Operasi Penumpasan PKI Madiun ke Utara (2): Gerakan Pasukan ke Cepu

Operasi Penumpasan PKI Madiun ke Utara (2): Gerakan Pasukan ke Cepu[1]

 

Batalyon Kala Hitam bergerak dari Kalioso menuju ke Gundih mendahului pasukan lainnya. Mereka bergerak melalui jalan raya. Sebelum memasuki kota kecamatan Gundih (Geyer) mereka dihadang oleh pasukan pemberontak yang mundur dari Kalioso. Perlawanan pemberontak kurang berarti, karena moril mereka sudah menurun, akibat kekalahannya. Dengan demikian perlawanan mereka dengan mudah dapat dipatahkan.

Sebelum menyerbu Gundih, Mayor Kemal ldris bermaksud menunggu pasukan yang dipimpin langsung Komandan Opersi.Maksud itu kemudian diurungkan mengingat kejadian di Kalioso apabila terlambat berarti memberi kesempatan musuh untuk melakukan penghancuran jembatan ataupun alat komunikasi yang bisa merugikan gerakan penumpasan. Akhirnya diputuskan untuk bergerak membebaskan Gundih tanpa menunggu perintah operasi. Gundih berhasil diduduki oleh Batalyon Kala Hitam pada pagi hari tanpa perlawanan. Gundih dibersihkan dari sisa-sisa pemberontak, tetapi Batalyon Kala Hitam tetap berada di sana sambil menunggu perintah selanjutnya untuk bergerak ke Purwodadi.[2]

Sementara itu Mayor Kemal ldris melaporkan kepada Komandan Brigade Letnan Kolonel Kusno Utomo, minta ijin untuk bergerak sendiri mendahului pasukan lainnya, tetapi permintaan Mayor Kemal ldris ditolak. Batalyon Kala Hitam tidak diijinkan bergerak sendiri memasuki Purwodadi, melainkan harus menunggu pasukan lainnya di Gundih. Setelah itu baru kemudian bersama­sama merebut Purwodadi. Ijinitu ditolak dengan pertimbangan untuk menghindari jatuhnya korban yang sia-sia di pihak TNI. Purwodadi merupakan basis kedua bagi pemberontak setelah Madiun. Diperkirakan kota ini dipertahankan oleh Batalyon Purnawi, Batalyon Martono, Batalyon TLRI Kuncoro, dan laskar PKI yang lain dengan personil yang masih utuh dan bersenjata lengkap.[3] Dengan demikian pertahanan musuh di sana cukup kuat.

Setelah semua pasukan di bawah Komando Operasi ke Utara tiba di Gundih, maka diadakanlah konsolidasi. Komandan Operasi/ Komandan Brigade 12 Letnan Kolonel Kusno Utomo beserta kelompok komandonya bergerak bersama pasukan Kosasih. Komandan Operasi memerintahkan Batalyon Kala Hitam untuk membebaskan Wirosari dan merebut kota Blora. Sementara itu Komandan Kompi Sudiyono diganti oleh Sukamto, yang berasal dari Batalyon yang sama. Kompi Sukamto diperintahkan menuju Godong, untuk mencegah pemberontak menerobos garis demarkasi Godong – Dempet – Demak.

Batalyon Kala Hitam setelah menerima perintah membebaskan Wirosari tanpa menunggu waktu langsung bergerak menuju pinggiran kota Purwodadi bagian timur dan selanjutnya bergerak ke Wirosari. Tiba di Wirosari Batalyon Kala Hitam mendapat perlawanan dari Kompi Amat, salah satu kompi andalan Batalyon Purnawi. Setelah bertempur selama beberapa jam, Wirosari dapat diduduki tanpa jatuh korban di pihak TNI.

