Operasi Penumpasan PKI Madiun dari Barat (4): Gerakan Pasukan Melalui Poros Solo- Wonogiri- Pacitan­-Ponorogo

Operasi Penumpasan PKI Madiun dari Barat (4): Gerakan Pasukan Melalui Poros Solo- Wonogiri- Pacitan­-Ponorogo [1]

Sesudah gagal mengadakan pengacauan di kota Solo, pasukan-pasukan PKI meninggalkan kota, mundur ke daerah basis yang telah lama disiapkan. Daerah-daerah Sukoharjo, Wonogiri, Baturetno, Karanggede hingga Pacitan merupakan daerah basis PKI. Pasukan yang mundur ke daerah selatan ini antara lain pasukan Gajah Mada dan pasukan TLRI di bawah pimpinan Yadau dan Batalyon Digdo (Soedigdo). Bersama pasukan yang mundur ikut serta tokoh-tokoh FDR/PKI yaitu Alimin dan Sukono Djojopratiknjo[2] yang pernah menjabat sebagai Kepala Pepolit, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan pada Kabinet Amir Sjarifuddin. Rakyat di daerah ini sudah dipengaruhi oleh PKI.

Kepada rakyat, antara lain dikatakan bahwa daerahnya akan diserang pasukan yang menggunakan simbol SLW yang diartikan sebagai Stoot Leger Wilhelmina (saat itu Wilhelmina adalah Ratu Belanda). Kedatangan mereka harus dilawan. Dengan memanfaatkan jalan pikiran rakyat yang masih sangat sederhana, PKI berhasil menghasut dan mempengaruhi rakyat. Oleh karena itu untuk memulihkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah RI, membutuhkan waktu dan cara yang tepat. Apalagi hampir seluruh aparat pemerintah telah diganti dengan orang-orang PKI secara paksa.

Untuk mengamankan daerah Surakarta Selatan hingga Madiun tugas pengamanan dibebankan kepada Batalyon Nasuhi sebagai pasukan inti. Tugas utama adalah mengejar dan mencari musuh yang melarikan diri ke daerah ini, sekalipun informasi tentang musuh tidak jelas. Batalyon Nasuhi bergerak dari markasnya di Magelang tanggal 18 September 1948. Sesuai dengan perintah, Batalyon Nasuhi mula-mula bergerak menuju Sukohardjo. Daerah ini dipakai oleh Batalyon Soedigdo sebagai daerah pengunduran pasukannya. Batalyon Digdo yang mundur dari Selatan kota Solo dikejar oleh kompi Kaharudin Nasution. Setelah berlangsung pertempuran di sekitar tanggul Dawung, mundur lagi ke Sukohardjo. Sejak berangkat dari Solo pasukan Nasuhi tidak langsung masuk Sukohardjo,[3] tetapi melambung lewat Karanganyar. Rencananya akan mengepung Sukohardjo dari timur dan selatan, dan berharap musuh dapat dihalau ke Utara atau ke Barat, ke medan yang terbuka sebagai daerah penghancurannya.

Daerah Surakarta Selatan dan Timur merupakan daerah pegunungan tandus sehingga apabila terjadi pertempuran dalam waktu yang lama, mereka akan menghadapi kesulitan medan dan logistik. Akan tetapi rencana Nasuhi mengalami kegagalan karena terjadi salah pengertian. Ketika gerakan Batalyon baru sampai di Jumapolo (daerah Timur Sukohardjo), ternyata daerah ini telah jatuh ke tangan pasukan pemerintah. Batalyon A. Kosasih yang datang dari Solo langsung memasuki Sukohardjo dan berhasil memukul mundur musuh. Musuh kemudian lari ke arah Wonogiri. Dengan demikian rencana Nasuhi menghalau mereka ke medan terbuka gagal. Ketika Batalyori Nasuhi memasuki Sukohardjo, daerah ini sudah ditinggalkan musuh. Bagi anggota pasukan Nasuhi keadaan ini sudah tentu mengecewakan[4] Peristiwa tersebut terjadi karena ketiadaan perlengkapan komunikasi yang dapat memberikan informasi cepat.

Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto menduga bahwa pasukan Nasuhi terhalang gerakannya merebut Sukohardjo karena menghadapi lawan yang kuat. Sesuai dengan rencana operasi, seharusnya pasukan Nasuhi pada hari itu sudah dapat menduduki Sukohardjo, namun karena pasukan bergerak melingkar sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Guna mengatasi hal ini, Gubernur Militer memerintahkan Mayor Kosasih membantu merebut Sukohardjo. Sesuai dengan perintah yang ditulis pada kertas bungkus rokok Koa[5].

