Pelaksanaan Operasi Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (3): Gerakan Pasukan dari Poros Nganjuk – Caruban – Madiun

Pelaksanaan Operasi Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (3): Gerakan Pasukan dari Poros Nganjuk – Caruban – Madiun[1]

Sementara itu di kota Nganjuk dengan adanya pengumuman perebutan kekuasaan di Madiun oleh PKI, situasinya terasa semakin panas. Situasi semacam itu ditimbulkan sebagai akibat tindakan provokasi Batalyon Sidik Arselan dari Pesindo yang bermarkas di sebelah selatan alun-alun Nganjuk, dan berhadapan langsung dengan Markas Batalyon Sunarjadi.[2] Sebelum berada di Nganjuk, pasukan Sidik Arselan bermarkas di kota Blitar. Namun setelah Sidik Arselan menjabat sebagai Komando Distrik Militer (KDM) di Nganjuk, ia memindahkan pasukannya ke kota tersebut. Pemindahan pasukan dari Blitar ke Nganjuk dilaksanakan dalam kaitannya dengan penyusunan kekuatan untuk melaksanakan pemberontakan di Madiun.

Sesuai dengan rencana, operasi merebut kota Madiun dari timur dilaksanakan dalam tiga poros. Untuk poros Nganjuk Caruban ­Madiun, Komandan Brigade 2 mempercayakan tugas ini kepada Mayor Sunarjadi. Tugas pokok yang harus segera dilaksanakan adalah melucuti pasukan Sidik Arselan. Sebagian pasukan Sidik Arselan yang berada di markasnya berhasil dilucuti. Namun sebagian ada yang berhasil meloloskan diri ke luar kota Nganjuk sebelum Sunarjadi bertindak.

Tugas berikutnya adalah merebut kota Madiun melalui jalan besar Nganjuk – Wilangan – Caruban – Madiun. Semula Brigade 2 mencoba meringankan beban tugas yang dipikul Sunarjadi.Daerah perbatasan Madiun – Nganjuk pengamanannya di serahkan kepada Batalyon Sumarsono, namun pasukan ini tidak mampu menghadapi kekuatan pemberontak. Batalyon ini terpukul di Guyangan. Bahkan ada satu peleton Yon Sumarsono yang membelot, memihak pemberontak. Sehingga tugas tersebut kemudian dialihkan kepada Batalyon Sunarjadi. Guna memperkuat Batalyon Sunarjadi, pasukan Brimob yang berada di bawah perintah Mayor Sabarudin dialihkan ke poros Nganjuk – Caruban – Madiun.

Sementara persiapan penyerangan ke kota Madiun sedang berlangsung, diperoleh informasi bahwa pasukan komunis yang berada di Bagor berusaha bergerak ke arah Nganjuk. Untuk itu diadakan gerakan mendahului serangan musuh. Pasukan Sunarjadi yang antara lain terdiri dari Kompi Kardono, Kompi Dulhasyim, Kompi Warkahim ditambah dengan empat Kompi Brimob Polri di bawah pimpinan Inspektur Polisi II Imam Bachri. Kelompok Komando Brigade mengikuti pasukan ini. Pasukan bergerak dalam dua poros, yaitu sebagian melewati jalan besar, sebagian lagi menyusuri rel kereta api. Sasaran pertama yang harus direbut adalah Kecamatan Bagor.[3] Pada waktu fajar pasukan telah berada di Bagor. Pertempuran tidak berlangsung lama. Bagor jatuh ke tangan pasukan Pemerintah. Pasukan musuh mundur ke Wilangan dan membuat pertahanan di sana.

Hari berikutnya serangan dilanjutkan ke Wilangan. Pasukan Sunarjadi masih mengambil formasi yang sarna seperti waktu mengadakan mars dari Nganjuk ke Bagor. Pasukan Brimob Polri yang terdiri dari Kompi Jusuf, Kompi Kusnadi, Kompi Sukari dan Kompi Wiranto bergerak menyusuri jalan besar.[4] Sementara itu musuh telah berhasil merusakkan jembatan Wilangan. Pasukan Sunarjadi mendapat perlawanan yang gigih dari pasukan komunis. Pertempuran berlangsung cukup lama. Rupanya Panjang Djokoprijono, pasukan Mursid serta pasukan Durachman sempat bergabung dan membuat pertahanan yang cukup kuat. Namun karena disiplin dan ketrampilan pasukan lawan kurang memadai, pertahanannya dapat ditembus oleh pasukan Sunarjadi. Pasukan musuh kemudian mengundurkan diri ke arah Madiun. Setelah mengadakan pembersihan, pasukan Sunarjadi bermalam di Wilangan. Keesokan harinya gerakan dilanjutkan menuju Saradan. Di daerah ini pasukan Brimob polri berhasil menyita gerbong kereta api yang berisi perbekalan lawan. Perlawanan musuh di Saradan tidak segigih perlawanannya di Wilangan. Dari Saradan sebagian pasukan lawan melarikan diri ke Caruban, terutama pasukan Panjang dan pasukan Mursid. Seperti halnya di Wilangan musuh sempat menyusun pertahanan yang tangguh. Pertempuran untuk merebut Caruban berlangsung sehari penuh. Pihak lawan bertahan untuk menghambat gerak maju pasukan Sunarjadi ke Madiun. Baru pada pukul 15.00 tanggal 25 September 1948 pertempuran mereda. Musuh mengundurkan diri dengan meninggalkan korban cukup banyak. Sebelum Caruban jatuh ke tangan pasukan Sunarjadi, musuh sempat membakar kantor Kawedanaan. Di pihak Sunarjadi jatuh korban beberapa anggota. Tiga orang anggota Brimob terkena tembakan musuh. Dua orang gugur dan seorang luka-Iuka.[5] Pembersihan dan konsolidasi segera dilaksanakan secermat-cermatnya. Untuk menghindari kemungkinan direbutnya kembali Caruban oleh pasukan PKl, diputuskan untuk menduduki daerah tersebut selama dua hari.