Dari Wirosari, Batalyon Kala Hitam bergerak ke Kradenan suatu kecamatan di dekat Wirosari. Menjelang Kradenan, Batalyon Kala Hitam menemukan beberapa buah lori[4] beserta lokomotifnya. Dengan lori itu, dua pucuk senapan mesin berat 12.7 dan beberapa orang anggota dapat diangkut sehingga mobilitas pasukan tinggi. Kradenan dapat diduduki tanpa perlawanan.Pemberontak sebelum melarikan diri mencoba membakar barak-barak tempat penimbunan kayu jati (TPK) Kradenan. Untunglah Batalyon Kala Hitam tidak terlambat datang sehingga barak-barak yang penuh kayu itu dapat diselamatkan.

Di Kradenan Batalyon Kala Hitam menunda gerakannya, sementara itu Mayor Kemal ldris berusaha mengadakan hubungan dengan pasukan TNI yang ada di kota Cepu melalui telepon yang ada di stasiun kereta api Kradenan. Ternyata hubungan telepon dengan Cepu telah diputuskan oleh pemberontak. Namun ia mendapat informasi bahwa pasukan pemberontak yang menduduki Cepu masih cukup kuat, sedangkan kedudukan pasukan TNI di bawah Chris Sudono yang ada di sana tidak menguntungkan, meskipun masih mampu menguasai kota Cepu, sekalipun tidak sepenuhnya.[5] Pada siang hari kota dikuasai oleh Batalyon Chris Sudono dan malam hari TNI mengundurkan diri ke sekitar kilang minyak. Sebaliknya pada malam hari kota Cepu berganti dikuasai pemberontak, yang berintikan Laskar Minyak. Mereka berjumlah lebih kurang 1000 orang dengan senjata yang cukup. Mereka dipimpin oleh Sukiban,[6] seorang bekas anggota satuan pengamanan instalasi minyak pada jaman Jepang.

Sekalipun tidak mendapatkan informasi yang pasti dari Cepu, Mayor Kemal ldris memutuskan tetap menggerakkan pasukannya ke sana. Komandan Batalyon Kala Hitam bersama satu kompi pasukannya berangkat ke Cepu dengan lori. Kira-kira 2 atau 3 kilometer menjelang Cepu, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Dalam gerakan maju ini pasukan berusaha keras untuk mendapatkan informasi tentang kekuatan pemberontak di kota tersebut. Sekalipun gerakan pasukan sudah mendekati Cepu, tanpa ada perlawanan, keterangan yang pasti mengenai kekuatan musuh tidak berhasil didapat. Rupanya musuh sudah mengundurkan diri dari Cepu. Oleh karena itu Dan Yon bersama satu kompi pasukannya dapat masuk kota Cepu dengan aman. Ternyata Batalyon Daeng, di bawah Mayor Daeng Mohammad Ardiwinata, yang bergerak dari Ngawi sudah lebih dulu menduduki Cepu.[7]

Di Cepu terdapat kilang minyak yang amat vital bagi pemerintah RI. Buruh-buruh minyak di Cepu sebagaian besar telah dipengaruhi oleh PKI. Mereka dilatih dan dipersenjatai oleh PKI yang kemudian tergabung dalam Laskar Minyak. Pada mulanya, mereka dipersiapkan untuk menjaga Kilang Minyak Cepu dari serangan Belanda. Jumlah anggota Laskar Minyak itu diperkirakan berkekuatan lebih kurang 1.000 orang. Pada waktu pemberontakan PKI meletus, Pasukan Laskar Minyak jelas memihak pemberontak. Di samping itu di Masaran terdapat satu batalyon Pesindo yang dipimpin oleh Mayor Mulyatmo, sehingga kekuatan pemberontak di sekitar Cepu itu jauh lebih besar dari kekuatan yang diperkirakan oleh TNI.[8]

