Operasi Penumpasan PKI Madiun ke Utara (5): Akhir Penugasan

Operasi Penumpasan PKI Madiun ke Utara (5): Akhir Penugasan[1]

 

Setelah Amir Sjarifuddin dan kawan-kawannya tertangkap, Mayor A. Kosasih menerima surat perintah dari Komandan Brigade 12, yang menyatakan bahwa sejak diterimanya surat perintah tersebut, Batalyon Kosasih tidak lagi di bawah perintah Gubernur Militer II, melainkan ditarik kembali ke induk kesatuannya Brigade 12. Pada waktu yang sama diterima pula berita dari Gubernur Militer II, bahwa operasi penumpasan pemberontakan PKI dinyatakan selesai. Dengan demikian Mayor A. Kosasih bisa membawa kesatuannya kembali ke Yogyakarta.

Batalyon Kosasih kembali ke Yogyakarta dengan kereta api melalui rute Kudus-Pati-Blora-Randublatung terus ke Solo, dengan membawa tawanan tokoh-tokoh pemberontak termasuk Amir Sjarifuddin. Komandan Pengawal Tahanan diserahkan kepada Letnan R.A. Saleh salah seorang komandan peletonnya. .

Mayor A. Kosasih tiba di Yogyakarta pada tanggal 4 Desember 1948. Amir Sjarifuddin dan tawanan lainnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat di Yogyakarta.Oleh Pemerintah Pusat diserahkan kembali kepada Gubernur Militer II. Dalam konsolidasi pasukan, setibanya di Magelang, ternyata selama operasi penumpasan PKI itu Batalyon Kosasih kehilangan 15 orang anak buahnya, terdiri atas seorang perwira, dan dua orang bintara serta 12 orang tamtama. Dari 15 orang prajurit itu yang jelas gugur 3 orang, yaitu Letnan Bakri dan 2 orang sersan. Sisanya tidak diketahui dengan pasti apakah ia gugur atau bergabung dengan pasukan lain. Kemungkinan ada anggota yang berasal dari Jawa Tengah bergabung dengan batalyon lain.

Batalyon Kala Hitam (Kemal Idris) yang menduduki daerah Pati juga mendapat perintah yang sama untuk kembali ke Yogya pada awal bulan Desember 1948. Untuk kembali ke Yogya, anggota pasukannya berjalan kaki melintasi hutan jati menuju Purwodadi. Sedangkan Mayor Kemal Idris bersama pengawalnya naik mobil rute Pati-Kudus dan Purwodadi.

Pada waktu melintasi hutan jati, 2 kompi Batalyon Kala Hitam dihadang oleh sisa-sisa pasukan pemberontak pimpinan Maladi Jusuf, sehingga berlangsung pertempuran. Dalam pertempuran ini Komandan Kompi III Kapten A. Hamid dengan beberapa anggotanya gugur. Setelah pasukan pemberontak mengundurkan diri, kedua kompi itu melanjutkan perjalanannya ke Purwodadi.

Pasukan Maladi Jusuf adalah pasukan inti pengawal Amir Sjarifuddin. Karena Amir Sjarifuddin sudah terdesak, sebagian menerobos kepungan TNI, manuju ke arah selatan ke daerah Salatiga. Peristiwa penghadangan ini dilaporkan kepada Komandan Batalyon, bahwa ada pasukan pemberontak yang bergerak menuju Purwodadi dengan menyeberangi kali Lusi. Mayor Kemal Idris kemudian menyiapkan satu kompi pasukan untuk menghadangnya di seberang kali di dekat Purwodadi. Sedangkan dari belakang para pemberontak dikejar oleh dua kompi Kala Hitam. Mereka berusaha menyeberangi kali, namun digagalkan. Hal ini berarti gagal pula usahanya memasuki Purwodadi. Pemberontak terkepung, sebagian besar dari mereka menyerah dan ditawan. Akan tetapi Maladi Jusuf dengan satu peleton pengawalnya dapat meloloskan diri. Semua tawanan digiring dan dikumpulkan di Purwodadi. Jumlah pemberontak beserta keluarganya yang menyerah di tepi kali Lusi itu lebih kurang 500 orang.[2]Semua tawanan keadaan fisiknya sangat menyedihkan. Sebagian besar kakinya luka, kudisan, dan badannya kurus karena kurang makan. Anggota pasukan Kala Hitam memperlakukan para tawanan dengan baik. Bahkan karena tersentuh oleh rasa kemanusiaan, anggota-anggota Kala Hitam rela mengeluarkan uang mereka sendiri, untuk membeli makanan dan obat-obatan, yang kemudian dibagi-bagikan kepada para tawanan tersebut.

