Operasi Penumpasan PKI Madiun dari Barat (1): Gerakan Pasukan Melalui Poros Solo – Tawangmangu-Madiun

Operasi Penumpasan PKI Madiun dari Barat (1): Gerakan Pasukan Melalui Poros Solo – Tawangmangu-Madiun[1]

 

Berdasarkan Surat Perintah Komandan KRU-Z tanggal 21 September 1948, (periksa lampiran 5) pasukan-pasukan yang di-gerakan dalam operasi pembebasan kota Madiun dari arah Barat di bawah pimpinan Letnan Kolonel Sadikin.

Pada awal gerakan operasi Letkol Sadikin melaporkan bahwa pasukannya dapat merebut dua pusat perlawanan komunis; yaitu Magetan dan Ngrambe. Untuk mengatasi situasi setelah perebutan kembali daerah itu, pemerintah mengangkat Mayor Akhmad Sukarmawijaya sebagai Bupati Militer di daerah tersebut. Selanjutnya TNI juga berhasil merebut kembali daerah Walikukun. Pasukan TNI terus bergerak ke Madiun, sebagian ke daerah Ngawi sebagian lagi digerakkan ke jurusan Ngrambe, yang telah direbut pasukan TNI sebelumnya.

Kemudian gerakan dari arah Barat ini dibagi menjadi tiga poros. Pertama, pasukan bergerak dari Surakarta menuju Karanganyar Tawangmangu – Sarangan – Plaosan – Magetan – Maospati, merupakan poros gerakan operasi dari Brigade 13 KRU-Z dengan kekuatan 4 Batalyon yaitu Batalyon Sambas, Batalyon Umar Wirahadikusumah, Batalyon Daeng Muhammad, Batalyon Achmad Wiranatakusumah.[2] Pasukan ini diikuti oleh kelompok Komando Brigade

Kedua, yaitu pasukan yang bergerak dari Surakarta menuju Ngawi lewat Sragen-Walikukun, merupakan gerakan melambung dengan kekuatan 2 batalyon, yaitu Batalyon Sentot Iskandardinata dan batalyon Sumadi, yang berasal dari Brigade 13 KRU-Z dan Brigade 6 Divisi II. Ketiga, pasukan yang bergerak dari Solo­Sukoharjo-Wonogiri- Pacitan-Ponorogo dengan kekuatan 2 batalyon yaitu Batalyon Nasuhi dan Batalyon Huseinsyah.

Batalyon Nasuhi melanjutkan aksi pembersihan di daerah Surakarta. Pasukan ini pada tanggal 26 September 1948 berhasil merebut kota distrik Sukoharjo.

Sesuai dengan rencana operasi, Batalyon Sambas ditetapkan sebagai kekuatan pemukul dan Batalyon Achmad sebagai cadangan,[3] sedang kelompok komando brigade mengikuti gerakan Batalyon Umar. Batalyon Sambas, yang terdiri dari 3 kompi, berangkat dari Tasikmadu menuju Tawangmangu lewat Karangpandan pada tanggal 25 September 1948.[4] Tiga batalyon lainnya yaitu Batalyon Daeng, Batalyon Umar dan Batalyon Achmad diberangkatkan dari Solo dimana Tawangmangu ditetapkan sebagai “garis awal” gerakan. Di Tawangmangu, Komandan Brigade 13 Letnan Kolonel Sadikin memberikan briefing kepada para komandan batalyon, bahwa tipe gerakan adalah “gerakan kilat” model Jepang, dengan bentuk kelompok-kelompok kecil menyusup ke lambung musuh untuk menyebarkan kepanikan. Kedalam kota Madiun telah disusupkan anggota intelijen guna mendeteksi keadaan medan.

Sebelum pasukan KRU-Z memasuki Tawangmangu, daerah itu sudah diduduki oleh satu Kompi Taruna MA yang mundur dari Sarangan.  Kompi itu adalah kompi Taruna MA Angkatan 11 yaitu Kompi “R” yang berkekuatan 120 orang. Persenjataan rill kompi ini hanya untuk satu peleton saja, sedang lainnya hanya dilengkapi senjata tajam seperti kelewang. Semula kompi ini menempati bangunan bekas Hotel Arend Nest di Sarangan. Akan tetapi akibat kepungan laskar PKI yang berkekuatan 1.500 orang terhadap asrama Kompi Taruna, mereka memutuskan meninggalkan asrama demi menghindari jatuhnya korban. Kompi ini menuju Tawangmangu. Dan setelah tiga hari berada di Tawangmangu, Batalyon Sambas tiba di tempat tersebut. Kompi “R” Taruna kemudian menggabungkan diri dengan Batalyon Sambas.

