagai calon bupati dan Saidi Sugito sebagai calon Kepala Polisi Resort.

Sedangkan senjata mereka diperoleh dari Kabupaten Bekasi dan sebagai daerah pengunduran adalah Cidore, Kecamatan Pangkalan Dati II Karawang.

Di Tasikmalaya dan Garut serta kabupaten-kabupaten lainnya sebanyak 300.000 orang yang tergabung dalam Komando Aksi Umat Islam dan Brigade Siaga mendukung operasi militer yang dilakukan oleh Kodam Siliwangi. Namun demikian ada pula dari anggota-anggota PKI dan ormas-ormasnya sendiri yang mengutuk pemberontakan tersebut. Hal ini disebabkan mulai timbulnya kesadaran di kalangan mereka bahwa tindakan gerombolan G30S/PKI adalah tindakan kontra revolusi dan menyeleweng dari ideologi Pancasila.

Banyak di antara mereka yang mengatakan telah ditipu oleh atasannya. Oleh sebab itu, mereka menyatakan ke luar dari keanggotaan PKI.

Sebelum Pangdam VI/Siliwangi Mayjen TNI Ibrahim Adjie selaku Pepelrada mengumumkan pembubaran PKI, maka atas kesadaraannya sendiri anggota-anggota PKI tersebut telah membubarkan diri. Secara resmi dalam briefing di Aula Kodam VI tanggal 17 November 1965, Pangdam VI/Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie di hadapan para wakil partai politik dan organisasi­organisasi massa mengumumkan pembubaran PKI dan ormas-­ormasnya.

Selanjutnya pembersihan besar-besaran unsur militer yang pro PKI kembali dilakukan saat Panglima Kodam VI/Siliwangi dijabat Mayjen TNI HR Dharsono. Pak Ton sapaan akrab HR Dharsono merupakan penganti Ibrahim Adjie.

Sebelumnya HR Dharsono adalah Kasdam VI/Siliwangi atau wakil dari Ibrahim Adjie di jajaran pasukan kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.

Dimana atas perintah Mayjen TNI HR Dharsono sejumlah perwira di jajaran Kodam Siliwangi yang dicurigai terlibat PKI, antara lain Kolonel Djukardi yang menjabat sebagai Wali Kota Bandung, Mayjen Rukman, Brigjen Soemali dan lain-lain ditangkap. Selain itu ditangkap juga beberapa Komandan Kodim dan perwira intelijen yang disusupi PKI . Hal ini berdasarkan data dari anggota Biro Khusus PKI yang berhasil ditangkap oleh Jajaran Kodam Siliwangi.

 

Sumber : https://daerah.sindonews.com/read/1247546/29/pembersihan-pasukan-antek-g30-s-pki-oleh-tentara-siliwangi-1507737217/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*