Dari Purwodadi Batalyon Kala Hitam berangkat dengan kereta api melewati Solo langsung ke Yogyakarta. Mereka tiba di Yogyakarta pada tanggal 17 Desember 1948. Setelah beristirahat dua hari, Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 meletus. Mayor Kemal Idris bersama batalyon segera meninggalkan Yogyakarta kembali ke Jawa Barat melalui rute yang telah ditentukan sesuai dengan perintah atasan.

Di Blora, Batalyon Daeng mengadakan pembersihan terhadap sisa-sisa Batalyon Purnawi yang masih berada di daerah sekitar Blora. Adanya informasi bahwa kaum pemberontak berikut tokoh-tokohnya yang dikawal oleh Batalyon Maladi Jusuf dan sebagian dari Batalyon Mussofa akan bergerak ke Utara, maka Batalyon Daeng dengan kekuatan dua kompi menghadang pemberontak di Kradenan. Karena mengetahui mereka dihadang oleh pasukan Mayor Daeng, gerombolan pemberontak mengubah arah pelariannya. Mereka tidak lagi menuju ke utara, melainkan menuju ke barat, menerobos hutan jati. Diperkirakan mereka akan menuju ke Purwodadi. Meskipun demikian pasukan Mayor Daeng tetap mengejar pemberontak dari belakang. Di hutan jati dekat Purwodadi pemberontak berjumpa dengan dua kompi pasukan Batalyon Kala Hitam. Pemberontak terjepit, dari belakang didesak oleh pasukan Batalyon Daeng dan dari depan oleh Batalyon Kala Hitam, sehingga sebagian besar dari pemberontak itu menyerah kepada Batalyon Kala Hitam. Pasukan Batalyon Daeng bergerak terlalu jauh ke utara sehingga ketika diperintahkan kembali ke induk pasukan, mereka datang paling akhir karena harus kembali ke Blora.

Batalyon Daeng kembali ke Yogyakarta dengan kereta api melalui rute Blora-Wirosari-Purwodadi-Solo-Yogyakarta. Baru beristirahat satu hari di Yogyakarta meletus Agresi Militer II Belanda. Batalyon Daeng kemudian meninggalkan Yogyakarta untuk kembali ke Jawa Barat.

Setelah Purwodadi direbut oleh pasukan Kosasih, Komandan Brigade 12 memerintahkan agar Batalyon Soeryosoempeno mengamankan Purwodadi dan daerah-daerah sekitarnya, serta mengurus para tawanan yang tertangkap dalam operasi. Pada bulan Desember 1948 Gubernur Militer Gatot Soebroto memerintahkan agar Batalyon Soeryosoempeno segera meninggalkan Purwodadi kembali ke Magelang,[3] ke induk pasukannya.

Di samping kekuatan Brigade 12 dan Batalyon Soeryo­soempeno, kesatuan-kesatuan lain yang ditugaskan memperkuat operasi ke utara juga mendapat perintah kembali ke induk pasukan dan basis masing-masing. Antara lain Kompi Tentara Pelajar Solo kembali ke Solo dan Kompi Mobrig Polisi kembali ke Banyumas.

Sementara itu pada tanggal 19 Desember 1948, bertepatan meletusnya Agresi Militer II Belanda, sebelas orang pemimpin PKI yang, tertawan setelah melalui proses pengadilan kemudian dijatuhi hukuman mati. Hal ini disebabkan karena negara berada dalam keadaan perang. Hukuman mati itu dilangsungkan di desa Ngalihan, kelurahan Lalung, Kabupaten Karanganyar, Surakarta. Mereka yang menjalani hukuman mati di depan regu tembak ialah Amir Sjarifuddin (Pemimpin Pemberontak, yang semula Sekretaris Pertahanan Politbiro CCPKI, Pemimpin FDR), Suripno (Sekretaris Pemuda Politbiro CCPKI), Maruto Darusman (SekretariatJenderal Politbiro), Sardjono (Agitasi Propaganda CCPKI, mantan Ketua PKI), Djokosujono. (Gubernur Militer Madiun, Kepala Biro Perjuangan mantanJenderal Mayor), Oei Gee Hwat (Ketua Bagian Penerangan SOBSI), Katamhadi (bekas Jenderal Mayor TLRI), Harjono (Ketua Umum SOBSI), Ronomarsono (pimpinan Pesindo), S. Kama (Residen PKI dan tokoh PKI Semarang), dan D. Mangku (Aktivis PKI Solo).[4]

***

[1]Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]Semdam VI/Siliwangi, Si/iwangi dari Masa ke Masa, Angkasa, Bandung, 1969, hat. 267

[3]Wawancara dengan Mayjen TNI (Pur) Soeryosoempeno

[4]Peristiwa Coup Berdarah PKI September 1948 di Madiun, hal. 153

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*