Ofensif Revolusioner PKI (7): Gerakan Turun ke Bawah (TURBA) tokoh-tokoh PKI

Ofensif Revolusioner PKI (7): Gerakan Turun ke Bawah (TURBA) tokoh-tokoh PKI [1]

cropped-monumen-icon.pngGerakan Turun ke Bawah (Turba), artinya adalah bersatu dengan rakyat, satu pandangannya, satu sikapnya, satu denyut nadi, dan denyut jantungnya.[2] Wakil Sekjen PB. FN. Anwar Sanusi dalam konferensi pers menyatakan bahwa Turba adalah suatu metode kerja yang merupakan aspek kepemimpinan Indonesia untuk mengenal situasi, aspek yang obyektif.[3]

Pengertian Turba yang lain, menurut Anwar Sanusi adalah mengintegrasikan diri dengan massa rakyat secara terorganisasi, langsung terjun di tengah-tengah rakyat dengan mengadakan penyelidikan dan penelitian baik secara vertikal maupun horizontal, dan melaksanakan prinsip perpaduan teori dan praktek untuk dapat menyusun konsepsi – konsepsi yang revolusioner, sesuai dengan kepentingan rakyat, dan untuk membantu gerakan revolusioner rakyat di segala bidang.

Anwar Sanusi selanjutnya menyatakan bahwa Turba yang mengubah watak dan cara hidup para petugas dan terutama para pemimpin bertujuan untuk meningkatkan daya juang dan seluruh aparat Front Nasional dan alat-alat revolusi lainnya. Syarat bagi petugas Turba adalah memiliki pengertian, meresapi,dan mempraktekkan “Lima Azimat” Revolusi Indonesia ajaran Bung Karno (Pancasila, Nasakom, Manipol, Trisakti Tavip, Berdikan).

Menurut D.N. Aidit, Turba bukan hanya ke desa saja, dan bukanlah pekerjaan musiman, tetapi sesuatu yang harus kita lakukan terus menerus.[4] Pemimpin-pemimpin PKI di antaranya D.N.Aidit, Njoto, MH. Lukman, Sudisman telah mengadakan gerakan turun ke bawah (Turba) sekitar tahun 1964/1965, yang dilaksanakan baik di ibu kota maupun ke daerah-daerah Jawa dan luar pulau Jawa. Dalam periode tahun 1964, Turba yang telah dilaksanakan antara lain:

Sudisman, anggota Polit Biro CC PKI dalam penutupan Konferensi PKI Pasar Rebo, Jakarta menyampaikan hasil-hasil sidang Pleno II CC PKI, menyatakan antara lain:

“Mari kita ganyang imperialisme Inggris. Dengan semangat banteng, kita harus berani menundukkan kekurangajaran Inggris”.

Njoto, Wakil Ketua II CC PKI, dalam sidang Pelno VIII Comite Daerah Besar PKI Sumatera Utara di Medan pada tanggal 8 Februari 1964, juga memberikan pengarahannya. Inti pokok pidato Njoto di Medan adalah : “dengan berpedoman kepada keputusan­-keputusan sidang Pleno II CC PKI, maka semua kader, aktivis, dan anggota PKI harus menggembleng diri, siap siaga secara politik dan ideologi untuk tugas-tugas yang besar dan mulia. Tugas menyelesaikan tuntutan Revolusi Agustus yaitu Revolusi Nasional Demokratis, sampai ke akar-akarnya. Siap siaga secara politik dan ideologi bukan hanya untuk menempuh udara yang cerah ceria tetapi juga hujan lebat dan badai taufan”.[5]

D.N. Aidit, Ketua CC PKl/Menko/Wakil Ketua MPRS telah memberikan ceramah pada latihan Kemiliteran Pegawai Sipil Departemen Luar Nageri tanggal 11 Februari 1964. Judul ceramahnya “Marxisme – Leninisme dan Pengindonesiaannya”. Aidit menegaskan Marxisme – Leninisme bukan dogma tetapi pedoman untuk bertindak.[6]