Gubernur Militer mengijinkan pasukan Batalyon Kosasih menggunakan kendaraan yang ada, termasuk kendaraan Gubernur Militer, dengan syarat Sukohardjo harus segera direbut. Untuk melaksanakan perintah tersebut pasukan Kosasih mencegat berbagai kendaraan yang ditemuinya, seperti truk, andong dan lain-lain. Pasukan Kosasih sebanyak 500 orang bergerak mendekati Sukohardjo pada malam hari. Setelah diadakan konsolidasi pasukan, maka serangan pendadakan dilakukan pada waktu fajar. Pada mulanya musuh masih sempat memberikan perlawanan. Akan tetapi pasukan TNI terlalu tangguh bagi mereka sehingga lawan lari cerai berai. Akhirnya Kabupaten Sukohardjo berhasil dikuasai pada pukul 08.00 pagi.

Tindakan selanjutnya adalah mengamankan stasiun kereta api, pos polisi dan berbagai instalasi yang dianggap penting. Dalam serangan ini empat orang anggota Batalyon Kosasih gugur, yaitu seorang perwira, seorang bintara dan dua orang prajurit. Perwira yang gugur adalah Komandan Peleton dari Kompi Sabirin. Dalam serangan ini, Yadau bersama pasukannya dapat meloloskan diri, sedangkan Bupati PKI bersama keluarganya telah menyingkir ke luar kota. Akan tetapi TNI berhasil menangkap salah seorang adik Yadau. Setelah kota Sukohardjo berhasil dikuasai, pada pukul 09.00 pagi datang utusan Gubernur Militer yang memerintahkan agar Batalyon Kosasih segera kembali ke Solo, dijemput dengan kendaraan. Pendudukan atas daerah Sukohardjo kemudian diambil alih Batalyon Nasuhi.[6]

Sebelum memasuki Sukohardjo, Batalyon Nasuhi terlibat pertempuran dengan pasukan PKI di jembatan Sumoulun di Bekonang. Setelah pertempuran usai dan fihak lawan mundur, pasukan Nasuhi menemukan kuburan massal. Setelah diperiksa, ternyata di antara para korban ada yang ditanam hidup-hidup.[7] Orang-orang PKI masih sempat membawa pergi para pejabat pamongpraja mulai dari bupati, camat hingga pegawai rendah kabupaten Sukohardjo. Mereka dibawa mundur ke Tirtomoyo.

Setelah beristirahat dan konsolidasi, pasukan Nasuhi diperintahkan bergerak ke selatan menuju Wonogiri. Medan semakin sulit. Untuk memasuki Wonogiri pasukan dipecah menjadi dua.Sebagian berjalan menyusuri jalan besar dan sebagian lewat pedalaman hingga daerah Jatipuro untuk selanjutnya masuk dari sebelah timur. Mengingat situasi medan yang tidak menguntungkanbagi gerakan militer, maka sewaktu akan memasuki Wonogiri pasukan Batalyon Nasuhi dipecah menjadi tiga kelompok :

  1. Kompi Kaharuddin dari jurusan jalan besar melewati Gunung Gandul dan Kebonjati.
  2. Kompi Witono menyeberangi Bengawan Solo masuk dari sebelah barat, dan
  3. Kompi Mung Parhadimuljo sebagai Kompi Bantuan beradadi sebelah Timur untuk membedakan bantuan tembakan.

Wonogiri dapat direbut pada tanggal 21 September 1948 sore hari melalui pertempuran sengit dengan menggunakan senapan mesin berat kaliber 12,7 dan mortir. Para tawanan yang hendak dibunuh PKI berhasil diselamatkan. Musuh berpencar ke arah selatan dan barat antara lain ke jurusan Baturetno. Pada malam hari mereka melancarkan serangan mortir dari Gunung Gandul,[8] suatu bukit di tengah kota Wonogiri. Untuk menguasai Gunung Gandul, suatu ketinggian yang taktis, diperlukan tambahan pasukan. Komandan Batalyon Mayor Nasuhi meminta bantuan pasukan ke Solo. Akhirnya Gunung Gandul dapat dibersihkan dan di puncaknya dikibarkan bendera Merah Putih.[9]

