Operasi Penumpasan PKI Madiun dari Barat (6): Akhir Penumpasan Terhadap Pasukan PKI

Operasi Penumpasan PKI Madiun dari Barat (6): Akhir Penumpasan Terhadap Pasukan PKI [1]

 

Batalyon Maladi Jusuf merupakan batalyon andalan pemberontak. Batalyon ini bertugas mengawal tokoh-tokoh PKI antara lain Musso dan Mr. Amir Sjarifuddin, yang setelah Madiun dikuasai TNI, bersembunyi di Gunung Liman (anak Gunung Willis). Dari Gunung Liman pasukan PKI bergerak menuju Ngebel dan tiga hari kemudian berhasil mencapai Ponorogo. Selanjutnya mereka, ke Trenggalek untuk kemudian menuju Gunung Gambes. Ruang gerak pasukan pemberontak semakin sempit karena dari arah barat Batalyon Nasuhi telah menduduki Tirtomoyo. Batalyon MaladiJusuf sambil bergerak mundur tetap melancarkan perlawanan terhadap Batalyon yang selalu membayanginya. Menyadari ketangguhan batalyon pemberontak ini, maka Komandan Brigade Letnan Kolonel Sadikin menetapkan beberapa petunjuk kepada satuan-satuan pelaksana yaitu :

  1. Daerah segitiga Wonogiri – Pacitan – Ponorogo ditetapkan sebagai killing ground (daerah penghancuran) ;
  2. Ponorogo ditetapkan sebagai Pos Komando Brigade;
  3. Batalyon Omon Abdurrachman bertugas menutup garisPonorogo – Somoroto – Purwantoro – Wonogiri ;
  4. Batalyon Achmad ditarik ke Ponorogo sebagai cadangan. e. Batalyon Darsono sebagai tenaga pemukul memasuki Gunung Gambes.

Sementara Pos Komando pindah ke Ponorogo, Batalyon Achmad telah bergerak membantu Batalyon Nasuhi membebaskan Pacitan dan Batalyon Darsono menuju Punung, yang masih diduduki musuh. Gerak maju batalyon Darsono semakin dipercepat berkat lindungan tembakan senjata bantuan dan tembakan artileri. Akibat adanya bantuan tembakan yang dilepaskan secara bertubi-tubi menyebabkan pasukan pemberontak cerai berai. Kemudian untuk mempercepat penghancuran batalyon Maladi Jusuf, Pos Komando Brigade dipindahkan dari Ponorogo ke Purwantoro, sedang Ponorogo diserahkan kepada pasukan yang datang dari Jawa Timur.[2]

Pasukan musuh berusaha keras menerobos kepungan yang semakin rapat. Sasarannya adalah daerah utara Madiun, yang dianggap sebagai daerah bebas. Di tempat itu terdapat pasukan PKI lainnya, sehingga mereka mempunyai waktu untuk melakukan konsolidasi. Pasukan PKI juga berusaha merebut stasiun pemancar radio di sekitar daerah Tawangmangu.[3] Batalyon Umar yang kekuatannya terpecah dua yaitu sebagian berkedudukan di Sarangan dan sebagian di Magetan terdesak oleh gerakan pasukan pemberontak. Pasukan Umar yang bertugas menghadapi pelarian di daerah Biting terpaksa mundur ke Plaosan, demikian pula yang berada di Jetis.[4]

Sementara itu Batalyon Darsono meneruskan operasi pengejaran. Sarangan merupakan sasaran yang harus direbut kembali dengan terlebih dahulu membebaskan Plaosan dan Ngerong. Plaosan telah diduduki oleh pasukan pemberontak. Pasukan Darsono pada sore hari berhasil mendekati Plaosan pada posisi ketinggian di sebelah selatan jalan raya.Pagi harinya setelah mengetahui kedudukan lawan, salah seorang Komandan Peleton Pionir segera mengambil inisiatif menyerang musuh yang berada di Ngerong. Dalam penyerangan ini pasukan Peleton Pionir berhasil merampas sepucuk Senapan Mesin Sedang (SMS) berlaras ganda. Setelah sasaran antara Plaosan dan Ngerong dapat direbut, perintah dari Dan Yon adalah merebut Sarangan. Pasukan pemberontak bertahan di suatu ketinggian dan berusaha menahan serbuan dengan tembakan-tembakan senjata berat. Kedudukan musuh lebih menguntungkan dibanding dengan posisi pasukan penyerang. Adapun formasi pasukan penyerang diatur sebagai berikut :

