Pelaksanaan Operasi Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (1): Gerakan Pasukan dari Poros Blitar-Mojoroto-Ponorogo

Pelaksanaan Operasi Penumpasan PKI Madiun Dari Timur (1): Gerakan Pasukan dari Poros Blitar-Mojoroto-Ponorogo[1]

Langkah berikutnya yang diambil oleh Gubernur Militer Jawa Timur adalah menanyakan sikap para Komandan Batalyon di bawah Brigade XXIX.[2] Kolonel Soengkono pada tanggal 21 September 1948 menemui Mayor Sumarsono, Komandan Batalyon Sumarsono yang berasal dari laskar Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) di Purwosari (Kediri) untuk menanyakan sikapnya. Sumarsono menyatakan kesetiaanya kepada Pemerintah RI. Demikian pula terhadap Batalyon Mansur Solikhi yang berasal dari Hisbullah di Jombang. Rupanya hubungan batin “bapak” dan “anak” yang telah terjalin sejak pertempuran Surabaya masih terasa pada mereka. Hal ini memudahkan usaha untuk memisahkan kawan dan lawan.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan di pihak pemberontak, Laksamana Muda Atmaji pemimpin TLRl, bekas Direktur Jenderal Angkatan Laut, yang bermarkas di Tulungagung sekali lagi berusaha membujuk Kolonel Soengkono. Ia datang di Kediri meminta bertemu empat mata dengan Kolonel Soengkono. Namun permintaannya ditolak. Dalam perjalanannya kembali ke markasnya di Tulungagung ia dicegat oleh pasukan Sabarudin. Mobilnya dihentikan dan digeledah. Di bawah tempat duduk belakang mobilnya ditemukan dua peti uang, senjata serta amunisi. Atmaji kemudian ditahan. Dengan demikian dua tokoh pimpinan pemberontak telah berhasil ditawan di Kediri, sebelum mereka sempat bergerak, yaitu Letnan Kolonel Dahlan dan Laksamana Muda Atmaji.[3]

Hari H gerakan penumpasan adalah tanggal 21 September 1948. Dari arah selatan digerakan dua batalyon, yaitu Batalyon Mudjajin dan Batalyon Harsono. Batalyon Mudjajin yang baru dibentuk sesudah Rera ditetapkan sebagai batalyon mobil. Kekuatannya terdiri dari kompi-kompi yang berasal dari Tulungagung, Kediri, Blitar dan Nganjuk. Yang ditunjuk sebagal Komandan adalah Mayor Mudjajin dan Wakilnya Kapten D. Sumartono, yang keduanya adalah mantan shodanco tentara Peta. Sesudah pecahnya pemberontakan PKl, sesuai dengan rencana operasi, Batalyon Mudjajin diperintahkan untuk bergerak dari Blitar ke Ponorogo. Dalam melaksanakan gerakannya batalyon ini diperkuat oleh beberapa kompi dari batalyon lain antara lain Kompi Sumadi dari Batalyon Sunandar dan Kompi Sabirin Muchtar. Kekuatan Batalyon Mudjajin menjadi 4 Kompi Senapan, 1 Kompi Senjata Berat dan 2 Kompi Bawah Pemerintah (B/P).

Gerakan tersebut dimulai dengan menghantam Batalyon Maladi Jusuf yang berkedudukan di Mojoroto. Batalyon Mudjajin yang ditugasi menghancurkan kedudukan Batalyon Maladi Jusuf, bergerak dari pangkalan di Blitar menuju ke Mojoroto. Dalam keadaan kacau pasukan Maladi Jusuf lari meninggalkan Mojoroto menuju Sendangharjo. Batalyon ini berkekuatan empat kompi dan merupakan batalyon komunis yang tangguh baik kemampuannya maupun ideologinya. Para Komandan Kompinya adalah Kapten Salamun, Kapten Keri Jusuf, Kapten Suroso, dan Kapten Mustofa.