Di Wonogiri dan sekitarnya segera dilakukan pembersihan. TNI berhasil menawan beberapa orang pimpinan pemberontak, dua diantaranya tokoh penting yaitu Alimin dan Sukono Djojopratiknjo bekas Letnan JenderaI, Ketua Pepolit dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan. Mereka diperiksa oleh mahkamah lapangan dan karena terbukti bersalah mereka dijatuhi hukuman mati. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka meminta bertemu dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Permintaannya ditolak karena ia tertangkap di medan operasi sehingga sesuai dengan ketentuan perang yang bertindak sebagai wakil pemerintah di medan adalah komandan pasukan yang menangkapnya.[10]

Setelah Sukono Djojopratiknjo ditembak, menurut rencana keesokan harinya giliran Alimin. Namun sebelum eksekusi dilaksanakan, Komandan Polisi Militer Komando Jawa, Letnan Kolonel A.J. Mokoginta datang, “meminjam” Alimin untuk keperluan pemeriksaan di Solo. Alimin diserahkan dan dibawa ke Solo. Pinjaman tawanan ini tidak pernah dikembalikan. Sewaktu ditanyakan, Nasuhi mendapat jawaban, bahwa Alimin adalah anggota Komunis Internasional, sehingga apabila hendak dihukum harus melewati proses peradilan yang dapat dipertanggung jawabkan.[11]

Sementara pembersihan berlangsung terus, Mayor Nasuhi mengirim surat pribadi kepada Soedigdo, Komandan Batalyon Digdo yang diketahui masih berada di sekitar Wonogiri. Suratnya, berisi penjelasan tentang situasi yang terakhir dan meminta kepada Digdo bersama anak buahnya agar kembali ke jalan yang benar. Namun Digdo menjawab surat tersebut dengan mencerca kebijaksanaan Pemerintah Hatta dan menuduh bahwa pasukan yang ia hadapi adalah pasukan alat fasis Pemerintah Hatta. Dari jawabannya tersebut ditarik kesimpulan bahwa ia sadar akan situasi yang sedang berlangsung, sehingga Nasuhi bersama pasukannya tidak merasa ragu lagi mengambil tindakan tegas.

Mengingat daerah operasi begitu luas, maka pasukan perlu ditata kembali. Kompi Keharuddin diperintahkan mengadakan konsolidasi di sebelah utara kota, di luar kota Wonogiri. Dari sini pasukan meneruskan gerakannya ke barat untuk selanjutnya menuju Wuryantoro. Kompi lainnya akan memasuki Wuryantoro dari arah timur. Dalam gerakan maju menuju Wuryantoro ini di tengah perjalanan yaitu di Manyaran, Kompi Kaharuddin berhasil menangkap seorang tokoh pemberontak yang terkenal bernama Sampir.[12]atau Tampir. Bagi rakyat Wonogiri ia sangat ditakuti, selain dikenal sebagai algojo yang terkenal kejam, ia jago “ilmu tinggi”. Konon ia bisa menghilang dan berpindah tempat dalam sekejap dan banyak rakyat yang tewas akibat tindakannya. Ia salah seorang dari pimpinan Laskar Rakyat Alap- Alap yang selalu mengganggu gerakan TNI dengan tembakan runduknya. Oleh Komandan Batalyon, Sampir diperintahkan untuk dijatuhi hukuman mati, tetapi Komandan Kompi Kaharuddin Nasution meminta agar ia tidak dibunuh sebab akan dijadikan penunjuk jalan dalam rangka gerakan militer selanjutnya. Permintaan Kaharuddin Nasution dikabulkan, dan kemudian ia membantu gerakan militer TNl. [13]

Ketika Batalyon Nasuhi meneruskan gerakannya meninggalkan daerah Wonogiri. Batalyon Huseinsyah diperintahkan menduduki Wonogiri. Huseinsyah diangkat sebagai Komandan Basis Wonogiri. Sementara itu pasukan dari batalyon ini juga ikut bergerak ke Purwantoro, namun kemudian diperintahkan kembali lagi ke Wonogiri untuk menyelesaikan masalah-masalah teritorial dan tahanan sampai bulan Desember 1948.[14]

Sesampai di Wuryantoro, Batalyon Nasuhi bertemu dengan pasukan yang datang dari arah Selatan yang berkekuatan satu setengah kompi. Pasukan berseragam hitam di bawah pimpinan Kapten Bambang Subagijo yang diketahui bernama Pasukan Gajah Mada.[15] Ia minta ijin hendak bergabung dengan pasukan Slamet Riadi yang berada di Boyolali. Sebelum bertemu dengan pasukan ini, Nasuhi mendapat informasi bahwa Kompi MA (Militer Akademi) yang datang dari Yogya pernah terlibat kontak senjata dengan pasukan Gajah Mada ini di perbatasan Yogya – Surakarta.

