Operasi Terhadap Sisa-sisa PKI di Kalimantan Barat

Operasi Terhadap Sisa-Sisa Kekuatan PKI (2): Operasi Terhadap Sisa-sisa PKI di Kalimantan Barat [1]

 

Setelah gagalnya pemberontakan G30S/PKI yang bertujuan untuk menggulingkan Pemerintah RI yang sah, maka sebagai konsekuensinya PKI dinyatakan sebagai partai terlarang dan dibubarkan. Upaya pemerintah selanjutnya adalah mengadakan penumpasan di seluruh pelosok tanah air. Khususnya di daerah Kodam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat, telah dilaksanakan operasi penumpasan melalui Operasi Tertib I, Operasi Tertib II, Operasi Sapu Bersih I, Operasi Bersih II dan Operasi Bersih III.

Operasi penumpasan yang dilaksanakan secara gabungan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Hal ini terbukti karena belum semua tokoh PKI di wilayah Kalimantan Barat dapat ditangkap. Sekali pun operasi ini telah dilaksanakan sejak tahun 1966 sampai tahun 1973, namum salah seorang tokoh utama PKI di Kalimantan Barat bernama S.A. Sofyan alias Tai Kao, ketua CDB Kalimantan Barat ternyata masih belum berhasil tertangkap.

Ketika mulai diadakan operasi penumpasan terhadap PKI oleh Operasi Gabungan ABRI, S.A. Sofyan bersama Wong Hon salah seorang anggota Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) berhasil melarikan diri dan kemudian membentuk pasukan yang diberi nama “Pasukan Bara”. Pasukan ini berlokasi di Bukit Bara, bagian timur Kabupaten Sambas yang beranggotakan 90 orang PKI dan 60 orang dari PG RS di bawah pimpinan S.A. Sofyan.

Pada tanggal 17 Juni, S.A. Sofyan dengan pasukan Bara yang dibantu oleh Wong Hon, The Wa Sa mengadakan penyerangan terhadap Pangkalan Udara Singkawang, milik AURI di Sanggau Ledo. Penyerangan yang dilaksanakan secara mendadak itu berhasil merampas senjata api sejumlah sekitar 150 pucuk, terdiri atas berbagai jenis/merek antara lain Getmi, LE, serta sejumlah amunisi dan membunuh empat orang anggota AURI yang sedang jaga.

Peristiwa ini merupakan pukulan berat bagi Kodam XIII Tanjungpura, khususnya AURI. Kejadian ini sangat disesalkan, karena dengan hilangnya ratusan senjata tersebut akan membuat PKI semakin bertambah kuat persenjataannya.

Peristiwa tersebut memberikan gambaran bahwa hasil pelaksanakan Operasi Gabungan ABRI saat itu yang diprakarsai oleh Kodam XII/Tanjungpura belum memenuhi target sesuai yang diharapkan. Kekurang berhasilan tersebut merupakan cambuk untuk mengadakan koreksi penyempurnaan ke depan pada pelaksanaan operasi berikutnya.

Sejak itu situasi mulai berubah, setelah secara nasional dirasakan adanya ancaman bahaya yang akan timbul dari gerombolan sisa­-sisa PKI, dan perhatian serius semakin tertuju kepada masalah tersebut, terutama setelah tanggal26 hingga 28 Juli 1967 Presiden Soeharto sendiri memimpin rapat Penguasa Daerah/Pangdam se­Indonesia di Istana Negara yang dihadiri pula oleh Pangdam XII/Tanjungpura Brigjen TNI Ryacudu. Dalam laporannya Pangdam XII/Tanjungpura mengatakan bahwa setelah Peristiwa Sanggau Ledo, maka keadaan berubah, secara strategis maupun taktis kita dalam keadaan defensif.

Laporan Pangdam XII/Tanjungpura tersebut, ditanggapi secara serius dari Pemerintah Pusat. Secara berangsur-angsur pelaksanaan operasi militer diperkuat dan jumlah personelnya mencapai 4.000 orang. Pasukan tersebut didatangkan dari Pusat antara lain adalah sebagai berikut :

a. 1 Ki Passuad/RPKAD, tiba di Pontianak tanggal 22 Juli 1967.

b. 1 Ki Kopasgat/ AURI, tiba di Pontianak tanggal 11 Agustus 1967.

c. Group De Piad, tiba di Pontianak tanggal 26 Agustus 1967.

d. 1 Yon Para R.600, tiba di Pontianak tanggal 11 September 1967.

e. 1 Ki Zipur 6, tiba di Pontianak tanggal 11 September 1967.

f. 1 Ki Yon Para R.328/Siliwangi, tiba di Pontianak tanggal 28 Nopember 1967.

g. 1 Ki Yon Para R.100/Koanda Sumatera, tiba di Pontianak tanggal 22 Oktober 1967.

h. 1 Ki KKO-AL, tiba di Pontianak tanggal 14 Nopember 1967.

i. Ki Keslap

Operasi Gabungan ABRI yang dilancarkan pada bulan September 1967, berhasil menyita dokumen-dokumen milik PKI yang bertuliskan huruf Cina yang berisi propaganda ajaran Mao Ze Dong serta dokumen- dokumen lainnya yang berisi rencana pemberontakan di daerah Hulu Kapuas.[2]

Pembagian tugas dalam Operasi Gabungan tersebut, khusus KKO-AL titik berat tugasnya pada usaha pencegahan infiltrasi dari luar, terutama mencegah masuknya pengiriman perbekalan dan senjata. Sedangkan Satuan Tempur Kopasgat yang merupakan pasukan cadangan ditempatkan di daerah isolasi antara Bess dan Bima, sekaligus memperkuat pertahanan Pangkalan Udara Singkawang II dan Pangkalan Udara Pontianak.