Sesuai dengan rencana, Batalyon Harsono diperintahkan mengadakan penghadangan di Karangrejo. Pasukan ini sebenarnya telah melakukan stelling pada posisi ketinggian yang secara teoritis sulit dijamah oleh tembakan lawan, namun pasukan Maladi Jusuf yang dihadang berhasil memukul pasukan penghadang dan menerobos ke luar dari Karangrejo. Pasukan Maladi Jusuf kemudian mengambil posisi bertahan di sebelah Utara Trenggalek untuk konsolidasi. Pada sore hari tanggal 22 September pasukan ini berusaha untuk menyerang Trenggalek, namun tidak berhasil. Batalyon Mudjajin bertindak lebih cepat menduduki Trenggalek.

Sementara itu Kompi Sumadi yang dipimpin oleh Lettu Sumadi dari Batalyon Sunandar yang berkedudukan di Pusat Pembangkit Listrik Mendalam (Ngoro) atas perintah Komandan Brigade S di bawah perintahkan kepada Batalyon Mudjajin. Kompi ini ditugasi untuk menghalau musuh dari pabrik gula Mojopanggung (Tulungagung). Setelah menerima perintah operasi Kompi Sumadi segera berangkat menuju pabrik gula Mojopanggung untuk mengadakan pengepungan terhadap kedudukan musuh yang berada di sana. Pabrik Gula Mojopanggung waktu itu dipergunakan sebagai pabrik senjata di samping Markas TLRI dan markas sisa-sisa pasukan Penataran Angkatan Laut (PAL) yang berpihak kepada PKl sejak mereka mundur dari Lawang pada bulan Juli 1947, Pengepungan dilakukan dengan ketat, sehingga tidak memungkinkan lagi bagi musuh untuk bergerak. Dengan menggunakan taktik penyergapan Lettu Sumadi dapat memasuki kantor Markas TLRl serta berhasil memaksa musuh untuk menyerah.[4]

Dari hasil penyergapan ini Kompi Sumadi dapat merampas sejumlah senjata buatan Penataran Angkatan Laut antara lain: mortir 80, mortir 60, serta beberapa jenis senjata otomatis lainnya. Senjata hasil rampasan tersebut sebagian diserahkan kepada Brigade S dan sebagian lagi dipergunakan untuk menambah kelengkapan kompi. Dari Mojopanggung pasukan melanjutkan gerakan ke Kacangan (dekat Trenggalek) untuk menyerang pasukan Maladi Jusuf yang berusaha merebut Trenggalek. Pasukan Maladi Jusuf yang belum sempat istirahat diserang oleh Kompi Sumadi. Dalam tembak­ menembak Maladi Jusuf terluka pahanya. Namun korban berhasil dilarikan oleh anak buahnya menuju ke Bendungan, sebuah desa di lereng selatan Gunung Wilis[5]

Pasukan PKl yang melarikan diri itu terus dikejar. Mereka tidak sempat mengadakan perlawanan. Rupanya hanya satu hal yang mereka pikirkan, yaitu menyelamatkan diri. Dengan menyelinap di balik bukit-bukit serta pohon-pohonan musuh berhasil masuk ke kecamatan Sooko, di lereng barat gunung Wilis, termasuk wilayah Kabupaten Ponorogo. Di desa Sooko ini pasukan Maladi Jusuf yang berjumlah lebih kurang 1.000 orang dengan persenjataan lengkap menyusun pertahanan di desa Sooko. Desa Sooko, terletak 33 kilometer sebelah Timur Ponorogo penduduknya sudah dipengaruhi oleh komunis yang dipimpin oleh seorang warok bernama Mugeni Kamplok.[6]

Pasukan Maladi Jusuf juga mendapat bantuan dari Detasemen Subardi dari Pesindo dan pasukan dari batalyon Panjang Djokoprijono. Subardi adalah bekas pimpinan Intelijen (penyelidik) Markas Besar PRI Surabaya sebelum menjadi Pesindo. Pasukan Subardi dikenal sebagai pasukan yang selalu membunuh tawanannya sekalipun belum tentu bersalah. Pasukannya dikenal dengan nama P-10. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pasukan Maladi Jusuf telah membuat pertahanan yang cukup kuat di desa Sooko, tepatnya di dusun Dalangan di Punthuk, yang dikenal dengan Thuk Ungkal. Di sini ditempatkan 5 (lima) pucuk senapan mesin berat 12,7.[7]

Bekas rumah Wakil Asisten Wedana (camat) di desa Sooko dijadikan Markas Komando Batalyon Maladi Jusuf Pemilik rumah telah dibunuh oleh anak buah Mugeni Kamplok. Markas itu kemudian ditandai dengan bendera merah dengan gambar palu arit yang dikibarkan di depan markasnya.