Oleh Nasuhi pasukan Gajah Mada diijinkan lewat dengan syarat harus meninggalkan semua senjatanya. Semula mereka menolak. Kemudian Nasuhi memerintahkan kepada pasukan Gajah Mada agar mundur 2 km dan kemudian baru ditantang untuk bertempur. Tantangan ini meruntuhkan moril mereka, sehingga mereka bersedia menerima persyaratan tersebut. Setelah menyerahkan senjatanya mereka melanjutkan perjalanan ke Solo.[16]

Menurut rencana semula mereka hendak masuk daerah Yogya tetapi tertahan oleh gerakan pasukan Kompi Taruna MA. Di antara pasukan Gajah Mada ini menurut informasi terdapat Letnan Kolonel Suadi bekas Komandan Brigade 6 Panembahan Senopati. Ia tidak memenuhi panggilan Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Gubernur Militer untuk melapor dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Letnan Kolonel Suadi selamat dari tangkapan karena menyamar sebagai prajurit yang berseragam hitam memakai caping (topi bambu) dan mengaku sebagai juru rawat.[17]

Sebelum pasukan Gajah Mada dilucuti, sebenarnya telah datang perintah dari Kepala Staf KRU Letnan Kolonel Abimanyu kepada Mayor Nasuhi agar semua tawanan diserahkan kepada Mayor Slamet Riadi dan apabila Letnan Kolonel Suadi tertangkap, jangan dibunuh. Hal ini atas permintaan Slamet Riadi kepada Abimanyu. Baru setelah di tangan Slamet Riadi para tawanan diperiksa untuk mengetahui siapa yang benar-benar terlibat secara sadar dalam pemberontakan PKI tersebut. Suadi akhirnya selamat, kemudian menghadap Panglima Besar dan selanjutnya bergabung dengan pasukan pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Di Pracimantoro Batalyon Nasuhi mensinyalir banyak tokoh PKI yang bersembunyi, antara lain adalah Setiadjid dan Wikana namun mereka belum berhasil ditangkap dan hanya mobilnya saja yang berhasil dirampas. Dari Pracimantoro pasukan bergerak menuju Baturetno. Kompi Sutikno diperintahkan ke Tirtomoyo, untuk menyelamatkan aparat pemerintah dan orang-orang yang ditawan PKI. Di sepanjang perjalanan banyak yang ditemukan pelbagai jenis peluru musuh yang tercecer atau dibuang, kemudian dimanfaatkan untuk operasi dan sebagian dikirim ke Solo.

Untuk membebaskan tawanan yang berada di desa Ngreo dikerahkan 2 kompi yaitu Kompi Sutikno dan Kompi Taruna MA. Mereka bergerak mengepung desa itu. Dalam gerakan ini berhasil ditangkap seorang tokoh PKI bernama Suhodo[18] dan seorang bekas Letnan Kolonel bernama Yusuf Bakri. Suhodo kemudian dibunuh oleh massa rakyat yang meluap kemarahannya. Sedang kepadaTaruna MA diberi tugas untuk melakukan interogasi terhadap Yusuf Bakri dan sekaligus untuk mempraktekkan pelajaran yang pernah diperoleh di Akademi. Sekalipun dalam posisi lemah, Yusuf Bakri salah seorang pemimpin Pesindo dan bekas anggota PRI Surabaya Utara di bawah Sidik Arselan pada tahun 1945, masih berusaha mempengaruhi para kadet dengan ideologi komunis.[19] Kemudian setelah melalui pengadilan lapangan, ia dijatuhi huktiman mati dan ditembak di Pacitan. Selain itu juga ikut tertangkap anggota Pepolit bernama Sjamsuddin dan Suwito Pimpinan Pepolit Solo, yang kemudian mengalami nasib seperti Yusuf Bakri.