  1. Kompi 1; yaitu Kompi Sumantri bergerak lewat jalan raya;
  2. Kompi 2 Dachjar di lambung kanan; dan
  3. Kompi 3 (Sjafei) dan Kompi 4 (Mursjid) karena ruangsempit dan sulit, bergerak di sebelah kiri Kompi1, dan di belakang Kompi 1.

Jalan raya dari Ngerong ke Sarangan merupakan jalan tanjakan tajam sehingga menguntungkan bagi pasukan musuh yang berada di posisi ketinggian. Oleh karena itu pasukan bergerak di sela­sela tembakan pasukan PKI. Pada tengah hari, Sarangan berhasil direbut kembali, meskipun mendapat perlawanan yang sengit. Pasukan PKI melarikan diri ke arah selatan.Kemudian Batalyon Darsono melanjutkan gerakannya ke arah Purwantoro. Dari Sarangan Batalyon Darsono turun ke arah selatan dan bermalam di Randakuning. Pada pagi hari berikutnya gerakan dilanjutkan. Setelah melewati dataran yang terdiri dari hamparan sawah, pada jarak kurang lebih 300 meter dari suatu tempat ketinggian, pasukan pemberontak mulai menembak.

Pasukan TNI segera diperintahkan menyerbu Purwantoro. Kompi Sjafei sebagai kawal depan masuk Purwantoro melewati jalan-jalan desa, sedang Kompi Daehjar yang berada di sebelah kirinya masuk lewat persawahan. Kompi Sumantri sebagai cadangan berada di belakang dan Kompi Mursjid berada di sebelah kanan jalan desa. Ketika Kompi Bantuan sedang menyiapkan senjata berat, Kompi Sjafei sudah terlebih dahulu masuk kota kecamatan Purwantoro. Pasukan pemberontak dengan kekuatan kurang lebih 1 kompi, dengan sangkur terhunus telah siap menerjang Kompi Sjafei. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, maka Kompi Daehjar segera membantu Kompi Sjafei sedang Kompi Mursjid dengan senapan inesin berat (12,6cm) melanearkan tembakan ke arah kedudukan pasukan PKI. Akhirnya Purwantoro jatuh lagi ketangan Batalyon Darsono. Kedudukan musuh sudah terjepit. Dari arah timur musuh dihadapi oleh Batalyon Darsono, sedangkan dari arah selatan dihadang oleh Batalyon Nasuhi.

Untuk menduduki daerah Tawangmangu, Batalyon Nasuhi dipeeah menjadi dua. Sebagian berjalan kaki menuju ke Tawangmangu lewat Purwantoro dan sebagian lagi berjalan menyusuri Bengawan Solo. Dalam rangka penghancuran kekuatan pasukan pemberontakan ini, hampir pada setiap kontak senjata, posisi pasukan TNI kurang menguntungkan, karena lawan selaluberada di daerah ketinggian, sedang TNI berada di daerah dataran. Namun demikian, semangat bertempur pasukan PKI sudah merosot, sehingga mereka tidak mampu memanfaatkan keunggulan medan. Keadaan ini jelas menguntungkan pasukan TNI.

Akhirnya pasukan Nasuhi dapat menguasai kembali Tawang mangu yang telah direbut PKI. Akan tetapi pasukan pemberontak telah melarikan diri ke arah Cemorosewu. Di daerah dingin ini rupanya senapan-senapan mesin mereka tidak berfungsi dan mengalami kemacetan. Sebagian besar kekuatan Batalyon Maladi Jusuf berusaha keluar dari Cemorosewu yang berhawa dingin. Mereka bergerak ke utara menyusuri pegunungan Lawu menembus jalan raya Walikukun- Madiun.