Selanjutnya pada tanggal 17 Maret 1964, D.N. Aidit memberikan ceramah di Seskoau. Ia mengatakan bahwa partainya (PKI) hanya membenarkan pengganyangan “Malaysia” secara revolusioner, dan menolak cara-cara yang reformis ataupun avonturis. Ia menyambut hangat seruan Presiden Soekarno untuk mengadakan gerakan sukarelawan mengganyang Malaysia.[7]

Pada hari Minggu tanggal 31 Mei 1964, dalam rangka memperingati ulang tahun ke-44 PKI, di alun-alun Tegal Jawa Tengah berlangsung rapat umum PKI yang dikunjungi oleh + 50.000 pengunjung. Dalam rapat tersebut, D.N. Aidit berpidato antara lain sebagai berikut :

Tentang Pancasila, PKI mengutuk siapa saja yang menggunakan Pancasila untuk memecah belah kekuatan revolusioner dan memecah belah Nasakom. Pancasila tidak terpisahkan dari gagasan Bung Karno tentang Nasakom, yang dicetuskan dalam tahun 1926, dan dimuat dalam tulisan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Setuju Pancasila harus setuju Nasakom dan setuju Nasakom, harus setuju Pancasila. Inilah ketegasan sikap PKI.

1) Mereka yang anti komunis sekarang adalah calon-calon anti Republik Indonesia dan anti Soekarno.

2) Hidup Dwi Tunggal PKI dan TNI, dan untuk tertib Sipil bantu Polisi.[8]

Peringatan ulang tahun ke-44 PKI di Makassar pada tanggal 24 Mei yang dilangsungkan di gedung olahraga Mattoangin Makasar, dikunjungi oleh 7000 kaum buruh, tani, wanita, pemuda, pelajar, mahasiswa, pekerja kebudayaan, dan massa PKI. Dalam peringatan itu, hadir Sundjono utusan CC PKI, Aminudin Muchlis Sekretaris I Comite PKI Sulsel, M. Saleh Lawa dari PDFN Sulselra, yang mewakili golongan agama (PSII) serta Residen Maladjong mewakili gubernur. Sundjono mengemukakan sejarah PKI sejak lahirnya. Menurut Sundjono tugas PKI saat itu, bersama kekuatan segenap rakyat, ialah harus maju ke depan menanggulangi segala kesulitan. Aksi-aksi sepihak yang berlangsung di daerah-daerah adalah adil. Aksi-Aksi sepihak kaum tani muncul karena pelaksanaan UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) dan UUPBH (Undang-Undang Pokok Bagi HasH) tidak jalan. [9]

Pada tanggal 10 Juni 1964, Ketua CC PKI D.N. Aidit memberikan ceramah pada Sidang Pleno III Dewan Nasional Pemuda Rakyat di Jakarta. Dalam pidatonya, D.N. Aidit mengemukakan hal-hal sebagai berikut: “Anggota-anggota Pemuda Rakyat adalah komunis- komunis muda. Segala yang berlaku untuk anggota PKI pada umumnya juga berlaku untuk anggota-anggota Pemuda Rakyat. Sekarang anggota-anggota PKI, temtama kader-kadernya sedang giat mengintensifkan pembajaan diri dan pendidikan diri. Jadi, anggota-anggota Pemuda Rakyat harus mengintensifkan pembajaan diri dan pendidikan diri. Kita harus mengintensifkan pembajaan dan pendidikan diri , karena kita mau menjadi komunis-komunis yang baik, dan lebih baik lagi.” Apalagi Pemuda Rakyat adalah jantung hatinya PKI, jantung hati CC PKI, dan jantung hati saya pribadi.[10]

Pada tanggal 14 Juni 1964 di Solo diadakan Kongres Badan Koordinasi Usaha-Usaha Nasional (BAKUNA). Dalam Kongres tersebut, D.N. Aidit memberikan sambutan yang antara lain menyatakan bahwa politik PKI mengenai kaum pengusaha nasional adalah sesuai dengan teori revolusi Indonesia yaitu keharusan dilaluinya dua tahap revolusi, yaitu tahap nasional demokratis anti imperialisme dan anti feodalisme, dan tahap sosialis. PKI selalu berusaha untuk mengajak dan mendorong supaya kaum pengusaha nasional mengambil bagian aktif di dalam perjuangan anti imperialisme bersama-sama rakyat pekerja.[11]