Pada hari H, tanggal 25 September 1948, Batalyon Sambas berkekuatan 760 orang bergerak dari Tawangmangu menuju Madiun dengan tugas utama. Menguasai Madiun dalam waktu singkat, menguasai stasiun RRl dan PTT, serta melaporkan kembali setelah Madiun direbut. Dalam gerakan ini Kompi “R” Taruna ditetapkan sebagai Kompi KawaI depan dengan susunan Peleton I, Peleton II di tengah dan Peleton III.

Gerakan pasukan Taruna MA mengalami hambatan, karena para pemberontak membuat harikade dari pohon-pohon pinus yang di potong-potong dan menanam ranjau di sepanjang jalan. Dua pos penjagaan musuh, satu diantaranya dilengkapi dengan senapan mesin ringan berhasil direbut. Pada pukul 05.00 pasukan memasuki kota Sarangan. Beberapa tindakan pengamanan segera dilaksanakan, yaitu dengan mengadakan pos-pos penjagaan pada setiap tempat yang dianggap taktis. Di samping itu dilancarkan operasi pembersihan terhadap pengikut PKI di Sarangan. Di antara musuh yang berhasil ditangkap ialah Komandan Polisi Tentara TLRI Kolonel Sutedjo dan Lurah Desa Sarangan. Setelah tindakan pengamanan dilakukan oleh Kompi Taruna, baru Batalyon Sambas memasuki Sarangan. Ketika Batalyon Sambas memasuki Sarangan, para pengikut PKI yang masih ada di luar daerah Sarangan tiba-tiba melancarkan serangan terhadap batalyon ini. Pasukan PKI tersebut berhasil dihalau dengan ledakan granat.

Gerakan berikutnya, sebagaimana tercantum dalam perincian tugas Batalyon Sambas adalah merebut dan menduduki kota Madiun. Dalam gerakan ini, Mayor Sambas hanya memperkenankan satu peleton Kompi Taruna menyertai gerakannya, yaitu peleton yang bersenjata senapan dibawah pimpinan komandan peleton Sersan Taruna Harun Suwardi.[5]Setelah berhasil menduduki Sarangan, Komandan Brigade Letnan Kolonel Sadikin mengeluarkan perintah operasi baru. Batalyon Achmad diperintahkan untuk bergerak ke Pacitan. Batalyon Daeng ke Maospati, Batalyon Umar ke Ngrambe, Panekan, Magetan dan kelompok Komando Brigade dengan dikawal satu kompi Batalyon Umar yaitu Kompi Suparjono menuju Plaosan.

Karena keterbatasan waktu, Batalyon Sambas menggunakan taktik merebut dan menduduki tempat-tempat penting dan menghindari kontak senjata yang ringan. Untuk menjaga kondisi moril dan jasmani anggota, pasukan hanya bergerak pada siang hari sedangkan malam hari mereka beristirahat.[6] Secara bergiliran kompi-kompi sebagai kawal depan dan setiap kompi mengadakan peleton penyelidik masing-masing Komunikasi antar regu, peleton, kompi sampaitingkat batalyon menggunakan caraka secara beranting. Pada waktu itu alat komunikasi radio sama sekali tidak dimiliki.

Guna menjaga agar moril prajurit tetap tinggi, setiap prajurit diberi bekal peluru lebih dari cukup. Khusus senjata berat, supaya tidak menjadi beban, laras dan landasannya dibongkar dan dipikul bergantian. Menjelang masuk Madun senjata ini diangkut dengan cikar.[7] Satu keuntungan bagi Batalyon Sambas ialah banyak di antara anggota telah mengenal medan daerah tersebut dengan baik. Karena pada waktu pertama kali tiba di Jawa Timur mereka ditempatkan di Madiun, kemudian dipindahkan ke Maospati lalu ke Ngawi. Pada saat senggang banyak di antara mereka pergi melakukan pengenalan daerah, melewati jalan-jalan kecil sepanjang Madiun-Ponorogo.[8] Bahkan sebelum pemberontakan meletus, pada kuartal pertama tahun 1948 anggota pasukan pernah mengadakan latihan mengenal medan di sekitar Madiun antara lain di lereng Timur Gunung Lawu hingga daerah Balong (Ponorogo) dan sekitarnya.