Kota Cepu adalah juga tempat kedudukan Batalyon Chris Sudono, dari Brigade Sunarto.Sebelum pemberontakan meletus. Yon Chris Sudono (dari Resimen Sunandar Divisi Ronggolawe) ber-kedudukan di Kudus. Menjelang pecahnya pemberontakan, Batalyon Chris Sudono ditarik ke Cepu, dan kedudukannya digantikan oleh Batalyon Purnawi yang mundur dari Demak. Pada waktu pemberontakan meletus, kedudukan Batalyon Chris Sudono terjepit antara Laskar Minyak di bawah pimpinan Sukiban dan pasukan Pesindo. Kekuatan Batalyon Chris Sudono tidak lengkap lagi, sebab sebagian dari anggota batalyon ada yang desersi dan bergabung dengan pemberontak. Oleh karena itu hampir seluruh kota Cepu dikuasai oleh kaum pemberontak. Anggota Batalyon Chris Sudono yang setia kepada pemerintah bertahan di kilang minyak Cepu sampai datang bantuan satu kompi besar dari Batalyon S. Sokowati di bawah pimpinan Letnan Satu Subandono.[9]

Pada siang hari pasukan Chris Sudono bergerak dari komplek kilang minyak ke dalam kota. Kota dapat dikuasai. Pada malam hari TNI kembali bertahan di komplek kilang, dan kota Cepu dikuasai oleh kaum pemberontak. Demikian keadaan kota Cepu selama hampir dua minggu selalu berganti penguasa, pada siang hari dikuasai oleh TNI dan malam oleh kaum pemberontak.[10]Dalam keadaan seperti itu teror dan penculikan-penculikan terjadi di mana-mana. Lawan-Iawan politik PKI yang berhasil ditangkap segera dibawa ke luar kota untuk dihabisi nyawanya. Pembunuhan-­pembunuhan kejam yang terjadi setiap hari dianggap hal biasa selama berlangsungnya kekuasan komunis.

Sekalipun kota Cepu sering berganti tangan, tetapi tidak membawa kerugian yang besar bagi penduduk kota Cepu. Hal ini disebabkan karena kedua belah pihak sama-sama berkepentingan di Cepu. Akhirnya Batalyon Chris Sudono mengundurkan diri dari kota Cepu dengan keyakinan, bahwa kekuasaan kaum pemberontak tidak akan lama berlangsung. Karena itu pihaknya menganggap tidak perlu melakukan bumi hangus. Sebaliknya, di pihak Laskar Minyak sewaktu mengundurkan diri dari Cepu juga tidak melakukan bumi hangus, karena mereka juga yakin akan menang. Cepu dengan kilang minyaknya sangat mereka butuhkan. Dengan demikian Cepu selamat dari malapetaka bumi hangus dari kedua belah pihak.[11]

Pasukan Chris Sudono yang dalam keadaan terjepit kemudian mendapat bantuan satu kompi besar, berkekuatan 256 orang bersenjata lengkap di bawah pimpinan Lettu Subandono, dari Batalyon Suprapto Sokowati yang semula berkedudukan di Maospati. Kedua batalyon ini di bawah Brigade Sunarto. Staf Brigade Sunarto berada di Bojonegoro.Pada waktu meletus pemberontakan PKI di Madiun, Mayor Suprapto Sokowati sedang mengikuti latihan di Magelang. Kompi Subandono terdesak dari Maospati, bergerak ke utara untuk bergabung dengan induk pasukannya, Brigade Sunarto di Bojonegoro.

Anggota pasukan sejumlah 256 orang itu oleh Lettu Subandono dibagi atas empat Seksi (peleton). Tiap-tiap Seksi dibagi lima regu, masing-masing regu rata-rata beranggota sebelas orang. Seksi 1 sampai dengan 3 dilengkapi senjata SMR dan 5MB 12,7. Seksi 4 dilengkapi dengan mortir.