Untuk melumpuhkan lawan yang kuat tersebut Lettu Sumadi menempuh upaya lain. Ia mengirimkan surat kepada Subardi yang telah dikenalnya sebagai teman sekampung, agar ia menyerahkan diri. Ternyata surat itu tidak ditanggapi. Keadaan tegang mencekam hati setiap prajurit Kompi Sumadi. Akhirnya serangan dibuka oleh Kompi Sumadi dari Thuk Puyangan selagi fajar belum menyingsing. Dengan semangat dan moral yang tinggi anggota pasukan Kompi Sumadi maju menerobos pertahanan lawan. Rupanya pertahanan Maladi Jusuf cukup tangguh, sehingga terjadi pertempuran yang berlangsung lama, yaitu sejak fajar hingga sore hari. Kompi Sumadi belum berhasil mematahkan pertahanan lawan, sekalipun pertahanan itu dihujani tembakan senapan mesin berat 12,7. Untunglah bantuan pasukan segera datang.

Bantuan pasukan yang berkekuatan satu kompi diperkuat, dipimpin Kapten Sabirin Muchtar dari Batalyon Mudjajin baru tiba dari Pagerwaja, setelah menyelesaikan penyerangan terhadap kedudukan PKI di sana. Kekuatan kini menjadi tidak berimbang lagi. Oleh karena itu pertempuran segera berakhir dengan direbutnya Sooko dari tangan PKI.[8] Sisa-sisa pasukan Maladi Jusuf melarikan diri ke jurusan desa Dalangan dan Biting. Pengejaran terhadap pasukan musuh terus dilakukan sehingga pertempuran berlangsung terus. Sampai di Biting musuh berpencar ke dua jurusan. Sebagian menuju Ponorogo, sebagian lagi menuju Pulung. Untuk mengikuti jejak lawan, maka pasukan Sumadi dan Sabirin Muchtar berpencar. Kompi Sumadi bergerak menuju Pulung lewat Bedrug, sedang kompi Sabirin Muchtar bergerak menuju Ponorogo.[9]

Sementara itu kompi lain dari batalyon Mudjajin yang telah berada di Trenggalek melanjutkan gerakannya menuju Ponorogo. Guna mencegah timbulnya kesalah fahaman antara pihak kawan sendiri, terutama dalam hal kontak senjata, maka Komandan Brigade 2 mengatur rute perjalanan. Batalyon Mudjajin hanya melalui jalan besar. Dari Trenggalek Batalyon Mudjajin berangkat melalui Sawo terus ke Ponorogo. Rupanya sebelum pasukan ini masuk ke dalam kota Ponorogo, kota ini telah dapat dikuasai oleh pasukan dari Siliwangi, yang sebelumnya telah dapat menguasai kota Madiun. Untunglah sebelum masuk Ponorogo, Batalyon Mudjajin telah mendapat informasi tentang jatuhnya kota Ponorogo ke tangan Siliwangi sehingga bentrokan sesama kawan dapat dihindarkan.

Usaha Kompi Sumadi untuk menguasai Pulung harus dilalui dengan pertempuran yang sengit. Pulung berhasil diduduki bersamaan waktunya dengan jatuhnya Ponorogo ke tangan pasukan Pemerintah. Selesai menguasai Pulung, Sumadi membawa pasukannya menuju Ponorogo untuk menggabungkan diri dengan Mudjajin. Di sini perintah tugas-tugas baru dari setiap satuan disusun dan kemudian di sampaikan kepada para Komandan Kompi. Saat itu kota Ponorogo penuh dengan pasukan-pasukan Pemerintah RI, baik dari Siliwangi, Brigade 2 maupun dari Brimob Polri. Pasukan Brimob Polri dipimpin oleh Inspektur Polisi II Imam Bachri yang telah berhasil memasuki kota Madiun pada tanggal 30 September 1948 dari utara.