Menurut perkiraan pimpinan operasi, musuh akan berusaha melarikan diri ke arah tenggara dan bergabung dengan induk pasukan pemberontak yang berada di Madiun. Untuk menggagalkan usaha mereka, diadakan gerakan memotong dan menghadang mereka di Pacitan oleh beberapa satuan TNI, yaitu Kompi Solichin, Kompi Taruna MA, Pasukan-pasukan TP Achmadi dan TGP dari Solo. Mereka bergerak melewati jalan besar menuju Pacitan, sementara musuh mengadakan stelling di Karanggede. Pasukan campuran ini melakukan taktik peningkaran, melalui jalan setapak yang menuju Arjosari. Musuh berhasil dihalau dan Karanggede dapat dikuasai.

Sementara itu Mayor Slamet Riadi datang menemui Nasuhi. Slamet Riadi menjelaskan bahwa ia mendapat tugas untuk mengambil bekas pasukan Divisi Panembahan Senopati yang “tersesat” karena pengaruh PKI dan ingin kembali ke jalan yang benar. Nasuhi mempersilakan dan percaya kepadanya meskipun tanpa surat perintah tertulis.

Kota Pacitan akhirnya berhasil direbut dan diduduki. Musuh melarikan diri dari Pacitan, bergabung dengan Batalyon Maladi Yusuf Batalyon ini mengalami berbagai tekanan dari pasukan TNI. Di sekitar Ngrejo, Arjosari dan Mlati, yaitu daerah-daerah yang telah dibebaskan, Batalyon Nasuhi menemukan gudang-gudang peluru. Untuk menyelamatkan gudang peluru yang berada di Melati, Kompi Mung Parhadimulyo yang ditugasi untuk menguasai dan mengawasinya.

Dalam penyerbuan ke Pacitan tersebut turut pula Tentara Genie Pelajar yang dipimpin oleh Mulyo. Ada sekitar empat puluh orang anggota Tentara Pelajar yang bergabung dengan TNI. Setibanya di Pacitan ditemukan 12 mayat yang tidak jelas identitasnya yang ditinggalkan oleh PNI serta ditemukan juga beberapa puluh senjata yang disembunyikan dalam sebuah gua. Setelah melakukan konsolidasi, Batalyon Nasuhi kembali ke Wonogiri. Di tengah perjalanan didapat informasi, bahwa Batalyon Maladi Jusuf telah bergerak menuju Tawangmangu dan melumpuhkan pasukan TNI yang ditemuinya. Batalyon Nasuhi diperintahkan untuk melakukan pengejaran ke Tawangmangu.

***

 

[1]   Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Wawancara dengan Brigjen (Pur) Nasuhi. Bandung. 29 Juni 1976

[3]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Kaharudin Nasution, Jakarta, 3 Agustus 1976

[4]     Wawancara dengan Brigjen (Pur) Nasuhi

[5]     Merek rokok putih peninggalan zaman Jepang.

[6]     Wawancara dengan Letjen (Pur) R.A. Kosasih. Jakarta, 12 April 1976

[7]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Kaharuddin Nasution

[8]     Wawancara dengan Brigjen (Pur) Nasuhi

[9]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Kaharuddin Nasution

[10]    Wawancara dengan Brigjen (Pur) Nasuhi

[11]    Alimin “dipinjam”atas permintaan Perdana Menteri Hatta, lihat Z. Yasn Bung Hatta menjawab,Jakarta, 1978, hal. 22

[12]  Wawancara dengan Brigjen (Pur) Nasuhij menurut Brigjen Sunitioso tokoh itu bemama Tampir

[13]    Wawancara dengan Mayjen (Pur) Kaharuddin Nasution.

[14]    H.s.Hueisyah, “Disepanjang Jalan Revolusi Kemerdekaan 1945-1949”.Dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan, hal 199-200.

[15]    Sebelum Rera, pasukan ini berkekuatan 2 batalyon, Batalyon Gajah Mada I dipirnpin oleh Mayor R. Soebagio dan Batalyon Gajah Mada II dipirnpin oleh Mayor Sudrajat.Kedua batalyon ini tergabung dalarn Brigade XXIV/Laskar.

[16]    Wawancara dengan Mayjen (Pur) Kaharuddin Nasution

[17]    Wawancara dengan Brigjen (Pur) Nasuhi. Menurut Brigjen Sunitioso, sebelum Suadi melapor ke Panglirna Besar datang ke Sunitioso di Panasan dan menceritakan ia diselamatkan oleh Tampir (sampir), Komandan pasukan Alap yang “sakti” itu.

[18]    Soehodo memerintahkan membunuh semua tawanan di penjara Tirtomoyo.

[19]    Wawancara dengan Brigjen (Pur) Nasuhi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*