Dalam gerakan menuju Madiun, pasukan berjalan berbanjar sepanjang 5 km dengan kecepatan rata-rata 3 km tiap jam tanpa menghiraukan gangguan tembakan musuh yang datang dari samping atau belakangnya. Taktik gerakan Batalyon Sambas, ialah menghindari kontak senjata dan menghindari konsentrasi pertahanan lawan. Dengan taktik tersebut, maka dalam waktu lima hari empat malam pasukan berhasil memasuki kota Madiun.

Rute yang ditempuh oleh Batalyon Sambas dari Sarangan ialah Plaosan, Nitikan, dan Gorang-Gareng di mana mereka beristirahat. DiGorang-Gareng terdapat sebuah pabrik gula (Rejosari) yang digunakan oleh PKI untuk menawan orang-orang yang dianggap musuhnya. Kebanyakan mereka berasal dari tokoh-tokoh masyarakat, pamong praja dan polisi.  Pada waktu diadakan pembersihan, di salah satu bangunan (loji) yang dipakai sebagai tempat tahanan ditemukan kurang lebih 160 orang mati terbunuh. Darahnya belum lagi mengering, sehingga dapat diduga pembunuhan massal baru saja berlangsung. Untuk sementara pasukan beristirahat dibangunan/ rumah dinas pabrik gula tersebut. Namun pada malam hari sisa-sisa gerombolan PKI melakukan gangguan dengan melancarkan tembakan. Oleh karena itu, keesokan harinya Kompi Dachyar diperintahkan untuk melakukan tindakan pengamanan.[9]

Dari Gorang-Gareng Batalyon Sambas bergerak menuju ke Uteran, suatu kecamatan di sebelah selatan kota Madiun. Sebanyak 515 orang anggota pasukan berjalan berbanjar dengan tidak menghiraukan gangguan para penembak runduk musuh dari arah kiri dan kanan jalan, mengingat tujuan utama ialah merebut kota Madiun secepatnya. Pada kira-kira 500 m dari pabrik gula Pagotan, pasukan kawal depan mendengar tembakan lawan. Karena malam hari pasukan terpaksa berhenti. Pada saat fajar tiba segera pabrik gula tersebut digrebek. Ternyata hanya ditemukan seorang dengan satu pucuk senjata stengun. Ia berhasil menahan satu batalyon selama satu malam.

Dan peristiwa itu merupakan pengalaman yang memalukan. Pada siang harinya pasukan berhasil memasuki Uteran. Rupanya ketika pasukan Sambas berhenti, pasukan PKI yang berada di Madiun mengadakan evakuasi besar-besaran ke arah gunung Wills. Demikian pula masuknya Batalyon Sambas ke Uteran juga tidak diketahui oleh musuh. Hal ini terbukti, ketika anggota batalyon berada di Stasion Uteran, masih menjawab telepon yang berasal dari stasiun kereta api Madiun. Mereka masih menanyakan tentang situasi di Uteran.[10]

Pada siang hari tanggal 29 September 1948 pasukan TNI telah siap bergerak memasuki kota Madiun. Namun berdasarkan pertimbangan perlunya pasukan beristirahat setelah satu hari penuh berjalan kaki, dan berdasarkan perkiraan bahwa komando pasukan musuh telah tidak berada di tempat, oleh komandan Batalyon diambil keputusan menunda gerakan. Kendati diperkirakan dalam kota Madiun hanya terdapat sisa-sisa pasukan lawan, namun Komandan batalyon menganggap bahwa untuk melancarkan gerakan ke kota Madiun pasukan perlu dalam kondisi segar. Resiko penundaan waktu baik langsung atau tidak, memberikan peluang kepada musuh untuk membawa lari tawanannya ke luar kota.[11] Kenyataannya, memang sebagian besar tawanan dibawa ke arah timur yaitu ke daerah Dungus, di mana kemudian mereka dianiaya sebelum dibunuh.

