PARLEMEN BELANDA MENERIMA PERSETUJUAN NEW YORK

PARLEMEN BELANDA MENERIMA PERSETUJUAN NEW YORK [1]

 

10 September 1962

Setelah beberapa waktu lalu DPR-GR menyatakan persetujuannya terhadap persetujuan Indonesia-Belanda di New York mengenai penyelesaian masalah Irian Barat, kini Tweede Kamer Belanda juga memutuskan menerima baik persetujuan New York tadi dengan 127 suara setuju dan 9 suara menentang.

Pada perdebatan dalam Tweede Kamer tanggal 7 September lalu PM De Quay menjelaskan mengapa Belanda menerima kebijaksanaan politiknya. “Sesudah Amerika Serikat berbalik haluan dan Indonesia mendapat banyak bantuan senjata dari Uni Soviet, demikian pun mendapat kiriman pesawat-pesawat terbang dan senjata dari Amerika Serikat, maka satu-satunya kemungkinan yang ada bagi Belanda ialah menerima diadakannya perundingan dan ini atas dasar Usul Bunker,” demikian De Quay Menteri Luar Negeri Joseph Luns tetap menyalahkan Amerika Serikat.

Ia mengatakan, “Politik AS sekarang ini merugikan negara-negara Barat .”

Di daratan Irian Barat kini sejak beberapa waktu yang lalu ditempatkan sebuah misi penghubung (liaison) militer Indonesia yang dipimpin oleh Brigjen Achmad Wiranatakusumah untuk bersama-sama Brigjen Rikhye, penasihat militer Sekjen PBB menyelesaikan soal-soal yang bertalian dengan penghentian tembak-menembak (ceasefire). Sedangkan di dalam negeri pendapat umum mulai disiapkan untuk usaha pembangunan yang harus dikerjakan setelah soal keamanan dan Irian Barat selesai tampaknya.

Dalam pidato tanggal 17 Agustus lalu Presiden Sukarno menamakan tahun 1962 ini The Year of Triumph atau Tahun Kemenangan. Betapa tidak? Keamanan sudah pulih (pemimpin gerombolan D.I. Kartosuwiryo tanggal 16 Agustus telah dijatuhi vonis hukuman mati), Irian Barat akan kembali ke dalam wilayah RI (setelah ditandatangani persetujuan Indonesia-Belanda di PBB pada bulan Agustus). Kini hanya soal sandang pangan yang harus diselesaikan dan Presiden berjanji akan menyelesaikannya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 252-253.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*