Sementara itu setelah Madiun dan Ponorogo direbut oleh TNI, para pimpinan PKI lari menyelamatkan diri. Dalam perjalanan melarikan diri, Musso dan Amir Sjarifuddin dilindungi oleh sejumlah besar pasukan PKI. Semula kedua tokoh pemberontak itu melarikan diri ke arah timur, menuju Dungus, karena pasukan Siliwangi datang dari arah barat. Namun rupanya dari arah timur (Sawahan) Kompi Sampurno yang lebih dikenal dengan sebutan kompi “Macan Kerah” telah mendekati Dungus. Oleh karena itu rombongan pelarian musuh tersebut segera membelok ke selatan menuju lereng barat daya Gunung Wilis. Dari sana mereka berusaha merebut Ponorogo dengan pengerahan segenap kekuatan. Mereka melakukan konsolidasi dan konsentrasi pasukan untuk mendapatkan daya pukul yang besar. Sisa-sisa pasukan yang tersebar dihubungi dan dihimpun untuk melaksanakan serangan ke Ponorogo.

Di tengah-tengah upaya menghubungi sisa-sisa pasukannya inilah rahasia mereka bocor. Dua orang kurir PKI yang ditugasi menghubungi Komandan Batalyon Pesindo yang berada di Jenangan bernama Durachman telah membuat kesalahan fatal, karena salah alamat menyampaikan surat. Surat yang berisi rencana serangan umum PKI ke Ponorogo telah jatuh ke tangan Komandan Brimob di Jenangan. Kedua kurir itu tidak mengetahui bahwa Jenangan telah diduduki oleh pasukan Brimob (Polri), yang secara kebetulan nama Komandannya bernama Abdulrachman. Isi surat tersebut adalah Surat Perintah dari Amir Sjarifuddin yang isinya antara lain:

“pada hari malam Jum’at Wage, adalah saat yang baik untuk mengadakan serangan umum terhadap kota Ponorogo dan membinasakan anjing-anjing Belanda. Serangan Umum akan dipimpin oleh Jenderal Mayor Djokosujono, didukung oleh Batalyon Panjang, Batalyon Maladi Jusuf, Batalyon Sidik Arselan, Batalyon Durachman dan Mussofa”.[10]

Dengan jatuhnya surat rahasia tersebut ke tangan pasukan Pemerintah, maka rencana serangan umum oleh PKI ke Ponorogo bocor tanpa diketahuinya.

Pagi hari tanggal 8 Oktober 1948 dengan kekuatan yang terdiri dari Batalyon Panjang, Batalyon Maladi Jusuf, Batalyon Durachman, Batalyon Mussofa dan Batalyon Sidik Arselan kota Ponorogo diserang dari arah timur. Komando dipegang sendiri oleh Djokosujono, yang menjabat Gubernur Militer Madiun. Serangan PKI mulai dilancarkan pada pukuI 03.00 dinihari. Pasukan yang berada di lambung kanan melalui Kanten bersama kekuatan di poros langsung menerobos kota Ponorogo sedangkan pasukan di lambung kiri menyerang dari jalan ke Slahung.[11]

Pasukan Polri yang telah mengetahui rencana serangan ini menyiagakan pasukannya di luar kota Ponorogo, untuk menghindari jatuhnya korban di kalangan penduduk di samping menghin dari pertempuran dalam kota. Di bawah pimpinan Inspektur Polisi II Imam Bachri, pasukan Brimob Polri berhasil menahan serangan lawan. Rupanya kekuatan Polri dan kekuatan lawan seimbang. Pertempuran sengit yang berlangsung hingga sore hari. Meskipun demikian belum ada fihak yang kalah. Guna segera mengakhiri pertempuran dengan cepat, Inspektur Imam Bachri memerintahkan Pembantu Inspektur Polisi Jusuf Djajengrono bersama pasukannya ke luar dari kubu pertahanan, bergerak melambung dan memukul musuh dari belakang.[12]

