PEMBANTAIAN KH HAMID DIMYATHI Dl TIRTOMOYO: Kesaksian dari Pesantren Tremas, Pacitan

PEMBANTAIAN KH HAMID DIMYATHI Dl TIRTOMOYO[1]

(Kesaksian dari Pesantren Tremas, Pacitan)[2]

Pemberontakan PKI 1948 di Madiun yang berusaha merebut kekuasaan negara juga merembet ke Pacitan. Agaknya memang sulit dihindarkan karena Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah yang berada di dalam satu kesatuan wilayah Karesidenan Madiun bersama Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ngawi.

Tidak berbeda dengan wilayah lain, PKI menggelar permusuhan tidak saja kepada Pemerintah RI yang berkuasa, tapi juga menjadikan umat beragama terutama Islam serta berbagai pihak dari partai politik yang berseberangan dengan komunis, sebagai musuh utamanya.

Tekanan demi tekanan yang dilakukan para pengikut PKI ini demikian terasa di wilayah Pacitan.

Pondok Pesantren Tremas di Kecamatan Arjosari 15 km utara Kota Pacitan menjadi saksi sejarah kelam di tahun 1948. KH. Hamid Dimyathi, pimpinan dan pendirinya, bersama 14 orang pengikutnya, menjadi korban keganasan PKI.

Pesantren, tempat Prof. Mukti Ali (alm) pernah mondok ini, kini dipimpin secara kolektif oleh beberapa kiai muda, cucu-cucu KH. Hamid Dimyathi. Ketika disodori pertanyaan tentang kejuangan kakek rnereka hingga rnenjadi korban keganasan PKI di tahun 1948, para kiai muda pemimpin pesantren ini, hanya dapat menyodorkan catatan sejarah yang pernah disusun oleh para orang tua rnereka. Sejarah kelam, hingga menewaskan KH. Hamid Dimyathi dan 14 orang pengikutnya tersebut, terangkai dan menjadi satu dengan sejarah berdirinya Pesantren ini.

Hamid Dimyathi, di sekitar Proklamasi Kemerdekaan, tercatat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan juga menjadi aktivis Partai Masyumi. Disamping sebagai pimpinan Pesantren Tremas, juga menjadi Kepala Penghulu di Kabupaten Pacitan.

Karena kesibukannya yang demikian padat, KH. Hamid Dimyathi pada suatu kesempatan, dengan terpaksa tidak dapat memenuhi undangan Bung Tomo di Surabaya. Maksud Bung Tomo ketika itu mengundang para pimpinan Pondok Pesantren, untuk merninta bantuan agar ikut mengobarkan semangat perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI di kalangan ulama dan kiai pimpinan pesantren lain yang ada di sekitar Tremas. KH. Hamid Dimyathi, dalam kesempatan itu mewakilkan kepada kakak iparnya, Kiai Mursyid, untuk memenuhi undangan Bung Tomo di Surabaya.

Sejak sebelum meletusnya Pemberontakan PKI 1948 di Madiun, situasi kacau dan serba tidak rnenentu sebenamya sudah sangat  terasa  di wilayah  Pacitan.  Sebagai  pimpinan Partai Masyumi dan juga Penghulu di Pacitan, KH. Hamid Dimyathi merasa prihatin atas situasi yang sudah demikian mengancam keselamatan umat. Karenanya KH. Hamid Dimyathi berusaha mengadakan kontak langsung ke Yogyakarta, untuk melaporkan kondisi secara umum yang saat itu sedang berkembang di Pacitan.

Laporan yang hendak disampaikan ke jajaran Pemerintah Pusat, gagal dilakukan dengan menggunakan sarana telepon. Karena itu, KH. Hamid Dimyathi pribadi bertekad berangkat ke Yogyakarta. Sejumlah 14 orang mengikuti perjalanannya. Empat orang di antaranya adalah Djoko, Abu Naim, Yusuf dan Qosim adalah para kakak dan adik ipar KH . Dimyathi.

Dalam perjalanan dengan jalan kaki, 15 orang dalam rombongan ini mengambil jalan pintas. Rombongan melakukan penyamaran. Ketika rombongan berhenti di sebuah warung di wilayah Pracimantoro (selatan Wonogiri), Jawa Tengah, penyamaran mereka diketahui oleh gerombolan pemberontak dari kalangan PKI. Mereka ditangkap dan dibawa ke Baturetno. Dalam penyekapan ini, KH. Hamid Dimyathi bersama 14 orang pengikutnya mengalami penyiksaan yang sangat tidak manusiawi. Seminggu di Baturetno, mereka kemudian dipindahkan ke Tirtomoyo di wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di wilayah ini, KH. Hamid Dimyathi bersama pengikutnya dihabisi dan dimasukkan ke dalam satu lubang semacam sumur, secara keji.

Satu orang di antara rombongan ini dibiarkan hidup. Dia adalah Shoimun. Sengaja dibiarkan hidup, karena pemberontak berharap agar peristiwa tersebut dikabarkan ke keluarga, di samping yang lebih utama lagi agar berita yang dibawa Shoimun ini, mampu lebih mencekam dan mengancam kalangan umat Islam yang kontra terhadap PKI.

Setelah situasi aman, pelacakan dilakukan berdasar pada petunjuk yang diberikan Shoimun. Kuburan massal di bekas sumur tua dapat ditemukan. Namun ketika dilakukan evakuasi, dari dalam lubang sumur tersebut tidak ditemukan 14 mayat melainkan 13 mayat yang sudah sangat sulit dikenali satu-persatu. Jenazah para syuhada ini kemudian dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan Jurug Surakarta dipinggir Bengawan Solo. Hingga saat ini masih dapat dilihat, bekas tempat pembantaian ke 14 korban tersebut, dengan diberi tanda semacam monument dan dilengkapi dengan prasasti.

[1]    Dikutip dari buku “KESAKSIAN KORBAN KEKEJAMAN PKI 1948, Kesaksian Pesantren Tremas, Pacitan “, Komite Waspada Komunisme, Jakarta:2005, hal 55-58

[2]    Pesantren Tremas, Pacitan:, Saksi sejarah kelam di tahun 1948

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*