Pasukan Subandono tiba di Randublatung setelah berjalan beberapa hari dari Maospati. Kemudian pada tanggal 23 September 1948 mereka berangkat ke Cepu[12] untuk memperkuat pasukan Chris Sudono yang mempertahankan Cepu. Sekalipun telah diperkuat dengan satu kompi, kota Cepu masih sempat beberapa kali berganti penguasa sampai tiba bantuan baru, dari Batalyon Daeng (dari Brigade 12) yang bergerak dari Ngawi.

Sementara itu sebelum bergabung dengan Komando Operasi ke Utara, Batalyon di bawah perintah Brigade 13 yang bergerak dari Solo ke arah timur menuju Madiun melalui rute Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan, bersama-sama dengan Batalyon Sambas, Batalyon Achmad Wiranatakusumah. Setibanya di Plaosan kekuatan dipecah. Batalyon Achmad Wiranatakusumah diperintahkan bergerak ke selatan menuju Ponorogo sedangkan Batalyon Sambas dan Batalyon Daeng bergerak ke Magetan dan Maospati. Batalyon Sambas langsung masuk Madiun. Setibanya di Maospati Mayor Daeng mendapat perintah langsung dari Wakil Presiden Moh. Hatta, yang juga merangkap sebagai Menteri Pertahanan, yang disampaikan oleh Kolonel Hidayat, Wakil I Kepala Staf Angkatan Perang (WKI KSAP) agar segera bergerak ke Cepu. Perintah yang diterima adalah, mereka merebut dan menyelamatkan kilang minyak Cepu.[13]

Dari Maospati, Batalyon Daeng berangkat dengan berjalan kaki menuju Ngawi dan selanjutnya langsung ke Cepu. Di Ngawi, Batalyon Daeng diperkuat oleh satuan artileri di bawah pimpinan Kapten Soegiarto.

Setelah bertempur selama 8 hari, akhirnya pada tanggal 8 Oktober 1948 kota Cepu berhasil dibebaskan dari tangan pemberontak, dan kilang minyak dapat diselamatkan. Dalam pertempuran pembebasan kota Cepu banyak anggota Laskar Minyak yang tertangkap dan menyerah. Sukiban, Komandan Laskar Minyak mati tertembak dalam pertempuran.[14] Dalam upaya mempertahankan kota Cepu, pasukan PKI mempergunakan penduduk sebagai tameng (perisai) sehingga banyak penduduk yang menjadi korban. Setelah Cepu dikuasai, Kompi Subandono diperintahkan agar segera kembali ke basis semula di Madiun.[15] Di Cepu, pasukan Mayor Daeng bertemu dengan pasukan Mayor Kemal Idris yang memasuki Cepu dari Kradenan. Setelah pasukan PKI di Cepu dapat dihancurkan, maka sisa-sisa gerombolan melarikan diri ke utara, untuk bergabung dengan Brigade 6 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soediarto di Pati.