Taktik ini ternyata berhasil mengacaukan kedudukan musuh, dan memaksa mereka mundur ke selatan menuju Balong. Pengejaran terus dilakukan sampai Slahung dan Tegalombo. Di sini telah menunggu pasukan Divisi Siliwangi, sehingga tugas diambil alih oleh mereka. Sementara itu pasukan dari Kompi Sumadi yang telah bergabung dengan Batalyon Mudjajin di Ponorogo menerima tugas baru untuk mengadakan pembersihan di daerah Somoroto dan Sampang. Selesai mengadakan pembersihan di daerah tersebut, kompi ini mendapat tugas lagi menyerang kedudukan lawan di Badegan. Rupanya pertahanan lawan di sini cukup kuat, sehingga sukar diterobos. Bahkan Kompi Sumadi terpaksa mundur dari Badegan ke Ponorogo.[13]

Di bagian lain, dalam rangka membersihkan sisa-sisa pelarian musuh, Batalyon Mudjajin mengirimkan sebagian pasukannya ke Mlarak. Di sini pasukan Mudjajin bertemu dengan Kompi Sabirin Mochtar yang lebih dulu telah berada di sana. Pengejaran ke Mlarak berhasil mengusir musuh. Lawan yang telah berkurang kekuatannya ini melarikan diri. Dari Mlarak Kompi Sabirin Mochtar mendapat tugas untuk menggerakkan pasukannya menuju Somoroto. Dalam perjalanan ke Somoroto ini diperoleh informasi adanya rombongan lawan yang lari menuju Gunung Gambes.[14]

Rupanya sebagian pasukan PKI yang telah tercerai berai itu ada yang sempat meloloskan diri ke Gunung Gambes, daerah Nawangan (Pacitan). Menurut informasi yang diterima, Musso dan Amir Sjarifuddin berada dalam rombongan itu. Kapten Sabirin Mochtar memperkirakan rombongan ini tidak akan tinggal di Gunung Gambes, melainkan akan menuju ke utara, jurusan Sarangan. Oleh karena itulah Kapten Sabirin Mochtar segera mengambil keputusan untuk membagi pasukannya. Sebagian dari kompinya ditinggalkan di Somoroto dan sebagian lagi dibawanya menuju Gunung Gambes untuk mengejar lawan. Sesuai dengan perkiraan tersebut, Kapten Sabirin Mochtar menghadang musuh di sebelah utara Gunung Gambes. Sehingga rute yang di tempuhnya ialah Somoroto ­Purwantoro – Gunung Gambes. Namun sesampai di sana, ternyata musuh telah melarikan diri.

Sementara itu pasukan TNI yang berada di sekitar Ponorogo memperoleh informasi, bahwa telah terjadi perselisihan pendapat antara Musso dan Amir Sjarifuddin. Perpisahan antara kedua tokoh komunis tersebut tidak dapat dihindarkan lagi. Amir Sjarifuddin dengan pengawalan yang ketat meninggalkan Gunung Gambes menyusuri pegunungan Sewu menuju ke selatan, kemudian menuju ke Tegalombo terus ke Pacitan. Dari Pacitan mereka menuju ke Kismantoro dan turon ke Purwantoro. Di sini mereka bertemu dengan pasukan TLRI di bawah pimpinan Jadau yang mundur dari Solo, sehingga pasukan pengawal Amir Sjarifuddin bertambah kekuatannya.

Atas saran Jadau, mereka bergerak ke barat, maksudnya untuk mencapai Wonogiri. Akan tetapi usaha ini gagal karena Wonogiri telah dikuasai TNI. Mereka kembali ke Purwantoro, membelok ke kiri mendaki kaki Gunung Lawu. Melalui desa Jeruk, Ngerte, Watusono dan Kabang di pegunungan kapur yang tandus, Amir Sjarifuddin dan pengikutnya yang berjumlah lebih kurang 2.000 orang ini bergerak dengan pengawalan oleh pasukan Pesindo, di depan, belakang, lambung kiri dan kanan. Di Kabang, rombongan sipil yang dipimpin Abdul Muntalib “Residen” Madiun, terpisah dari induk pasukannya. Pada tanggal 5 November 1948 Girimarto, Abdul Muntalib dan Sritin (Sekretarisnya, anggota Pesindo) tertangkap. Sedangkan Amir Sjarifuddin melalui Tawangmangu di kaki Gunung Lawu bermaksud hendak bergabung dengan pasukan TLRI di bawah pimpinan Sujoto yang menurut berita masih menguasai Purwodadi.

