PELAPISAN SOSIAL MENURUT SUKARNO

PELAPISAN SOSIAL MENURUT SUKARNO [1]

 

11 September 1962

Dalam kalangan Angkatan Darat terjadi mutasi yang sudah lama diperkatakan orang. Kolonel Harun Sohar, Panglima di Sumatra Selatan, diganti. Begitu juga Kolonel Jusi, Panglima di Kalimantan Selatan. Kini tinggal Brigjen Surachman, Panglima di Jawa Timur. Kabarnya yang akan menggantikannya ialah Brigjen Basuki Rachmat, kini Kepala Staf Peperti. Dengan adanya mutasi demikian di tingkat panglima daerah, maka disingkirkanlah orang-orang yang bersikap independent. Dibuktikan pula betapa Presiden Sukarno mempunyai pegangan yang kuat atas Angkatan Darat

Dalam masyarakat politik di Ibu Kota tersiar cerita tentang uraian Presiden di depan sejumlah pejabat tinggi militer beberapa waktu yang lalu. Presiden menguraikan bagaimana menurut anggapannya gambaran masyarakat Indonesia dewasa ini. Ia berbicara tentang stratifikasi atau pelapisan sosial. Menurut Sukarno di lapisan atas atau di puncak terdapat Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi.

Di lapisan kedua terdapat para pejabat militer tertinggi dari pangkat jenderal ke bawah sampai pangkat brigjen bersama-sama dengan politieke bonzen seperti ketua PKI D. N. Aidit ketua PNI Ali Sastroamidjojo, ketua Nahdatul Ularila K .H. Idham Chalid. Di lapisan ketiga terdapat para panglima di daerah, kelompok-kelompok partai dan golongan karya. Di lapisan keempat terdapat massa rakyat yang banyak.

Menurut Sukarno, lapisan kedua tidak merupakan bahaya bagi posisinya. Para jenderal dan pemimpin partai politik ada dalam kantongnya. Yang secara potensial merupakan bahaya baginya ialah lapisan ketiga di atas tingkat panglima daerah dan orang-orang partai serta golongan karya .

Lapisan ini berusaha mencari dan meletakkan urat akarnya ke lapisan keempat yaitu ke massa rakyat. Menurut Sukarno, usaha mencari sambungan dengan massa itu yang hendak dilakukan oleh lapisan ketiga harus dipotong sebab yang boleh berhubungan langsung dengan rakyat dan yang satu-satunya boleh menjadi ujung penyambung lidah rakyat hanyalah Sukarno sendiri. Maka harus diusahakan supaya lapisan ketiga menjadi tidak berdaya.

Demikianlah gambaran masyarakat atau maatschappij beeld Indonesia di mata Sukarno. Saya tidak heran mengapa ia membentuk Badim Musyawarah Pimpinan Negara dan mendudukkan di sana para pemimpin partai seperti Aidit, Ali Sastroamidjojo, Idham Chalid dengan pangkat Menteri. Karena di sana. mereka akan menjadi yes men belaka.

Saya tidak heran mengapa Sukarno berperan langsung dalam menetapkan perwira TNI mana yang harus dinaikkan pangkatnya dari kolonel menjadi brigjen ketika sebelum tanggal 17 Agustus lalu sejumlah kolonel mendapat kenaikan pangkat . Karena ia mau mempromosikan mereka dari lapisan ketiga memasuki lapisan kedua dan sesudah itu mereka menjadi loyal setia kepada Presiden. Pada hemat saya maatschappij beeld yang digambarkan oleh Sukarno ini  bersifat statis. Ia semata-mata bertujuan mempertahankan kekuasaan dan kedudukan sendiri. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 253-254.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*