OMAR DANI DILANTIK SELAKU KSAU

OMAR DANI DILANTIK SELAKU KSAU[1]

 

22 Januari 1962

 

Laksamana Muda Udara Omar Dani hari ini dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) baru. Pada pelantikan itu Presiden Sukarno menegaskan lagi, “Meskipun hati kita panas akibat serangan Belanda, namun kita tetap menghendaki penyelesaian damai, berarti perundingan dengan Belanda atas dasar penyerahan pemerintahan atas daerah Irian Barat oleh Belanda kepada Republik Indonesia.”

Dalam masyarakat politik Jakarta tersiar versi berikut mengapa Suryadarma telah diberhentikan dengan hormat selaku KSAU.

Alasannya tidak hanya karena soal peremajaan dalam AURI (Omar Dani berusia 38 tahun) dan juga tidak karena Suryadarma dijadikan penasihat militer Presiden. Alasannya ialah karena Presiden menjadi marah ketika dia mendengar tentang pertempuran laut sekitar Kepulauan Aru.

Ketika itu Presiden mau supaya AURI mengadakan pembalasan dengan segera terhadap Belanda di Irian Barat. “Beuk ze” (hantam mereka), demikian pendirian Presiden. Tetapi Suryadarma mengemukakan AURI  tidak mempunyai cukup pilot untuk mengemudikan pesawat pembom jet jarak jauh (hanya dua orang) dan lagipula bom amunisi tidak cukup. Karena itu Presiden jadi kalap. Ia memutuskan menggantikan Suryadarma.

Sebuah cerita lain yang beredar mengatakan ALRI telah meminta kepada Suryadarma menyediakan pesawat terbang yang akan dipakai mencari Jos Sudarso setelah MTB “Matjan Tutul” tenggelam. Kalau-kalau Jos masih terapung-apung di laut.

Akan tetapi Suryadarma hanya menyanggupi menyediakan pesawat setelah empat lima hari KSAL Martadinata kabarnya menangis karena kehilangan Jos Sudarso, seorang teman seperjuangannya. Kini ditambah pula dengan keterangan Suryadarma tidak sanggup menyediakan segera sebuah pesawat pencari Jos Sudarso. Maka bertambah keras pendirian pihak ALRI supaya KSAU diganti dengan seorang pilot dan ini dijelaskan kepada Presiden.

Saya catat semua ini bukan dengan maksud mengatakan itulah alasan sebenarnya di belakang pemberhentian Suryadarma, melainkan buat sekedar menggambarkan aneka ragam tafsiran orang dalam masyarakat politik.

Hari ini saya bercakap-cakap dengan seorang diplomat dari Kedutaan Besar lnggris. Ia menjelaskan sengketa Irian Barat amat penting bagi Blok Barat. lnggris berkepentingan sekali supaya soal Irian Barat diselesaikan secara damai di PBB. Ia tidak dapat membenarkan digunakannya asas kekerasan dalam menyelesaikan sengketa Irian Barat.

Prinsip rule of law barus ditegakkan. Inggris tidak dapat menyetujui sikap India terhadap Goa baru-baru ini. Begitu juga ketika timbul peristiwa Suez pada tahun  1956, ketika lnggris menyerang Mesir dan PBB menghukum perbuatan Inggris itu, maka dengan serta merta Inggris mentaati pendirian PBB dan tuduk kepadanya. Ini demi mempertahankan the rule of law dan untuk memperkukuh kedudukan PBB.

Selain itu Inggris berpendapat, jika Indonesia menggunakan kekerasan dalam sengketa Irian Barat, maka salah satu akibatnya bisa berwujud bertambahnya kekuatan PKI di dalam negeri. Bagaimana seandainya secara militer Indonesia tidak sanggup menyelesaikan sengketa Irian Barat? Bukankah PKI akan mempergunakan kesempatan itu guna memperkuat kedudukannya karena di dalam negeri akibat-akibat kegagalan demikian akan very severe atau keras sekali, misalnya di bidang ekonomi? tanya diplomat Inggris itu.

Pastilah hal itu menjadi  buah pikiran juga bagi orang seperti Nasution. Karena itu sebaiknya sengketa Irian Barat diselesaikan dengan berunding di PBB, ditambahkan oleh diplomat itu. Saya tanyakan apakah Inggris berusaha melakukan tekanan pada Belanda untuk mengikuti pandangan tadi? Diplomat itu menyahut :

“Oh, yes we re doing just that” (Oh ya, justru itu sedang kami lakukan).

Selanjutnya diplomat Inggris itu menceritakan kepada saya apa yang didengarnya sekitar penangkapan terhadap diri Sjahrir, Roem dan lain-lain baru baru ini. Menurut informasinya, Jaksa Agung Muda Kolonel Muhono SH telah datang kepada Presiden Sukarno membawa sebuah daftar nama dari orang-orang yang disangka membikin sebuah plot atau persekongkolan untuk menjatuhkan Presiden.

Jadi serupa dengan apa yang terjadi bulan Desember lalu ketika beberapa perwira datang kepada Mr. Achmad Subardjo dan memberikan sebuah daftar orang-orang yang telah merencanakan suatu penggulingan Presiden. Ketika itu terjadilah penangkapan-penangkapan atas perintah Presiden dan kini hal itu berulang tatkala Kolonel Muhono membawa daftar tadi, demikian cerita anggota Kedutaan Besar Inggris kepada saya.

Sementara itu sore tadi kira-kira pukul lima Sjahrir pulang sebentar ke rumahnya di Jalan HOS Cokroaminoto dengan diiringi oleh CPM. Waktu itu dilakukan penggeledahan atas kertas-kertas dan surat-surat yang terdapat yang kemudian diangkut oleh petugas-petugas tersebut. Sjahrir masih sempat membisikkan.

Bersama dengan Roem dia kini telah dipindahkan ke Kebayoran, jadi tidak lagi mereka ditahan di Jalan Hayam Wuruk. Tetapi Sjahrir tidak mengatakan di mana persis di Kebayoran itu.

Seorang wartawan luar negeri menceritakan kepada saya bahwa surat Bung Hatta kepada Presiden sudah disampaikan pada tanggal 20 Januari. Dalam  surat itu Hatta menulis dia tidak setuju dengan tindakan penangkapan terhadap Sjahrir dan kawan-kawannya. Setelah surat disampaikan Hatta lantas masuk rumah sakit untuk  check-up. Barangkali Hatta mau menyatakan dirinya sakit diplomatik, kata wartawan itu dengan ketawa. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 168-171.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*