Gerakan pasukan Sunarjadi selanjutnya adalah menuju Madiun. Pasukan dibagi dalam tiga bagian dengan menggunakan jalan besar Caruban – Madiun sebagai porosnya. Di sayap kiri, pasukan bergerak sepanjang reI kereta api, sedang sayap kanan bergerak di sebelah kanan jalan besar. Sesampai di Balerejo, pasukan diistirahatkan untuk memberi kesempatan kepada pimpinan guna melakukan koordinasi dengan pimpinan pasukan Siliwangi yang telah mulai memasuki kota Madiun. Setelah tercapai kesepakatan dengan pimpinan Siliwangi, gerakan dilanjutkan lagi menuju Madiun. Sasaran pertama setelah sampai Madiun adalah menduduki pabrik gula Rejoagung yang pernah digunakan sebagai markas besar pemberontak. Sedang pasukan Brimob Polri diperintahkan untuk mengamankan kantor Percetakan Oeang RI (ORI) serta mengamankan penjara besar Madiun, yang diberitakan akan dibumihanguskan oleh PKI. Dengan masuknya pasukan Siliwangi dari arah barat serta pasukan Sunarjadi dari arah timur, maka praktis pada tanggal 30 September 1948 sore, kota Madiun telah berada kembali ke tangan pemerintah RI. Pasukan-pasukan PKI secara tergesa – gesa melarikan diri ke luar Madiun.

Mereka tidak sempat membawa barang-barang berharga. Puluhan mobil yang di parkir sepanjang jalan menuju Dungus segera diamankan oleh pasukan Sunarjadi.[6] Dengan direbutnya kembali kota Madiun, maka tugas pokok yang dibebankan kepada Mayor Sunarjadi untuk sementara telah selesai. Tidak lama kemudian pasukan Sunarjadi segera ditarik dari Madiun untuk diperbantukan kepada Brigade Sunarto. Brigade ini bertugas menghadapi pasukan komunis di daerah Bojonegoro. Dalam pelaksanaanya tidak semua kekuatan segera dikirimkan ke Bojonegoro. Perintah tersebut dilaksanakan oleh Mayor Sunarjadi secara bertahap. Untuk tahap pertama dikirim Kompi Kardono ke Randublatung, sedang sisanya menyusul kemudian. Mengingat Ponorogo masih belum terbebaskan dari pasukan komunis, maka rombongan pasukan lain yang berada di bawah koordinasi Mayor Sunarjadi yaitu pasukan Brimob Polri pimpinan Inspektur Polisi II Imam Bachri ditugaskan untuk ikut menyerang Ponorogo. Dalam melaksanakan tugasnya pasukan ini bahu-membahu dengan pasukan yang datang dari arah selatan.

Selama operasi penumpasan di Madiun ini telah tertangkap beberapa tokoh pemberontak antara lain Sidik Arselan, Mursid, Mussofa. Mereka adalah para komandan batalyon. Selanjutnya juga tertangkap Kolonel Munadji dari TLRI, Achiyat, Ismangil, Kusnandar, Krissubanu dan beberapa tokoh Pesindo lainnya.

Semua gerakan dikendalikan sepenuhnya dari Markas Komando Gubernur Militer Jawa Timur di Kediri. Kolonel Soengkono selaku Gubemur Militer I sekali-sekali meninjau ke lapangan. Komunikasi dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman di Yogyakarta terus dilakukan. Ketika pasukan dari Jawa Timur telah mendekati Madiun, Kolonel Soengkono mengirimkan laporan dan minta petunjuk dari Panglima Besar Jenderal Soedirman, apakah pasukan dari timur itu boleh terus masuk Madiun. Panglima Besar Jenderal Soedirman memerintahkan, agar menunggu dulu. Demikian pula halnya setelah kota Madiun dapat direbut oleh TNI pada tanggal 30 September 1948, maka Kolonel Soengkono segera berangkat dengan kereta api luar biasa menuju Madiun. Di sana mengadakan pertemuan dengan Letnan Kolonel Sadikin untuk membicarakan pembagian daerah operasi berikutnya. Pembagian ini perlu untuk mencegah terjadinya salah paham di antara sesama pasukan pemerintah RI.

***

[1]    Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Sunarjadi, Bandung, 28 Januari 1976

[3]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Sunarjadi

[4]     Wawancara dengan Brigjen Pol. Imam Bachri,Jakarta, 11 Mei 1976

[5]     Madiun Affair tanggal 18 September 1948, dokumen.

[6]     Wawancara dengan Marjen (Pur) Sunarjadi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*