Setelah kota Cepu dibebaskan, Kolonel drg. Mustopo, Panglima Kesatuan Reserve Umum (KRU) bersama anggota Komisi Tiga Negara (KTN) dari Australia berkunjung ke sana.[16] Ikut sertanya anggota KTN yang berkulit putih ini, dijadikan alat perang urat syaraf oleh pimpinan pasukan PKI, untuk memperkuat isyu bahwa Siliwangi benar-benar Stoot Leger Wilhelmina (SLW) yang harus dilawan sampai titik darah penghabisan. Kolonel drg.Mustopo memanggil kedua komandan batalyon dari Brigade 12 itu dan memerintahkan mereka untuk segera menduduki Blora. Mayor Kemal Idris diperintahkan masuk dari selatan sedangkan Mayor Daeng dari sebelah utara kota Blora. Oleh karena pasukan Kala Hitam (Kemal Idris) biasa dengan gerakan yang cepat dalam merebut sasaran, maka kedua komandan batalyon itu mengadakan kesepakatan, agar pasukan pemberontak dapat dikepung dan dilumpuhkan di dalam kota Blora, Mayor Daeng meminta agar Mayor Kemal Idris membatalkan gerakannya. Apa bila sudah ada berita, bahwa Batalyon Daeng telah menduduki bagian utara kota, barulah Batalyon Kala Hitam memasuki kota dari arah selatan [17]Dalam operasi ini Panglima KRU Kolonel drg. Mustopo akan mengikuti gerakan Batalyon Kala Hitam. Tanpa membuang-buang waktu, pasukan Kala Hitam kembali ke Kradenan untuk bergabung dengan induk batalyon dan selanjutnya langsung ke Blora. Sementara itu Batalyon Daeng menyerahkan tugas pengamanan kota Cepu kepada pasukan Chris Sudono. Batalyon Daeng bergerak ke Blora melalui jalan raya Jiken- Jepon. Menjelang kota, mereka berpencar. Kompi Sutisna bersama Komandan Batalyon Mayor Daeng, bergerak menyusuri jalan kereta api. Tiga Kompi lainnya bergerak melalui jalan raya.[18] Sebelum pasukan Daeng berhasi! menduduki daerah bagian utara kota sesuai dengan kesepakatan di Cepu, satu Kompi Batalyon Kala Hitam sudah mendahului masuk kota dad arah selatan tanpa mendapat perlawanan dari pemberontak. Tujuannya adalah memberi kejutan sambi! mencari informasi kekuatan musuh yang mempertahankan Blora.[19]

Dalam gerakan ke Blora di suatu tempat dalam hutan jati tidak jauh dari kota, para anggota Batalyon Kala Hitam mencium bau yang sangat busuk. Setelah diteliti, ternyata sumber bau busuk itu berasal dari suatu tempat yang dijadikan tempat pembantaian dan pembunuh pemimpin-pemimpin RI setempat oleh PKI.Peristiwa ini mendorong Mayor Kemal Idris memerintahkan pasukannya untuk segera memasuki Blora, sekalipun tidak menepati kesepakatan yang telah dibuat di Cepu. Ia teringat akan pengalamannya di Kalioso maupun Purwodadi. Karena pasukannya harus menunggu pasukan lain, maka pemberontak sempat melakukan perusakan jembatan, pembakaran gedung-gedung penting dan membunuh para tawanan, sebelum mereka mengundurkan diri.

Atas izin dari Komandan KRU Kolonel drg. Mustopo yang mengikuti gerakan Batalyon Kala Hitam pasukannya bergerak masuk ke Blora tanpa menunggu berita dari Mayor Daeng. Kota Blora dapat dikuasai oleh Batalyon Kala Hitam dan diduduki tanpa perlawanan yang berarti dari pemberontak pada tanggal 13 Oktober 1948. Tetapi pada pagi harinya kedudukan Batalyon Kala Hitam mendapat tembakan mortir dari arah utara kota. Mayor Kemal ldris yakin bahwa tembakan itu berasal dari anggota Batalyon Daeng. Oleh karena tidak ada komunikasi antara kedua pasukan itu, Mayor Daeng mengira bahwa Batalyon Kala Hitam belum memasuki kota. Tembakan-tembakan itu dimaksudkan untuk memberikan kejutan kepada pemberontak. Untungnya tembakan mortir itu tidak menimbulkan korban, baik rakyat maupun anggota Batalyon Kala Hitam yang berada dalam kota.