Pada tanggal 28 Juli 1964 bertempat di Balai Prajurit Diponegoro Semarang, Menko/Wakil Ketua MPRS/Ketua CC PKI D.N. Aidit dalam kuliah umum di depan mahasiswa Akademi Ilmu Politik “Bachtaruddin” menyampaikan pokok-pokok kesimpulan dari gerakan riset agraria di P. Jawa. la menyampaikan bahwa mereka yang tidak pernah riset, tidak berhak berbicara.[12]

Perlu diketahui, PKI pernah riset tentang keadaan kaum tani dan gerakan tani di pulau Jawa yang diselenggarakan bulan Februari sampai dengan Mei 1964. Petugas riset terdiri atas para pemimpin organisasi massa PKI, mahasiswa dan pelajar, aktivis-aktivis gerakan tani, buruh, dan wanita. Dalam pelaksanaannya, riset tersebut dipimpin langsung oleh Aidit. Riset di Jawa Barat dilaksanakan oleh kira-kira 40 orang petugas pada bulan Februari sampai dengan Maret 1964, langsung dipimpin Aidit. Desa yang diriset adalah desa Rancah (Ciamis), Haur geulis (Indramayu), Bodjong Picung (Cianjur), Sagala werang (Subang), Rengasdengklok (Krawang), Sagaranten (Sukabumi), Cipeundeuy dan Ciwidey (Bandung), Serpong (Tangerang), Lemah Abang (Cirebon), Warung Gunung (Lebak), Cimanggis (Bogor), Kandang Haur (Indramayu), Cisompet (Garut), Jati Tujuh (Majalengka), Wanaraja (Garut), Padaherang (Ciamis), Nagrak (Sukabumi), Labuhan(Pandeglang), Karang Nunggal (Tasikmalaya), Ciomas, Cijeruk (Bogor), dan Cimalaka (Sumedang).

Dari semua laporan petugas riset, disimpulkan bahwa gerakan kaum tani di Jawa Barat sedang pasang (memuncak) dalam rangka pelaksanaan UUPA dan UUPBH. Di Jawa Barat dijumpai kegiatan mengganyang “7 setan desa”, yaitu tuan tanah jahat, lintah darat, tengkulak jahat, tukang ijon, kapitalis birokrat, penguasa jahat, bandit-bandit desa.[13]

Riset di daerah Jawa Tengah dilakukan tanggal 11 April – 30 Mei 1964. Sasaran riset adalah keadaan kaum tani, gerakan tani dan keadan seni dan sastra di kalangan kaum tani terutama dalam hubungannya dengan gerakan kaum tani. Desa di Jawa Tengah yang diriset ialah Banjarharjo (Brebes), Wiradesa dan Kedungwuni (Pekalongan), Weleri dan Singorojo (Kendal), Demak (Demak), Jekula dan Undaan (Kudus), Pecangaan (Jepara), Winong dan Batangan (Pati), Kaliori dan Sarang (Rembang), Kedungtuban (Blora), Gundih (Purwodadi), Bringin (Semarang), Cepogo (Boyolali), Kartasura dan Mojolaban (Sukaharjo), Pracimantoro (Wonogiri), Plajen (Gunung Kidul), Galur (Kulonprogo), Petonahan (Kebumen), Cimanggu (Cilacap), Pekuncen,Sumbang (Purwokerto), Karang moncol (Purbalingga), Muntilan (Magelang), Kepil (Wonosobo), dan Masaran (Sragen).[14]

Di Jawa Timur gerakan riset tersebut dilakukan tanggal 11 April – 22 Mei 1964. Sasarannya adalah 74 kecamatan daerah pertanian dari 30 kabupaten. Dikerahkan 134 petugas riset dan 1500 petugas dikecamatan-kecamatan dan desa-desa. Riset tidak hanya menyangkut keadaan kaum tani dan gerakan tani, tetapi juga keadaan kaum miskin di kota, keadaan sastra dan seni rakyat.

