Ofensif Revolusioner PKI (2): Ofensif Revolusioner Terhadap Partai Murba

Ofensif Revolusioner PKI (2): Ofensif Revolusioner Terhadap Partai Murba [1]

 

 

cropped-monumen-icon.pngPermusuhan antara PKI dan pengikut Tan Malaka yang kemudian membentuk Partai Murba berlatar belakang sejarah pertentangan antara dua tokoh Partai Komunis Rusia, Stalin dan Trotsky. Di Indonesia permusuhan ini terjadi sejak gagalnya huru­-hara PKI tahun 1926 sampai pada masa Demokrasi Terpimpin. Pada babak pertama sejak ofensif manipolisnya dicanangkan, PKI berhasil menggulung aktivitas pendukung Partai Murba. Media massa partai ini dan organisasai Badan Pendukung Soekarnoisme pendukung partai ini, dituduh mengkhianati Soekarno. Tuduhan PKI berupa: “to kill Soekarno with Soekarnoism”, membunuh Soekarno dengan Soekarnoisme.

Pada babak kedua, dalam bulan Desember 1964 partai Murba melakukan balasan. Di hadapan partai-partai politik lainnya, Wakil Perdana Menteri III Chairul Saleh “menelanjangi” PKI. Partai Murba menemukan dokumen rahasia PKI yaitu suatu dokumen yang berisi rencana-rencana rahasia PKI dalam upayanya merebut kekuasaan negara. PKI secara mati-matian membantahnya dan menyatakan dokumen tersebut palsu buatan kaum Trotskis Pertentangan ini demikian menajam, sampai Presiden Soekarno memanggil partai-partai politik yang lain. Pemimpin-pemimpin partai politik “dikonsinyir” di Istana Bogor, untuk meredakan kecurigaan partai­-partai lain terhadap PKI. PKI menuduh Partai Murba merusak persatuan Nasakom. Ketegangan dan kecurigaan partai-partai politik yang lain terhadap PKI diselesaikan dalam Musyawarah Bogor itu, dengan menandatangani “Deklarasi Bogor”, tanggal 15 Desember 1964.

PKI yang “tertelanjangi” rupanya bisa meyakinkan Presiden Soekarno bahwa dokumen tersebut benar-benar palsu. Partai Murba dihukum dengan pembekuan sementara semua kegiatannya. Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/KOTI dalam Surat Keputusannya No. 1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 menetapkan untuk melarang sementara waktu partai politik “Murba” baik pimpinan pusat, daerah, cabang, dan sebagainya maupun para anggota termasuk pula semua organisasi massa dan lembaga-lembaga lainnya yang berinduk dan bernaung pada partai politik Murba, melakukan kegiatan apapun.[2] Alasan dari dasar pelarangan terhadap Partai Murba sekalipun tidak jelas, namun Presiden Soekarno yakin partai itu membuat kesalahan. Sejak itu PKI melakukan serangan dengan gencar, menuduh orang-orang Partai Murba sebagai golongan pemecah-belah Nasakom, pemecah belah kaum buruh, juga sebagai golongan yang menghalangi aksi-aksi dan gerakan anti imperialis.

Orang-orang Murba dikejar-kejar dan dituduh pula sebagai golongan yang menghancurkan perekonomian rakyat, dengan menganjurkan di perbanyaknya uang beredar sejumlah 200 milyar rupiah dan membela kenaikan harga beras dan bensin. Mereka juga dituduh giat dalam menyebarkan komunisto phobi, antara lain menyebarkan pendapat bahwa PKI adalah musuh yang paling berbahaya.[3]