Untuk mencegah jangan sampai timbul kontak senjata antara kedua batalyon TNI itu, maka Komandan Batalyon Kala Hitam memerintahkan anggota yang bertugas di pos terdepan di bagian utara kota Blora mengibarkan bendera Merah Putih pada bangunan­bangunan tertentu.[20] Anggota pasukan terdepan Batalyon Daeng merasa ragu-ragu melihat bendera Merah Putih dikibarkan di depan suatu bangunan. Karena tidak mendapat kepastian, maka Mayor Daeng memerintahkan menembak terus dengan mortir sambil bergerak ke selatan. Akhirnya anggota terdepan pasukan Batalyon Daeng melihat pasukan yang berada di depannya bukan musuh, tetapi anggota Batalyon Kala Hitam.[21] Tembakan dihentikan dan Batalyon Daeng memasuki kota Blora yang sudah dibebaskan oleh Batalyon Kala Hitam. Setelah kota Blora dan daerah-daerah sekitarnya dibersihkan dari sisa-sisa para pemberontak komunis, maka tugas operasi ke Blora dianggap selesai. Kolonel drg. Mustopo sebagai Panglima KRU memutuskan bahwa pengamanan Blora dan sekitarnya diserahkan kepada Batalyon Daeng. Batalyon Kala Hitam diperintahkan bergerak ke Pati melalui Wirosari dengan kereta api. Beberapa kilometer sebelum memasuki Wirosari perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan ini, Batalyon, Kala Hitam bertemu dengan satu regu anggota Batalyon Kosasih yang sedang berpatroli. Diperoleh berita, bahwa Batalyon Kosasih telah menguasai kembali Wirosari dari tangan pemberontak (batalyon Purnawi). Beberapa waktu yang lalu Wirosari pernah diduduki oleh Batalyon Kala Hitam. Namun Wirosari dikuasai kembali oleh para pemberontak karena tidak ada pasukan TNI yang menjaganya.

Di Wirosari berkumpullah Panglima KRU Kolonel drg. Moestopo, Komandan Brigade-12, Letnan Kolonel Kusno Utomo dan para komandan batalyon, Kosasih dan Kemal Idris, dan Mayor Munadi, yang mengikuti gerakan Batalyon Daeng dari Ngawi. Rupanya di sini telah menyerah atau melaporkan diri Letnan Kolonel Soediarto, Mayor Rochadi, Mayor Martono, Mayor Mulyatmo, setelah pasukan masing-masing bercerai-berai. Mayor Munadi diperintahkan menghadapkan beberapa tawanan tersebut kepada Gubernur Militer Gatot Subroto. Selesai tugas itu mayor Munadi kembali ke Wirosari dan melanjutkan perjalanan ke Patio Dari Solo Rochadi dan Martono kembali ke Purwodadi, namun tertangkap oleh pasukan Siliwangi dan dieksekusi di suatu tempat.Sementara itu Batalyon Kala Hitam ditugasi melanjutkan operasi ke daerah Pati dan Batalyon Kosasih bergerak ke daerah Kudus.

