Operasi Penumpasan PKI Madiun ke Utara (1): Gerakan Pasukan ke Daerah Purwodadi[1]

Operasi Penumpasan PKI Madiun ke Utara (1): Gerakan Pasukan ke Daerah Purwodadi[1]

 

Pasukan dari Brigade 12 setelah berhasil membebaskan Sukoharjo, kemudian ditugasi melaksanakan operasi penumpasan ke Utara dengan sasaran daerah Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Cepu dan daerah sekitarnya. Pasukan-pasukan yang secara taktis berada di bawah komando Brigade 12 adalah :

  • Batalyon Kosasih

                Komandan                          : Mayor A. Kosasih

                Wakil Komandan              : Mayor Suryo

                Dan Ki I                                 : Kapten Ishak Djuarsa

                Dan Ki II                                : Kapten Lucki Anwar Ichwan

                Dan Ki III                              : Kapten Rojak Suyono

               Dan Ki IV

              (Senjata Bantuan             : Kapten Tarmat.[2]

  • Batalyon Kemal Idris

Komandan                          : Mayor Kemal Idris

Wakil Komandan              : Kapten Sunar Pirngadi

Dan Ki I                                 : Kapten Rauf Effendi

Dan Ki II                                : Kapten Ismail

Dan Ki III                              : Kapten A. Hamid

Dan Ki IV                              : Kapten Suripto.[3]

  • Batalyon Soeryosoempeno

                Komandan                          : Mayor Soeryosoempeno

Batalyon ini mempunyai tiga kompi, antara lain Kompi 1 dipimpin oleh Kapten Sarwo Edhie.[4]

Kompi Sudijono dari Hizbullah berkedudukan di Wirosari yang bertugas menjaga garis demarkasi.

  • Satuan Artileri yang dilengkapi dengan senjata bantuan lainnya di bawah pimpinan Kapten A. Satari.
  • Satu Kompi Mobrig (sekarang Brimob) dari Karesidenan Banyumas di bawah pimpinan Inspektur Polisi TK. I R.M. Bambang Suprapto Dipokusumo.
  • Satu Kompi Tentara Pelajar (TP) di bawah pimpinan Kapten Prakoso (sekarang Brigjen Pur. dr. Prakoso).[5]

Gubernur Militer, Kolonel Gatot Soebroto, kemudian membentuk Komando Operasi ke Utara, dan menunjuk Letnan Kolonel Kusno Utomo sebagai Komandan Operasi. Pasukan yang bergerak melaksanakan operasi ke Utara ini waktunya tidak bersamaan. Batalyon Kemal Idris yang lebih dulu tiba di Solo telah melakukan pembersihan di bagian utara kota Solo, dan meneruskan gerakannya ke Kalioso. Sebelum berangkat ke Kalioso, Mayor Kemal Idris memberi tanda pengenal bagi batalyonnya, maksudnya untuk membedakan antara pasukan kawan dengan pasukan lawan. Sebab Pihak pemberontak juga memakai seragam TNI, yang sarna wama dan potongannya dengan seragam pasukannya. Akhirnya ditemukan tanda pengenal yang dianggap tepat yaitu “Kala Hitam”. Sejak itu Batalyon Kemal Idris memakai tanda pengenal Kala Hitam yang dipasang di lengan atau diikatkan di kepala, bahkan kemudian dikenal sebagai “Batalyon Kala Hitam”.[6]

Sebagai Komandan Operasi Letnan Kolonel Kusno Utomo membentuk satu kelompok komando di Solo. Pada kelompok komando operasi ini diperbantukan seorang perwira menengah Mayor Basuno sebagai perwira penerangan. Ia bekas komandan Batalyon Sunan Muria di Kudus. Satu tim kesehatan di bawah pimpinan Mayor Sutopo [7] juga diperbantukan kepada komando ini.

Sementara itu Batalyon Kala Hitam (Kemal Idris), karena tidak ada komunikasi dengan Komandan Operasi meneruskan gerakannya ke Kalioso sekalipun jarak antara Solo dan Kalioso[8] hanya kira-kira [9] kilometer. Namun Kalioso adalah tempat pertahanan yang kuat dari pemberontak.Kalioso dipertahankan oleh satu batalyon TLRI dari Brigade TLRI Suyoto. Akibatnya gerakan Batalyon Kala Hitam tertahan pada satu jembatan yang sudah hancur pada waktu mendekati Kalioso. Di seberang jembatan itu pertahanan pemberontak sangat kuat Sehingga sukar ditembus. Berkat keberanian pasukan Kala Hitam, pertahanan pemberontak berhasil ditembus sehingga Kalioso dapat direbut dan diduduki. Namun dalam gerakan ini satu kompi Batalyon Kala Hitam yang melakukan gerakan melambung, yaitu Kompi I (Ki Effendi) tertahan oleh pemberontak di luar kota Kalioso sehingga terpisah dari induk kesatuannya. Peristiwa ini dilaporkan kepada Gubernur Militer. Sedangkan Staf Batalyon dan tiga kompi lainnya langsung mengadakan aksi pembersihan Kalioso, sambil menunggu Kompi I dan pasukan-pasukan lainnya dalam Komando Operasi ke Utara.[10]

Di Solo Mayor A. Kosasih diperintahkan oleh Gubernur Militer agar segera memberangkatkan pasukannya ke Kalioso untuk membantu Kompi Effendi (Yon Kala Hitam) yang tertahan di dekat Kalioso. Namun ketika Pasukan Kosasih memasuki Kalioso keadaan telah aman, sebab Kalioso sudah dibersihkan oleh tiga kompi Batalyon Kala Hitam. Hampir bersamaan dengan masuknya pasukan Batalyon Kosasih ke Kalioso, Batalyon Soeryosoempeno dan Kompi Sudiyono tiba pula di sana.