Baru saja tiba di Tawangmangu, mereka diserang oleh Batalyon Sambas. Sebagian dari mereka lari ke selatan, tapi Amir Sjarifuddin berbelok ke kanan menuju Sarangan, yang sepi dari penjagaan. Kemudian mereka bergerak ke utara lewat Ngrambe dan Walikukun. Sementara itu Musso bersama pengiringnya masih berada di daerah Gunung Gambes.

Terbaginya pasukan pengawal yang melindungi pimpinan PKI, mengakibatkan semakin berkurangnya personil pasukan tersebut. Untuk menutup kekurangan personil ini, PKI memaksa pemuda dan penduduk desa di daerah Gunung Gambes tersebut untuk menjadi anggota pasukan pemberontak. Dengan penuh ketakutan para pemuda dan penduduk desa menuruti apa yang di perintahkan di bawah todongan laras senjata. Orang-orang inilah yang dijadikan perisai untuk menghadapi TNI. Jika ada operasi-operasi militer yang dilancarkan oleh TNI, pasukan dan tokoh-tokoh PKI berlindung di balik perisai tersebut. Akibatnya banyak korban berjatuhan di kalangan orang-orang yang tidak berdaya tadi. Dengan demikian lama – kelamaan makin berkurang perisai dan pengawal pimpinan PKI.

Kompi Sumadi sekembalinya dari Badegan beristirahat di Ponorogo dan kemudian ditetapkan sebagai kompi cadangan. Mereka kemudian diperintahkan untuk mempertahankan Balong dari serangan lawan. Ketika bertugas di Balong, Komandan batalyonnya Kapten Sunandar memberitahukan, bahwa akan mengadakan peninjauan ke garis depan. Letnan Sumadi segera pergi ke Ponorogo dengan maksud menjemput Komandannya Kapten Sunandar. Dalam perjalanannya kembali ke Balong rombongan yang terdiri dari Komandan Batalyon Kapten Sunandar, Komandan Kompi I Kapten Supono, Sersan Mayor Sutadji dan Prajurit Nawawi lewat Somoroto dengan mengendarai sedan yang dipasang bendera Komandan Batalyon. Tujuan pertama dari peninjauan ini adalah memeriksa kedudukan Peleton Martawi di Somoroto.

Di Semanding mereka berpapasan dengan seseorang yang mengendarai dokar (bendi). Rupanya dokar itu baru saja dirampas dari pemiliknya di Balong. Begitu melihat kendaraan dengan bendera Komandan Batalyon, kusir bendi (yang kemudian dikenal sebagai Musso) mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah rombongan Kapten Sunandar. Mobil di hentikan, namun mesin tidak dimatikan, semua penumpangnya turun, dan berlindung di pinggir jalan. Prajurit membalas tembakan. Tembakan meleset mengenai kuda yang roboh seketika. Kusir dokar jatuh tersungkur dan lari menuju mobil yang telah ditinggalkan penumpangnya. Ia masuk ke dalam mobil untuk mengambil peluru kaliber 32 milik Kapten Sunandar, dan berusaha untuk menjalankan mobil tersebut. Mobil tersebut tidak dapat berjalan, bahkan mesinnya mati. Rupanya ia tidak mengetahui rem yang sengaja dipasang oleh pemiliknya.