Khusus untuk keperluan dropping pasukan, dukungan logistik, pengintaian udara, dan keperluan lainnya yang memerlukan gerakan cepat, pihak AURI telah memberikan bantuannya yang terdiri 1 Skwadron Helli, 4 Mi-6, pesawat Gelatik dan beberapa buah pesawat Dakota. Di samping itu bantuan untuk pelaksanaan operasi tersebut juga datang dari Polri dengan mengirim YON 837 Brimob AKRI dari KomdakXI/Kalimantan Barat, dan Angkatan Laut melalui Ko Sub Massional 604 dengan unsur-unsur tempur laut dan daratnya.

Sekalipun operasi dilaksanakan secara terus-menerus, namun orang yang selama ini dicari-cari masih belum juga tertangkap. Sejak peristiwa Sanggau Ledo, S.A. Sofyan bersama Tan Bun dan The Bu Kiat masih sempat mengadakan Training Centre (TC) di atas sungai Duri, Singkawang. Di tempat inilah ia berhasil membentuk PKI gaya baru dengan kader-kadernya, antara lain A. Lung.

Sebagai seorang tokoh utama PKI, S.A. Sofyan merasa dirinya tidak am an karena selalu dikejar-kejar oleh Satuan Tugas ABRI di Kalimantan Barat. Untuk menghilangkan jejak dari kejaran ABRI, kemudian S.A. Sofyan pindah ke Gunung Tembaga dan Jaratsemata di Segedong. Di tempat inilah ia berhasil memperoleh dukungan massa cukup banyak, sehingga tanggal 25 Mei 1967 dapat mengorganisir penyebaran pamflet. Melalui penyebaran pamflet tersebut, Satuan Tugas ABRI dapat mengungkap lebih jauh organisasi gaya baru dan bahkan diketahui pula bahwa sebagian besar aktivis-aktivisnya adalah orang-orang Cina WNI Kalimantan Barat.

Sekalipun Operasi Militer dilaksanakan secara terus-menerus di wilayah Kalimantan Barat, namun demikian masih banyak pula yang berhasil meloloskan diri. Bahkan lolosnya S.A. Sofyan dari operasi penangkapan adalah berkat bantuan orang-orang Cina penebang kayu. Sejak itu operasi penghancuran dinilai sudah tidak tepat lagi, sehingga dialihkan menjadi Operasi Intelijen dan Operasi Teritorial. Melalui kedua operasi itu ternyata lebih banyak hasilnya, misalnya tokoh-tokoh seperti Yap Chung Hoo dan Yacob berhasil di tembak mati, sedangkan Wong Kie Chok yang saat itu menguasai daerah Sektor Timur bersama 200 orang pendukungnya berhasil di hancurkan.

Dengan dilaksanakannya Operasi lntelijen dan Teritorial, sesungguhnya merupakan langkah maju menuju situasi konsolidasi dan stabilisasi di wilayah Kalimantan Barat. Sejak itu tampak situasi kaum pemberontak mulai menurun. Hal ini terlihat dari banyaknya di antara mereka yang menyerah, ditawan, kemampuan tern pur menurun, banyaknya senjata yang dirampas atau dihancurkan dan jalur-jalur komunikasi dipotong dan dihancurkan oleh Satuan Tugas Operasi Gabungan ABRI. Bahkan pasukan ABRI berhasil pula memaksa kaum gerombolan untuk mengadakan dislokasi secara terpencar­-pencar, dan memisahkan mereka dari masyarakat.

Berdasarkan informasi dari hasil interogasi yang dilakukan terhadap gerombolan yang menyerah atau ditawan, dapat disimpulkan bahwa gerakan-gerakan mereka tidak hanya bersifat loka!. Mereka mempunyai hubungan dalam rangka suatu strategi gerakan Komunis lnternasional (Komintern) untuk menguasai daerah-daerah Asia Tenggara. Sehubungan dengan itu mereka memerlukan basis-basis untuk memungkinkan ekspansinya.

Sementara itu melalui Operasi lntelijen upaya untuk menangkap tokoh utama PKI gaya baru, S.A. Sofyan tetap dilancarkan. Pada tahun 1973 , Operasi 001 dilancarkan oleh Kodam XII/Tanjungpura dengan satuan ABRI lainnya serta dukungan rakyat. Dari laporan Satuan lntelijen serta informasi dari rakyat, diperoleh kesimpulan bahwa S.A. Sofyan sedang bersembunyi di daerah rawa -rawa, di daerah Tarentang, sebelah Tenggara Pontianak.

Penyergapan segera dilakukan dengan menugaskan dua regu anggota ABRI yang mayoritas anggotanya adalah anggota RPKAD. Pada tanggal 12 Januari 1974, satuan RPKAD menyergap tempat persembunyian S.A. Sofyan. Ia mencoba melawan, tetapi berhasil di tembak mati. Pengawalnya yang mencoba melarikan diri, akhirnya berhasil ditangkap. Dengan tertembak matinya S.A. Sofyan, maka berakhirlah impian PKI untuk kembali menghidupkan partai terlarang tersebut dan tamat pulalah riwayat PKI Gaya Baru di Kalimantan Barat.

 

—DTS—

 

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid V: Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-Sisanya (1965-1981), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Drs. Saleh As’ad Djamhari, Ichtisar Sejarah PerjuanganABRI (1945-sekarang), Dep. Hankam, Pusjarali ABRI, 1971, hal.150

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*