Sementara itu pasukan senjata bantuan, di bawah pimpinan Kapten A. Satari yang membawa sepucuk meriam, pada waktu akan memasuki Kalioso mengalami kesulitan. Karena jembatan hancur, maka meriamnya terpaksa dibongkar, diseberangkan bagian demi bagian. Baru setelah meriam dipasang kembali, pasukan Satari dapat meneruskan gerakannya ke Kalioso[11]

Sesudah pasukan-pasukan TNI berhasil menduduki Kalioso datang pula Residen Solo Soediro, yang pada waktu dimiliterisasi diberi pangkat Letnan Kolonel (Tituler), beserta rombongannya. Mereka mengadakan kampanye penerangan melalui suatu rapat umum dengan tujuan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membantu dan terpengaruh oleh propaganda FDR/PKI, karena PKI telah memberontak terhadap Pemerintah RI yang sah. Oleh karena mudahnya Kalioso dapat diduduki, di kalangan pimpinan operasi timbul kecurigaan. Diduga Kalioso akan dijadikan killing ground bagi TNI Hal ini mengingat pasukan PKI yang mundur ke utara adalah salah satu Batalyon TLRI yang dinilai kuat dan lengkap persenjataannya. Oleh karena itu pimpinan operasi menggunakan tipudaya, untuk memancing kekuatan musuh yang diperkirakan akan melakukan serbuan ke Kalioso. Pada sore harinya dilansir desas-desus bahwa pasukan Kosasih akan meneruskan gerakannya ke luar kota. Pada saat itu pasukan memang bergerak seolah-olah meninggalkan Kalioso. Perkiraan itu terbukti benar pada malam harinya musuh menyusup masuk ke kota, menduduki kedudukan semula. Padawaktu subuh keesokan harinya pasukan Kosasih mengadakan serangan pendadakan, membersihkan Kalioso dari sisa-sisa pasukan pemberontak. Sebagian besar pasukan pemberontak tertangkap,[12] sedangkan sisa-sisanya meloloskan diri ke arah Gundih (Geyer).

Kemudian pasukan TNI melanjutkan gerakannya ke Purwodadi. Pada saat akan memulai operasi lanjutan, Komandan Operasi Letnan Kolonel Kusno Dtomo mengadakan konsolidasi pasukan, yang terdiri dari Batalyon A. Kosasih, Batalyon Soeryosoempeno, Kompi Sudiyono, Kompi Mobrig dan Kompi TP. Batalyon Kemal Idris (Kala Hitam) sudah lebih dahulu bergerak ke Gundih dan Purwodadi. [13]Batalyon ini bergerak cepat menuju sasarannya. Pasukan tanpa mengenal waktu dan cuaca melakukan serangan terus menerus dan pengejaran tanpa berhenti, sehingga musuh tidak mempunyai kesempatan istirahat. Tindakan ini dimaksudkan untuk mencegah musuh menghancurkan berbagai bangunan vital, seperti jembatan yang merupakan sarana vital bagi komunikasi dan menyelamatkan tawanan-tawanan, yang mungkin akan dibunuh dan mencegah perampokan harta benda milik rakyat.[14]

Dalam pelaksanaan gerak cepat untuk merebut suatu sasaran sekalipun tanpa ada koordinasi dengan Komando, mengingat tidak adanya sarana komunikasi, bisa berhasil karena pimpinan pasukan memiliki keyakinan bahwa ia akan menang dan mampu merebut sasaran dari musuh. Namun masih ada kelemahan dari Operasi Gerak Cepat ini. Biasanya musuh menggunakan taktik menyingkir sementara, kemudian kembali ke posisi semula. Pada saat pemberontak menduduki kembali posisi semula, selanjutnya mereka memperoleh kesempatan mengadakan konsolidasi pasukan dan membuat perkuatan medan. Oleh karena itu untuk merebut kembali posisi tersebut, biasanya diperlukan pasukan dengan kekuatan besar. Hal ini dialami oleh Yon Kosasih yang diperkuat oleh Kompi Tentara Pelajar terpaksa harus merebut kembali Wirosari yang dipertahankan Kompi Amat, dari Batalyon, Purnawi. Sekalipun kota itu pemah dibersihkan oleh Batalyon Kala Hitam, namun pasukan pemberontak menduduki kembali kota itu setelah mereka menyingkir untuk sementara. Kemudian mereka melakukan tindakan balas dendam yang sangat kejam, terutama terhadap mereka yang dianggap membantu pasukan Pemerintah.Untuk merebut kembali Wirosari oleh Mayor Kosasih, dilaksanakan serangan fajar.[15]

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih

[3]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal Idris

[4]     Wawancara dengan Mayjen TNI (Pur) Soeryosoempeno

[5]     Wawancara dengan Letjen TNI (Pur), R.A Kosasih

[6]     Wawancara dengan letjen TNI (Pur) Kemal Idris

[7]     Wawancara dengan letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih

[8]     Idem

[9]     Idem

[10]    Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal Idris

[11]    Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal Idris

[12]Wawancara dengan Letjen TNI (Purn) R.A. Kosasih

[13]Idem

[14]Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) Kemal Idris

[15]Wawancara dengan Letjen TNI (Pur) R.A. Kosasih

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*