Usaha untuk menghidupkan mobil dengan starter tidak berhasil. Segera ia lari ke luar dari mobil dan tembak-menembak dengan rombongan Kapten Sunandar berlangsung lagi. Dalam situasi demikian Lettu Sumadi memerintahkan Sersan Mayor Sutaji untuk memanggil pasukan cadangan peleton Mustadjab di Somoroto. Sementara itu ia mengadakan tembakan pengikatan. Tidak lama kemudian pasukan cadangan yang berkekuatan satu regu dipimpin oleh Letnan Dua Mustadjab tiba. Mereka datang ke Semanding dengan naik dokar. Segera regu diperintahkan untuk mengadakan pengepungan.

Sebelumnya Lettu Sumadi telah mengambil senjata Lewis milik Kopral Mik, salah seorang anggota regu tersebut. Musso merasa tidak bisa berkutik lagi. Ia lari meloloskan diri sambil melepaskan beberapa tembakan. Lettu Sumadi mengejarnya. Musso berlindung di blandongan (tempat mandi yang sederhana) milik seorang penduduk Semanding pada tanggal 31 Oktober 1948[15] terjadi tembak-menembak dalam jarak dekat antara Musso dengan Lettu Sumadi. Musso mati terkena tembakan Lettu Sumadi.

Mayat Musso segera dibawa ke luar dari kamar mandi. Rakyat berkerumun dan berebut ingin mencincangnya. Namun kemarahan tersebut dapat diredakan oleh Lettu Sumadi. Peristiwa tertembak matinya, Musso segera dilaporkan kepada Komandan Batalyon taktisnya Mayor Mudjajin, tetapi laporan diterima oleh Wakil Komandan Batalyon Kapten D. Sumartono. Ia segera datang ke Somoroto.

Sementara itu jenazah Musso diangkut dari Semanding ke Somoroto dengan dokar, untuk dicocokkan identitasnya. Beberapa tawanan PKI didatangkan oleh Kapten D. Sumartono untuk mengenali jenazah tersebut. Mereka tidak ada yang menyangkal bahwa itu benar Musso. Untuk lebih meyakinkan lagi, dikirimkan foto jenazah tersebut kepada Komandan Brigade 2. Oleh Komandan Brigade 2 foto tersebut diteruskan kepada Gubernur Militer Jawa Timur dan kemudian diteruskannya kepada Presiden Soekarno.

***

[1] Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2] Brigade XXIX (susunan lama) di bawah pimpinan Letnan Kolonel Dahlan, terdiri atas Batalyon campuran yang berasal dari pelbagai kelaskaran di Jawa Timur. Antara lain Batalyon Maladl Jusuf yang berasal dari Pesindo, Batalyon Sumarsono berasal dari Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dan Batalyon Mansur Solikhi berasal dari Hizbullah termasuk dalam jajaran Brigade XXIX.Penulisan brigade dengan angka Romawi untuk menunjukkan bahwa Brigade tersebut berasal dari gabungan Laskar-Iaskar.

[3] Tentang Atmaji lihat, Bahaya Laten Komunisme Di Indonesia, Jilid I.

[4] Kisah Sejarah Singkat Kompi Sumadi pada .Penumpasan PKI Madiun”.

[5] Ibid

[6] Wawancara dengan Bapak Gunadi, Bapak Sukidjan, dan Bapak Harijadi di desa Sooko,tanggal 26 September 1991

[7] Istilah lokal untuk bukit adalah Punthuk, yang disingkat menjadi Thuk, Wawancara dengan Bapak Gunadi, Bapak Sukidjan, dan Bapak S. Harijadi di desa Sooko, tanggal 26 September 1991.

[8] Idem

[9] Kisah Sejarah Singkat Kompi Sumadi, op. tit

[10] Pinardi, op. cit., ha1.134.

[11] MadiunAffair, tangga118-9-1948, dokumen.

[12] Wawancara dengan Brigjen Pol. Jusuf Djajengrono, Jakarta, 13 April 1976

[13] Wawancara dengan Mayjen (Pur) Sumadi, Jakarta, 13 April 1976

[14] Wawancara dengan Mayjen (Pur) Sarbirin Mochtar, Jakarta, 11 Mei 1976

[15] Kisah Sejarah Singkat Kompi Sumadi pada Penumpasan PKI Madiun, dokumen.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*