Gerakan dilanjutkan pada pagi hari tanggal 30 September 1948 Kompi II Batalyon Sambas bertugas melakukan serangan memasuki kota Madiun dari arah selatan secara melambung melewati kebun-kebun sayur dan jagung.[12] Kemudian menyusul kompi lain yang berangkat sekitar pukul 10.00. Menjelang sore hari sekitar pukul 16.45, Batalyon berhasil memasuki kota Madiun dengan formasi Kompi Bantuan dikawal Kompi Senapan bergerak dengan menggunakan dokar-dokar yang ada di kecamatan Uteran.[13] Tujuan utama adalah alun-alun Madiun. Selama dalam gerakan ini tidak dijumpai perlawanan, bahkan kota Madiun sudah dalam keadaan kosong. Selanjutnya untuk menghindari usaha sabotase pembumi hangusan obyek-obyek vital seperti stasiun kereta api, jembatan, stasiun radio, tindakan pengamanan segera dilakukan. Berita tentang jatuhnya Madiun segera disiarkan lewat RRI Madiun, yang selama beberapa hari PKI berkuasa, RRI menjadi media propagandanya.[14] Laporan situasi Madiun menjelang dan sesudah jatuh ke tangan TNI diliput oleh wartawati Gadis Rasjid yang sekaligus merupakan wartawan pertama yang menginjakkan kakinya di kota Madiun setelah pembebasan. Ia bergabung bersama Batalyon Sambas sejak keberangkatannya dari Tawangmangu hingga Madiun.

Selama mengikuti operasi ia memperoleh kesan bahwa prajurit Siliwangi sangat berdisiplin. Mereka hanya berpegang kepada perintah untuk memukul PKl dan perintah ini dilaksanakan dengan baik. Sambutan rakyat pada rute yang dilalui tidak selalu sama. Ada yang menyambut secara meriah dengan menyediakan makanan di atas meja dan air kendi secara spontan. Ada yang takut menyambut dan ada pula yang tidak berbuat apa-apa. Namun di antara mereka ada yang menyambut sebagai tipu muslihat. Selain makanan diperoleh pula informasi tentang daerah-daerah rawan yang banyak dihuni pasukan atau pengikut PKl. Informasi tentang situasi kota Madiun diperoleh dari anak-anak pelajar di sekitar Uteran, yang bersekolah di kota Madiun, yang setiap hari mereka pulang pergi naik kereta api. Selain itu anggota pasukan juga menyaksikan sendiri bukti-bukti kekejaman orang-orang PKl.

Situasi kota Madiun sewaktu pasukan TNI pertama kali masuk sangat sunyi dan lengang. Semua toko tutup. Barang-barang dalam pasar berantakan ditinggalkan oleh pedagangnya, penduduk menutup pintu rumahnya. Suasana ketakutan sangat mencekam. Pasukan-­pasukan PKl telah lari meninggalkan kota, sehingga pertempuran frontal tidak pernah terjadi. Karena tidak tahu situasi, rakyat takut memberikan bantuan kepada TNI.[15]

Laporan situasi segera disampaikan kepada Komandan Operasi. Pada tanggal 1 Oktober 1948 Komandan Batalyon Mayor Sambas dengan naik kendaraan, berangkat menuju Plaosan melaporkan situasi kepada Komandan Brigade Letnan Kolonel Sadikin dan Panglima KRU.[16]

Brigade Sadikin segera memasuki Madiun. Letnan Kolonel Sadikin segera mengadakan konsolidasi pasukan. Gubernur Militer Gatot Soebroto untuk sementara mengangkat Sadikin menjadi Residen Militer Madiun. Kekosongan jabatan pemerintahan sipil segera diisi. Sewaktu pemberontakan meletus, Samadikun, Residen Madiun sedang tidak berada di tempat sehingga terjadi kekosongan. Pengangkatan Sadikin berdasar wewenang yang ada pada Gubernur Militer. Demikian pula Soediro Residen Surakarta, yang telah dimiliterisasi diberi pangkat Letnan Kolonel diangkat menjadi Residen Militer Surakarta oleh Gubernur Militer Gatot Soebroto. Selanjutnya Soediro, oleh Kementerian Dalam Negeri, ditetapkan pula sebagai Residen Koordinator di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Gubernur Militer yang meliputi Surakarta, Madiun, Semarang dan Pati. Dalam suatu pertemuannya dengan Sadikin selaku Residen Militer Madiun, Soediro membicarakan siapa tokoh yang dinilai mampu mengendalikan pemerintahan sipil di Madiun. Akhirnya ditetapkan Ardiwinangun, seorang pegawai tinggi Departemen Dalam Negeri sebagai Residen Madiun dengan dibantu Sanusi Hardjadinata.[17]

Setelah sepuluh hari Madiun dibebaskan, Mayor Sambas ditarik ke Staf Brigade dan diserahi tugas mengatur logistik. Kedudukan sebagai Komandan Batalyon digantikan oleh Kapten Darsono, sehingga batalyonnya berganti sebutan menjadi Batalyon Darsono.[18] Di dalam melaksanakan tugasnya di kota Madiun, Batalyon Sambas berhasil menguasai dan mengamankan tempat pencetakan uang RI yang terletak di selatan kota. Di sini masih tersisa uang kertas yang rupanya tidak sempat dibawa lari musuh. Sebagian ada yang belum selesai dicetak, baru tercetak sebelah, yang kemudian dibakar. Sedang yang utuh disimpan untuk sewaktu-waktu dipergunakan.[19]

Sementara Madiun direbut, pasukan lain telah tersebar menuju sasaran yang telah ditentukan. Batalyon Daeng dari Plaosan bergerak ke Maospati lewat jalan lain di pinggir kota Magetan, untuk mengejar waktu agar segera dapat menguasai Maospati beserta pangkalan udaranya yang vital.