Kecamatan yang diriset adalah: Kanor dan Ngraho (kabupaten Bojonegoro), Brondong dan Leran (Lamongan), Palang dan Plumpang (Tuban), Wungu dan Caruban (Madiun), Geneng, Karangjati, Kedunggalar (Ngawi), Sambit, Badegan (Ponorogo), Karangmojo dan Plaosan (Magetan), Pacitan dan Punting (Pacitan), Pakel, Campurdarat (Tulungagung), Trenggalek, Wates, Grogol (Kediri), Wlingi, Gandusari, Ponggok (BIitar), Patianrawa, Gonclang (Nganjuk), Batu, Singosari (Malang), Bangil, Puspo (Pasuruan), Dringu, Sukopuro (Probolinggo), Canclipuro,Jatiroto (Lumajang), Genteng (Banyuwangi), Ambulu, Puger, Tanggul (Jember), Panarukan dan Kapangan (Situbondo), Tlogosari dan Sukosari (Bondowoso), Dasuk, Gapuro (Sumenep), Sampang (Sampang), Bangkalan dan Secang (Bangkalan), Waru dan Pademasren (Pamekasan), Gedongan,Jabon, Krian (Sidoarjo), Trowulan, Gade (Mojokerto), Bareng dan Tembalang (Jombang), Bawean, Gresik dan Tandes (Surabaya), Tambaksari, Wonokromo (Surabaya Kota), Klojen dan Kedungkandang (Malang kota).[15]

Kesimpulan riset di Jawa Tirnur ialah antara lain pelaksanaan metode “3 Sama” (sama kerja, sama makan, sama tidur dengan petani), tidak hanya telah membentuk dan memperkuat watak komunis tetapi ia juga adalah metode ilmiah, metode Marxis dalam melakukan riset agraria dan gerakan tani.[16] Dengan metode “3 sama” itu, buruh tani dan tani miskin akan membuka segala isi hatinya kepada petugas-petugas riset sehingga para petugas bias mendapatkan fakta-fakta tentang persoalan kaum tani. Menurut PKI, di Jawa Timur juga terdapat “7 setan desa”. Selain itu juga disimpulkan bahwa semangat perjuangan kaum tani dan nelayan Jawa Timur melawan penghisapan-penghisapan sangat tinggi, misalnya pada buruh dan nelayan di Banyuwangi, Kediri, Ngawi, Magetan dan lain-lain. Tentang kaum miskin kota, harus segera diorganisasi untuk membantu meringankan beban mereka.

Dalam rangka pelaksanaan proyek-proyek MPRS, pada bulan September 1964, D.N. Aidit ikut serta menghadiri Rapat dinas Kepala-kepala Jawatan dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (NIT) di Waingapu. Dalam rapat itu, ia mengatakan antara lain bahwa “Revolusi” bukan tata buku yang memperhitungkan sekian uang masuk, sekian uang yang keluar dan kalau defisit berarti bangkrut. Jika kita hanya melihat angka­-angka pemasukan dan pengeluaran negara, maka Republik kita sudah lama bangkrut. Tetapi Republik tidak bangkrut. Malahan kita mau jadi salah satu mercusuar dalam perjuangan revolusioner umat manusia.[17]

Dalam periode tahun 1965, PKI menyelenggarakan

serangkaian kunjungan tokoh-tokoh ke daerah-daerah. Dalam bulan Januari 1965, Wakil Ketua II CC PKI Njoto mengadakan kunjungan ke Lumajang. Di halaman kabupaten Lumajang yang dihadiri oleh lebih kurang 5000 massa rakyat, Njoto menegaskan konfrontasi dengan Malaysia maupun terhadap tuan tanah harus dilakukan dengan berani. Dia mengupas juga soal ekonomi yang menekankan mutlaknya kesetiaan kepada Dekon itu dengan semboyan “Berani, berani, sekali lagi berani”.[18]

Selain ke Lumajang, Njoto menghadiri pula rapat raksasa PKI di stadion Tambaksari Surabaya pada tanggal 31 Januari 1965, yang dihadiri oleh lebih kurang 200.000 orang. Dalam pidatonya ia menyatakan ganyang kaum kabir, ganyang setan­ setan desa dan landreform sebagai bagian mutlak revolusi. Di Probolinggo dan Pasuruan, ia juga berpidato dalam tema yang sama. Pada tanggal 31 Januari 1965 di alun-alun Solo, M.H. Lukman, Wakil Ketua CC PKI berpidato di depan 750.000 massa PKI. Dalam bahasa Jawa ia mengatakan antara lain:

  • Mendukung deklarasi Bogor
  • Mendukung deklarasi Indonesia ke luar dari PBB.
  • Mendukung Musyawarah partai-partai Pengikut Front Nasional supaya sokoguru-sokoguru revolusi (buruh dan tani) dipersenjatai. UUPA (UU Pokok Agraria) dan UUPBH (UU Pokok Bagi Hasil) segera dilaksanakan.
  • Dinasti ekonomi supaya dibersihkan dari anasir-anasir bekas partai terlarang, Manikebu, BPS, Murba.
  • Segera dibentuk kabinet Gotong Royong berporos Nasakom.[19]

Dalam bulan Februari 1965, MH. Lukman dalam kunjungannya ke Purwokerto menegaskan bahwa untuk melenyapkan dinasti ekonomi jalannya satu yaitu menggalang persatuan nasional revolusioner berporos Nasakom.

Di Medan, diselenggarakan pula rapat umum PKI yang berlangsung tanggal 26 Februari 1965. Rapat umum PKI itu dihadiri WPM Dr. Subandrio, Menteri/Sekjen FN Sudibyo, dan Menteri Negara/Ketua II CC PKI Njoto.1[20] Njoto menyerukan kepada seluruh kaum komunis di Medan untuk terus memperkuat persatuan nasional. PKI milik revolusi Indonesia, kepribadian kita kepribadian Nasakom.

Pada bulan April 1965 , Ketua CC PKI DN. Aidit memberikan serangkaian kuliah umum, antara lain di Sekolah Pertanian “Egom” di Cisarua Bogar pada tanggal 3 April 1965 . Dalam kuliah umum ini, ia menegaskan bahwa: Semangat revolusioner untuk mengganyang setan-setan desa harus terus ditingkatkan, dengan jalan lebih banyak melakukan kerjasama dalam bidang pertanian supaya lebih mengenal kejahatan tuan tanah yang menindas kaum tani.

Karena kita bertanggung jawab terhadap pelaksanaan politik “berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi”, kita juga harus meningkatkan semangat mempertinggi produksi bersamaan dengan semangat revolusioner mengganyang setan-setan desa.[21]

Ceramah D.N. Aidit pada tanggal 6 April 1965 di Akademi Ilmu Sosial ”Ali Archam” menekankan agar para siswa memahami situasi revolusioner dewasa ini sebaik-baiknya.[22]

ltulah gerakan turba yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin PKI dalam tahun 1964/1965. Kesemuanya itu bertujuan untuk memanaskan situasi dalam masyarakat menjelang peristiwa G.30.s/PKI.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Majalah PERSEPSI, Edisi Khusus, Desember 1989, hal. 173

[3]     Suluh Indonesia, 4 Agustus 1965

[4]     Keterangan DN. Aidit pada pandangan peserta-peserta KSSR pada tanggal 1 September 1964 yang dimuat dalam Harian Rakjat Minggu, 7 Februari 1965

[5]     Harian Rakjat, 10 Februari 1964

[6]     Harian Rakjat, 2 Juni 1964

[7]     Harian Rakjat, 23 Maret 1964

[8]     Harian Rakjat, 2 Juni 1964

[9]     Harian Rakjat, 4 Juni 1964

[10]    Harian Rakjat, 11. Juni 1964

[11]    Harian Rakjat, 15 Juni 1964

[12]    Warta Bhakti, 29 Juli 1964

[13]    Harian Rakjat, 31 Maret 1964

[14]    Harian Rakjat, 5 Juni 1964

[15]    Harian Rakjat, 3 Juni 1964

[16]    Harian Rakjat, 3 Juni 1964

[17]    Warta Bhakti, 21 September 1964

[18]    Harian Rakjat, 1 Februari 1965

[19]    Harian Rakjat, Februari 1965

[20]    Harian Rakjat, 27 Februari 1965

[21]    Bintang Timur, 6 April 1965

[22]    Bintang Timur, 9 April 1965

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*