PARMAN BAGAIMANA NASUTION ITU?

PARMAN BAGAIMANA NASUTION ITU? [1]

 

3 Maret 1963

 

Kurang lebih 10 hari yang lampau saya lupa menanyakan kepada pembawa kabar tanggal berapa persis Presiden Sukarno mengadakan pembicaraan dengan Brigjen S. Parinan, Kepala Bagian Intelijen pada MBAD. Empat jam lamanya mereka berbicara dan hampir tiga jam darinya melulu mengenai Jenderal A.H. Nasution. Sukarno ingin tahu dari Parman bagaimana Nasution itu, bagaimana pengaruh Nasution di kalangan Angkatan Darat. Katanya Sukarno tidak puas dengan Nasution dan ada tiga sebab untuk ketidakpuasan itu.

Pertama, sikap Nasution bertalian dengan soal “GAS” (Gerakan Anti Sukarno). Ketua PKI Aidit pernah  menulis surat kepada Nasution dalam kedudukannya selaku wakil Peperti dan meminta perhatiannya terhadap “GAS” selanjutnya mengambil tindakan terhadap “GAS”. Akan tetapi Nasution dalam kedudukannya selaku wakil Front Pembebasan Nasional Irian Barat membahas surat Aidit itu dan mengatakan tidak ada alasim buat bertindak terhadap “GAS” oleh karena “GAS” tidak ada. Sebagai akibat ini Aidit menjadi marah dan ia menulis surat kepada Presiden membentangkan hal ihwal tadi.

Kedua, sikap Nasution bertalian dengan nota ekonomi yang ditulisnya beberapa waktu yang lalu kepada Presiden. Dalam nota tersebut nasution mempersoalkan keadaan ekonomi keuangan yang memburuk sekarang ini dan ia mengkritik sikap para pemimpin yang tidak memperlihatkan kepemimpinan moral yang terpuji dari sudut kesusilaan. Sukarno sendiri kabarnya merasa terkena oleh kritik Nasution itu.

Ketiga, sikap Nasution dan istrinya bertalian dengan Nyonya Hartini Sukarno. Nasution dan istrinya tidak pernah mau datang ke Istana Bogor apabila ada Nyonya Hartini di sana. Sukarno mengeluh mengapa Persit (Persatuan Istri Tentara) turut campur dalam perkawinan orang lain. Ia mendengar Persit yang akan mengadakan kongres telah meminta  untuk  melihat-lihat Istana Bogor akan tetapi di sana nanti para istri Tentara itu akan lalu lewat saja seolah-olah Nyonya Hartini tidak ada.

Maka ketiga soal tersebut yaitu soal “GAS”, soal nota ekonomi dan soal Hartini menjadi bahan bagi Presiden untuk dibicarakan dengan S. Parman mengenai Nasution. Kemudian Brigjen S. Parman segera melaporkan pembicaraannya kepada Presiden dalam sebuah rapat khusus staf MBAD.

Staf MBAD menasihatkan kepada Nasution untuk bersikap lebih luwes alias soepel terhadap Presiden. Mengenai maksud Persit hendak melakukan ekskursi ke Istana Bogor, staf MBAD spesial memanggil wakil Persit dan menanyakan apakah cerita Presiden itu benar. Ternyata hal itu tidak benar adanya. Seorang brigjen pun ditugaskan memberitahukan nasihat tadi kepada Jenderal Nasution. Ternyata ia mau menurut dan lantas menulis sepucuk surat kepada Presiden tuk mengucapkan Selamat Hari Raya ldul Fitri 1382 H dan sekaligus menanyakan bilakah ia dapat bertemu dengan Presiden.

Tatkala diadakan Halal Bihalal di Istana Negara, Presiden berkata kepada Nasution :

“Zeg Nas, wanneer komt je bij mij lunchen?(Hei Nas, kapan kau datang makan siang dengan aku?).

Setelah terjadi hal ini, maka kembali staf MBAD mengadakan rapat khusus untuk membicarakan apa yang harus diperbuat oleh Nasution. Sebab “lunchen bij mij (makan siang di tempatku) berarti Nasution diundang datang ke Istana Bogor di mana Hartini hadir dan sudah barang tentu Nasution harus membawa serta pula istrinya. Nasution sendiri bersedia pergi ke Bogor dan duduk bersama dengan Hartini akan tetapi dia mengatakan :

Ik kan mijn vrouw niet dwingen” (saya tidak dapat memaksa istri saya).

Oleh karena soalnya terlalu penting dan menyangkut posisi Tentara, maka staf MBAD telah membicarakan soal tersebut. Maka kembali seorang brigjen ditugaskan menghubungi Nyonya Zus Nasution untuk meyakinkan dia “er staan te veel dingen op het spel” (terlalu banyak hal yang jadi pertaruhan). Jadi kepergian Zus Nasution bersama suaminya ke Istana Bogor dianggap perlu.

Sementara itu seorang kolonel mengatakan kepada saya apa yang dilaporkan oleh Brigjen S. Parman mengenai materi pembicaraannya dengan Presiden adalah benar semuanya. Tetapi arti pembicaraan tersebut lain adanya. Menurut kolonel tadi, pembicaraan itu harus diteropong pula dari sudut usaha Presiden dewasa ini meraba-raba dan mencari tahu bagaimana kedudukan Nasution sebab pada Presiden ada pikiran untuk menjadikan Nasution sebagai Meriteri Pertama menggantikan Djuanda.

“Kabinet Nasakom tidak bakal jadi. Itu hanya permainan belaka dari Presiden. Nasution lagi disoroti kemungkinannya untuk menjadi Menteri Pertama ,” ujar Kolonel.

Jika versi kolonel ini benar, saya hanya bertanya mengapa Parman tidak melaporkan kepada MBAD bahwa serungguhnya nada serta inti pembicaraannya dengan Presiden menyinggung soal Presiden lagi mencari seorang calon untuk Menteri Pertama  juga bahwa Nasution sedang ditimbang dan disoroti? (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 340-343.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*