Di kota Maospati sebelum terjadi pemberontakan ditempatkan satu batalyon, yaitu Batalyon Suprapto Sokowati (SS). Komandan Batalyon Mayor Suprapto Sokowati saat itu sedang mengikuti pendidikan dan reuni perwira di Magelang. Khusus untuk pengamanan pangkalan udara ditempatkan satu setengah kompi Pasukan Pertahanan Pangkalan Udara Maospati dibawah pimpinan OMO II (Opsir Moeda Oedara II) R. Suprantyo. Setelah pecahnya pemberontakan, Batalyon SS meninggalkan Maospati bergerak ke arah utara mendekati daerah perbatasan Madiun-Surakarta. Pasukan Pertahanan Pangkalan Udara tetap berada di lingkungan pangkalan dalam keadaan siaga menunggu datangnya pasukan pemerintah, meskipun senjata dan pangkalan praktis telah dikuasai kaum pemberontak.

Batalyon Daeng dengan mudah memasuki Maospati karena tidak ada perlawanan. Pasukan pemberontak meninggalkan pos pertahanannya setelah mendengar akan datangnya pasukan pemerintah. Untuk pengamanan, pasukan Daeng kemudian melakukan pembersihan. Berkat informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pihak TNI, maka banyak tokoh PKI yang berhasil ditangkap. Dan pangkalan udara dapat dipergunakan kembali. Hal ini terbukti dengan mendaratnya sebuah pesawat udara dengan pilot Suharnoko Harbani yang membawa Kolonel Hidayat, Wakil I Kepala Staf Angkatan Perang dari Yogya. Kedatangannya membawa instruksi Menteri Pertahanan Bung Hatta, antara lain agar Batalyon Daeng segera bergerak ke Utara melakukan pembersihan di daerah Cepu dan Blora

Dalam gerakan menuju utara turut serta Panglima KRU Kolonel drg. Moestopo bersama rombongan anggota Komisi Tiga Negara (KTN) dari Australia dan wartawati Gadis Rasjid. Batalyon Daeng memerintahkan rakyat mengibarkan bendera Merah Putih di daerah-daerah yang telah berhasil dibebaskan dari kekuasaan kaum pemberontak.[20]

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Disjarah Dam VI/Siliwangi, opcit.,hal. 154

[3]     Wawancara dengan Mayjen (Purn) Sambas Atmadinata, Jakarta, 12 April 1976

[4]     Wawancara dengan Kolonel (Pur) H. Omon Abdoerrachman, 30 Juni 1976

[5]     Kompi “Rn, op.cit.,hal. 11-13, terakhir Letnan Jenderal.

[6]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Sambas Atmadinata

[7]     Wawancara dengan Mayjen (Pum) Mursjid, 15 April 1976, Cikar ialah sejenis gerobak yang ditarik sapi

[8]     Wawancara dengan Mayjen (Pum) Sambas Atmadinata

[9]     Wawancara dengan Mayjen (Pur) Mursjid

[10]    Wawancara dengan Mayjen (Purn) Sambas Atmadinata

[11]    Idem

[12]    Wawancara dengan Letkol Sjafei, Jakarta, 12 April 1976

[13]    Wawancara dengan Mayjen (Purn) Sambas Atmadinata

[14]    Ibid

[15]  Wawancara dengan Nona Gadis Rasjid, Jakarta, 3 Mei 1976, selanjutnya sebagian kisahnya dapat diikuti di Majalah Siasat, 24 Oktober 1948.

[16]    Wawancara dengan Mayjen (Pur) Sambas Atmadinata.

[17]    Wawancara dengan Soediro, Jakarta, 12 Mei 1976

[18]    Wawancara dengan Kolonel (Purn) H. Omon Abdoerrachman

[19]    Wawancara dengan Mayjen (Purn) Sambas Atmadinata

[20]    Wawancara dengan Mayor (Purn) daeng Muhammad Ardiwinata

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*