Berubahnya situasi serta kondisi, dan untuk memudahkan koordinasi antar satuan, maka Pos Komando Brigade 13 dipindahkan dari Purwantoro ke Magetan. Sementara itu Batalyon Maladi Jusuf dalam upaya pelariannya ke daerah utara, yaitu daerah Rembang dan sekitarnya, memilih lewat jalan raya.Bersama pasukan Maladi Jusuf ikut serta tokoh-tokoh FDR/PKI, yaitu Mr. Amir Syarifuddin, Djokosujono, Hardjono dan lain-lainnya dalam sebuah rombongan besar. Mereka menaiki kuda yang dirampas dari rakyat. Sebagian pasukan ada yang menuntun sapi, domba, kerbau dan membawa binatang piaraan lainnya yang juga dirampas dari rakyat.

Sewaktu melintasi jalan raya antara Walikukun – Ngawi di daerah hutan jati, mereka sempat melakukan penghadangan dan penahanan terhadap berbagai kendaraan yang kebetulan lewat. Di antaranya yang berhasil mereka tahan adalah para pejabat pemerintah RI yang telah mengadakan perjalanan dinas dari Yogya untuk kembali ke Jawa Timur atau sebaliknya, yaitu Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) R.M.T.A. Soerjo (bekas Gubernur Jawa Timur), Komisaris Besar Polisi Durjat (Kepala Polisi Provinsi Jawa Timur), Komisaris Polisi Soeroko (Kepala Polisi Karesidenan Bojonegoro), Ajun Inspektur Polisi Tingkat I Banoe Fataken dan Aspiran Komisaris Polisi Gatot Soewarjo, keduanya dari Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, 2 orang perwira TNI dan seorang Pengemudi dari Brigade Mobil. Dua di antara mereka berhasil meloloskan diri dari bahaya maut yaitu Banoe Fatakon dan Gatot Soewarjo, sedang lainnya setelah disiksa kemudian dibunuh oleh pasukan PKI di desa Gumelar daerah Ngawi. Jenazah mereka ditemukan oleh pasukan MBB Jawa Timur yang diperintahkan untuk melakukan pengejaran. Selanjutnya jenazah-jenazah tersebut dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Madiun, kecuali jenazah R.M.T.A. Soerjo dimakamkan di Magetan.[5]

Ketua Dewan Pertimbangan Agung R.M.T.A. Soerjo, setelah memimpin Sidang Dewan Pertimbangan Agung di Yogya pada tanggal 10 November 1948, berangkat menuju Jawa Timur bersama dengan beberapa orang anggota kepolisian Jawa Timur. Pada sore hari ia singgah di tempat kediaman Residen Surakarta Soediro. Ia menyatakan keinginannya hendak meneruskan perjalanan ke Magetan karena istrinya pada saat itu berada di Magetan.

Oleh Soediro disarankan agar perjalanan sebaiknya ditunda, mengingat kondisi mobil yang dipakai kurang baik, dan telah dua kali mogok dalam perjalanan Yogya-Solo. Apalagi situasi daerah yang dituju sedang “hangat”. Pada saat itu untuk pergi dari Yogya ke Solo merupakan satu prestasi tersendiri dan memakan waktu setengah hari. Akhirnya Soerjo bersedia menunda perjalanan dan menginap di rumah Residen Surakarta tersebut sambil menunggu perbaikan mobil. Pada pagi had tanggal 11 November 1948, R.MTA. Soerjo melanjutkan perjalanan. Ketika hendak memasuki Ngawi itulah rombongan beliau bertemu dengan Batalyon Maladi Jusuf yang sedang menyeberang jalan raya dalam pelariannya menuju ke arah utara. Tugas pengejaran selanjutnya diserahkan kepada pasukan yang sebelumnya telah bergerak di daerah ini yaitu batalyon­ batalyon Kemal Idris, Kosasih, dan Daeng dari Brigade 12/Koesno Oetomo.

***

[1]   Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Kolonel (Pur) Oman Abdoerrachman

[3]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Achmadi, 16 Juni 1976

[4]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Achmadi

[5]   Pinardi, Peristiwa Coup Berdarah, PKI September 1948 di Madiun, Inkopad-Hazera, Jakarta, 1967, hal. 150-152

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*