Batalyon Kala Hitam bergerak ke Pati dengan menerobos hutan jati dan pegunungan kapur. Rute yang dilalui adalah Wirosari Grobogan – Sarip – Balong dan Patio Sebelum mencapai Pati gerakan pasukan mendapat hambatan. Di seberang kali Juana telah dijaga oleh pasukan Purnawi yang mengundurkan diri dari daerah Purwodadi-Wirosari dan Blora.Untuk menyelidiki kekuatan musuh, Mayor Kemal Idris mengirim patroli pengintai ke daerah tersebut. Kekuatan pemberontak yang berada di Pati terdiri dari sisa-sisa pasukan PKI dari Brigade Soediarto yang diperkuat oleh pasukan Laskar Minyak yang mundur dari Cepu, TNI – Masyarakat dan Pesindo. Sesudah menilai kekuatan lawan, akhirnya pada tanggal 13 Oktober 1948 diputuskan untuk segera bergerak ke Pati, dan hari itu juga kota Pati dibebaskan dari tangan pemberontak. Dua kompi pasukan TLRI yang menduduki kantor karesidenan Pati menyerah. TNI kemudian membebaskan semua tahanan yang ditawan oleh PKI. Dalam operasi pembersihan di daerah Pati ini pasukan Kala Hitam dibantu oleh KompiJuhari dari Batalyon Kusmanto di bawah pimpinan Mayor Kusmanto, Kompi CPM Mundinglaya, di bawah pimpinan Lettu Benyamin dan Lettu Moch. Sabur, yang masih setia kepada pemerintah Republik.Di sepanjang jalan, pada waktu pembersihan di daerah Pati dijumpai banyak korban yang pernah disiksa oleh pemberontak komunis. Namun di sepanjang tempat itu PKI tidak banyak melakukan pengrusakan. Soejoto Komandan Brigade TLRI dari Purwodadi beserta 2 kompi anak buahnya menyerah. Seorang pemuka FDR S.K. Trimurti, Jamin, Camat PKI Mergoyoso, Komandan TNI – Masyarakat Letnan Kolonel Misbach ditangkap di Jepara. Namun demikian masih terdapat pula sisa-sisa pemberontak yang melarikan diri dan bersembunyi di hutan-hutan sekitar Pati, Rembang dan BIora.[22]Akibat dari tekanan yang terus menerus, sebagian besar pasukan PKI bercerai berai meninggalkan Komandannya. Mayor Yusmin mencoba melarikan diri ke Rembang, namun ditangkap oleh penduduk dan diserahkan kepada Batalyon Soedirman yang berada di Rembang dan ditawan di Bojonegoro. Sedangkan Mayor Purnawi, menyelamatkan diri ke arah timur. Ia juga ditangkap oleh penduduk dan diserahkan kepada Mayor Munadi. Ketika berhadapan dengan Munadi, Purnawi bertanya, “Diarto neng endi ?(Diarto di mana)”. “Diarto wis tak gowo nang Solo, terus nang Yogya”,jawab Munadi; “mbok aku bisa berhadapan muka dengan dia” Ianjut Purnawi. “Karepe priya.…”jawab Munadi.Setelah itu Purnawi diminta oleh Mayor Kemal untuk diadili oleh Mahkamah Militer yang dipimpin oleh Mayor Taswin. Akhirnya Purnawi dieksekusi di Jatipuhun.

Gerakan diteruskan dengan operasi pembersihan ke daerah­daerah di sekitar Pati, Juana dan daerah sebelah timur Gunung Muria, sehingga daerah Karesidenan Pati bersih dari kaum pemberontak. Terhadap tawanan, Mayor Kemal Idris mengeluarkan perintah supaya mengadakan pengadilan lapangan terhadap gembong-gembong pemberontak yang tertangkap di daerah Patio Dari jumlah yang diadili, lima orang yang dijatuhi hukuman mati. Hal ini dapat terjadi karena negara dalam keadaan perang.

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Idem

[3]     Wawancara dengan letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih

[4]     Lori yang biasa digunakan untuk mengangkut kayu jati glondong

[5]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal ldris

[6]     Wawancara dengan Brigjen Prof. Sudardji Darmodihardjo S.H., Surabaya. 26 Mei 1976

[7]     Wawancara dengan Letjen TNl (Pur) Kemal ldris

[8]     Idem

[9]     Wawancara dengan Brigjen TNl (Pur) Subandono, Benjamin Riadi, Surabaya 26 Mei 1976

[10]    Majalah Siasat, Yogyakarta, 24 Oktober 1948, hal. 3

[11]    Pinardi, Peristiwa Coup Berdarah PKI September 1948 di Madiun, Jakarta, hal. 112

[12]    Wawancara dengan Brigjen TNI (Pur) Subandono

[13]    Wawancara dengan Mayor (Pur) Daeng Mohammad Ardiwinata, Bandung, 29 Juni 1976

[14]    Idem

[15]    Wawancara dengan Brigjen TNI (Pur) Subandono

[16]    Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemalldris

[17]    Wawancara dengan Mayor (pur) Daeng Mohammad Ardiwinata.

[18]    Idem

[19]    Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemalldris

[20]    Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal Idris

[21]    Wawancara dengan Mayor (Pur) Daeng Mohammad Ardiwinata

[22]Pinardi, op.cit.,hal. 382-383

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*