“ORANG-ORANG PSI MEMBANTU SUBANDRIO”

“ORANG-ORANG PSI MEMBANTU SUBANDRIO” [1]

 

 

23 Maret 1963

 

Gunung Agung di Bali bekerja lebih hebat daripada sebelumnya pada tanggal 17 Maret, maka akibatnya terjadi hujan batu dan daerah Karangasem dan kotanya dilanda oleh banjir. Beribu-ribu orang mengungsi di Bali. Di Jawa timur, Bandung dan juga di Jakarta sebentar turunlah hujah abu. Keadaan dernikian gawatnya sehingga Bali dinyatakan sebagai daerah yang ditimpa oleh bencana alam nasional.

 

Untuk mengatasi “bencana ekonomi” Musyawarah Pimpinan Negara di bawah pimpinan Presiden bersidang terus rnenerus yaitu pada tanggal 7, 13 dan 20 Maret. Sidang itu memhentuk panitia-panitia seperti “Panitia 13”, “Panitia 7”. “Panitia 13” menyusun sebuah perumusan tentang dasar-dasar strategi rnengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi keuangan. Saya baca di situ di antaranya “pemerintah tidak akan mengadakan evaluasi”.

Selain perumusan “Panitia 13” tadi, maka Dr. Subandrio memajukan nota ekonominya sendiri yang dinamakannya Manifes Ekonomi dan yang diterima baik oleh Presieden. Dalam menyusun nota ekonominya itu Subandrio memperoleh bantuan dari pihak kawan-kawan saya yang pada tanggal 6. Maret lalu menyusun sebuah makalah atau kertas kerja untuk dipergunakan oleh Subandrio.

Walaupun saya bukan ahli ekonomi,toh say ikut serta ketika menyusun makalah tadi. Saya lihat tiga pokok pikiran dari makalah itu diambil  oleh Subandrio dan dituangkannya ke dalam Manifes Ekonominya yakni:

  1. Perlunya lebih mengakui kedudukan dan peranan swasta dalam rangka kegiatan ekonomi Indonesia ;
  2. Perlu adanya debirokratisasi;
  3. Perlu adanya desentralisasi dalam manajemen .

Subandrio mengatakan kepada Koko bahwa Presiden telah menerima Manifes Ekonominya itu yang mempunyai kedudukan sebagai asas strategis dalam menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi keuangan sedangkan perumusan “Panitia 13” akan dijadikan bahan dalam pelaksanaan.

Dalam sidang Musyawarah Pimpinan Negara tanggal 20 Maret yang lalu rupanya terdapat keberatan menamakan nota Subandrio tadi Mamifes Ekonomi. Maka diputuskan oleh Presiden menamakannya saja Deklarasi Ekonomi yang pada waktu yang.tepat nanti akan dibacakan oleh Presiden di depan umum.

Lalu dibentuklah sebuah “Panitia 7” di mana Djuanda tidak turut serta dan hal itu menandakan kedudukannya tidak begitu kukuh lagi? yang ditugaskan buat menyempurnakan lebih jauh perumusan yang terdapat dalam Manifes Ekonomi Subandrio itu. Subandrio sendiri tampaknya di hari-hari belakangan ini gembira terus, penuh kepercayaan kepada diri sendiri bahwa dialah akhirnya yang akan dijadikan Menteri Pertama.

Dalam masyarakat politik di Jakarta tersiarlah kabar “orang-orang bekas PSI aktif membantu Subandrio dalam menyusun nota ekonominya”. Ketika saya bercakap-cakap dengan Zairin Zain, Duta Besar RI di Washington di rumah seorang diplomat Amerika di Jakarta baru-baru ini, maka Zain menyinggung soal tersebut. Jullie membantu Subandrio, yah?” tanyanya.

Memang benar hal itu, akan tetapi makalah yang disusun oleh kawan-kawan saya itu selain kepada Subandrio juga terus diberikan kepada Jenderal Yani dan dengan demikian pimpinan Tentara mengetahui bagaimana duduk perkaranya sekitar hal “orang-orang PSI membantu Subandrio”.

Subandrio sendiri di pihaknya tampaknya hendak mengecilkan arti serta sumbangan kawan-kawan saya dalam penyusunan nota ekonominya yang telah diterima baik oleh Presiden. Ia suka mengatakan “bukan saja dari orang-orang PSI tapi juga dari Aidit” ia mendapat bahan-bahan pertimbangan.

Sementara itu Subandrio agak terkejut tampaknya ketika kemarin Koko mengatakan kepadanya kini tersiar kabar jabatan Menteri Pertama tidak bakal diadakan lagi setelah reshuffle kabinet nanti. Jadi di bawah Presiden yang menjabat Perdana Menteri langsung terdapat para Wampa yang sekarang. Dengan begitu hendak dihindari kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul apabila Subandrio dijadikan Menteri Pertama.

Juga tersiar Hutomo Supardan dari DKI yang namanya sering disebut untuk menjadi Menteri Keuangan telah diputuskaN diangkat sebagai salah seorang direktur Bank Pembangunan. Apakah ini berarti secara elegant Presiden hendak mengurungkan terbentuknya Kabinet Nasakom? Wallahu’alam.

Akan tetapi beberapa waktu lalu Duta Besar H.oward P. Jones berbicara dengan. Presiden dan Jones menjelaskan Amerika akan menghentikan semua bantuannya kepada Indonesia apabila dua hal dilakukan oleh RI, yaitu pertama membentuk Kabinet Nasakom di mana PKI turut duduk di dalamnya, kedua mengadakan aksi militer di Kalimantan Utara yang kini gawat sebagai akibat masalah Malaysia. Jones mempunyai kesan dari pertemuannya itu Presiden Sukarno mengindahkan pendirian Amerika Serikat tadi.

Pada tanggal 25 Maret yang akan datang Menteri Pertahanan Uni Soviet Marsekal Malinovski berkunjung resmi ke Indonesia. Tentunya pula kunjungannya itu mengandung maksud mengukur sendiri keadaan Indonesia dan kemungkinan arab perkembangan Indonesia.

Dari luar negeri sampai berita tentang kudeta di Siria pada tanggal 8 Maret yang lalu. Kudeta yang berhasil itu dilancarkan oleh partai Baath (Sosialis Arab) yang bersekutu dengan para perwira nasionalis non-partai serta didukung oleh kaum cendekiawan. (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 351-354.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*