Selain itu orang-orang Murba dianggap sebagai golongan yang menentang Keppres No. 72-73/64 tentang pembubaran “BPS”, juga yang mengotaki penerbitan surat-surat kabar baru dan pusat-pusat penerangan sebagai penerus BPS. PKI berusaha keras melumpuhkan lawannya sampai ke akar-akarnya. Dengan menggunakan Keppres/ Pangti ABRI/KOTI No. 1/KOTI/1965, diadakan tindakan-­tindakan terhadap tokoh-tokoh Murba antara lain terhadap Pandu Kartawiguna salah seorang tokoh partai Murba. SBPA (Serikat Buruh Pekabaran “Antara”) organisasi massa PKI dalam rapatnya hari Senin 8 Januari 1965 memutuskan mendesak kepada Presiden Soekarno selaku pimpinan tertinggi LKBN (Lembaga Kantor Berita Nasional) “Antara” dan Waperdam I Dr. Subandrio selaku Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara,[4] menonaktifkan untuk sementara tokoh partai Murba Pandu Kartawiguna dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Pimpinan LKBN “Antara”. Dalam rapat itu dituntut pula supaya memecat tokoh-tokoh BPS dan Manifes Kebudayaan dari jabatan dan fungsinya di LKBN “Antara” yaitu antara lain Drs. Sunaryo (Kepala Cerita Ilmiah dan juga tokoh BPS), A. Hakim (Sekretaris LKBN Antara, Tokoh BPS), Wiwiek Hidayat (Kepala Cabang LKBN “Antara Medan, tokoh BPS dan Manifes Kebudayaan).[5]

Di Jawa Timur, Delegasi Besar Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) organisasi pelajar yang bernaung di bawah PNI, ikut-ikutan “mengganyang” Murba. Pada bulan Februari 1965 mereka telah mendatangi Kantor Partai Murba Jawa Timur, Jalan Kapuas Surabaya. Mereka melakukan aksi corat-coret dan menurunkan papan nama Partai Murba.[6] Papan nama tersebut kemudian diserahkan kepada Front Nasional Surabaya. Delegasi GSNI Surabaya melakukan aksi-aksi/tindakan tersebut dengan dalih melaksanakan keputusan Presiden No. 1/65 tanggal 6 Januari tentang Pembekuan Sementara kegiatan Partai Murba itu.

Sementara itu Pengurus Besar Front Nasional (PBFN) yang dikuasai oleh PKI dalam Keputusannya No. 008/KPTS/ PBFN/1/1965 tertanggal 7 Januari 1965, memutuskan untuk sementara waktu Partai Murba, baik pimpinan pusatnya, daerah, cabang, dan sebagainya, maupun anggota-anggotanya termasuk organisasi-organisasi yang berinduk dan bernaung di bawahnya dinonaktifkan keanggotaannya dari Front Nasional (FN).[7]

Begitu pula Serikat Buruh Percetakan Indonesia (SBPI SOBSI) mengirimkan kawatnya kepada Direktur/Pimpinan Percetakan Negara yang isinya agar “meretool (ritul) atau mengganti anggota­-anggota Partai Murba sebagai aparat revolusi, karena orang-orang Murba telah melakukan politik pemecah-belah di kalangan buruh percetakan” .[8] Demikian kuatnya desakan PKI pada masa ofensif revolusioner ini sehingga akhirnya Presiden/Pangti ABRI/ Pembesrev /Panglima Besar KOTI, Soekarno dengan Keputusan No. 291/1965 tanggal 21 September menetapkan membubarkan partai politik Murba, termasuk bagian-bagian/cabang-cabang/ ranting-rantingnya di seluruh wilayah Republik Indonesia. Keputusan itu diumumkan oleh Menteri Jaksa Agung Brigjen Sutardhio.[9]

Setelah partai Murba dibubarkan, PKI masih menuntut agar lembaga pemerintahan dibersihkan dari unsur-unsur Murba dan Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI) yang dinilai sebagai sosialis kanan. Demikianlah ofensif revolusioner PKI menghantam lawan utamanya Partai Murba, karena partai PKI tidak pernah merasa aman.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Harian Rakjat, 7 Djanuari 1965

[3]     Harian Rakjat, 8 Djanuari 1965

[4]     Harian Rakjat, 9 Djanuari 1965

[5]     Harian RakJat, 9 Djanuari 1965

[6]    Warta Bhakti, 8 Februari 1965

[7]     Harian Rakjat,9 Djanuari 1965

[8]     Harian Rakjat,9 Djanuari 1965

[9]     H. Rosihan Anwar, Sebelum Prahara, Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965,Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1980, hal. 543

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*