Ofensif Revolusioner PKI (1): Ofensif Revolusioner dan Sasarannya

Ofensif Revolusioner PKI (1): Ofensif Revolusioner dan Sasarannya[1]

 

 

cropped-monumen-icon.pngMenurut PKI, ofensif revolusioner adalah seluruh aksi untuk menciptakan “situasi revolusioner” dengan menggalang kekuatan progresif revolusioner untuk menghancurkan Oldefo (Old Established Forces) dan Nekolim (Neo kolonialisme-imperialisme). Aksi-aksi itu dilakukan di seluruh bidang kehidupan, baik dengan cara aksi massa yang terbuka, (seperti demonstrasi, aksi tuntutan, mogok), maupun aksi yang tertutup (bloc within, infiltrasi menyulut kontradiksi langsung ke tubuh partai politik, organisasi masa, dan ABRI) atau sabotase sampai tercapainya situasi revolusioner. Ciri­-ciri utama dari situasi revolusioner menurut PKI ialah :

  1. Massa rakyat aktif melakukan aksi-aksi menuntut perubahan yang dapat memperbaiki penghidupan mereka.
  2. Kelompok “anti rakyat” (baca anti komunis) dalam kekuasaan politik semakin terdesak, segi “pro rakyat” (baca komunis) makin unggul dan politik pemerintah makin banyak disesuaikan dengan tuntutuan-tuntutan rakyat.
  3. Aksi massa makin meluas sehingga peranan rakyat makin besar dan makin menentukan dalam kehidupan masyarakat dan politik negara.[2]

Ofensif revolusioner secara resmi dikomandokan oleh Ketua Politbiro CC PKI D.N. Aidit kepada seluruh jajaran PKI pada 1 Januari 1965. Dalam pesan tahun baru 1965, Ketua Politbiro CC PKI D.N. Aidit menyatakan bahwa perkembangan politik di dalam negeri ditandai oleh pidato kenegaraan Presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1964, yang berjudul Tahun Vivere Pericoloso (Tavip). Pidato ini dianggap sebagai komando politik konfrontasi di segala bidang.

Selanjutnya D.N. Aidit menyatakan “Seluruh rakyat dikomando untuk melakukan massa aksi (dengan kegotong-royongan nasional yang berporoskan Nasakom) menentang nekolim, menentang kaum komprador, kapitalis birokrat dan tuan tanah feodal, mendobrak kemacetan dalam pelaksanaan UUPA/UUPBH, mengganyang kaum subversi, kontra revolusi, dan Manipolis munafik”.

Semangat kegotong-royongan nasional berdasarkan seruan Bung Karno dimanfaatkan oleh PKI untuk membangkitkan aksi­-aksi buruh-tani di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, Bali, dan beberapa provinsi di Sumatra. Aksi-aksi buruh, dan demonstrasi yang dilakukan berlindung pada pidato kenegaran itu. Demikianlah menipulasi PKI atas pidato Tavip tersebut.

Di dalam pidato tahun baru itu D.N. Aidit juga menuduh bahwa “ketegangan di dalam negeri pada akhir tahun 1964 ditimbulkan oleh ulah kombinasi imperialis, kapitalis birokrat dan Trotskis, untuk menarik kekuatan tengah ke fihaknya”. Menurut Aidit, mereka (musuh PKI) melontarkan “fitnah” bahwa kaum komunis akan “merebut kekuasaan” berdasarkan apa yang disebut “dokumen rahasia PKI”. Menurut PKI dokumen itu hanya bikinan kaum imperialis, kapitalis birokrat dan Trotskis. Memburuknya ekonomi Indonesia adalah ulah dan tanggung jawab kaum kapitalis birokrat

yang mencuri kekayaan negara dan mencengkeramkan kukunya sangat dalam pada tubuh perekonimian Indonesia.[3] Selanjutnya Dewan Nasional SOBSI (D.N. SOBSI) menambahkan : “bahwa situasi ekonomi Indonesia semakin gawat, ongkos hidup sangat mahal, dan upah merosot. Teror kenaikan harga dan tarif dipelopori oleh Menteri Perdagangan Adam Malik, yang menetapkan harga beras naik 35%.” Menteri Perdagangan yang berasal dari Partai Murba dituduh secara sengaja mengacaukan harga dengan mengkomandokan dan memimpin kenaikan harga-harga beras di pasar bebas.[4]

Dalam keadaan ekonomi dan keuangan yang sulit ini, pimpinan PKI melakukan ofensif revolusioner dan mengeluarkan pernyataan tuntutan:

  1. Ritul semua kapitalis birokrat dari semua aparatur negara baik di pusat maupun di daerah, serta pejabat-pejabat bekas partai terlarang harus disingkirkan.
  2. Laksanakan segera UUPA/UUPBH dengan konsekuen. Selesaikan sengketa tanah dengan kaum tani dengan musyawarah tanpa merugikan kaum tani.
  3. Hukum berat koruptor-koruptor bahkan kalau perlu hukum mati.
  4. Batalkan kenaikan-kenaikan harga dan tarif.
  5. Batalkan penswastaan perusahaan-perusahaan dan proyek­-proyek negara.[5]

Semua pernyataan pimpinan PKI dan organisasi massanya itu adalah dalam rangka menggerakkan organisasi massanya untuk memperhebat ofensif revolusioner di segala bidang”. Ketua Politbiro CC PKI D.N. Aidit dalam laporan politiknya kepada Sidang Pleno V CC PKI di Jakarta tanggal 13 Mei 1965 mempertegas hal itu dalam judul “Perhebat ofensif revolusioner di segala bidang”. Seruan itu kemudian dipertegas lagi oleh pernyataan Politbiro CC PKI dalam rangka merayakan HUT ke -20 RI: “Revolusi Agustus 1945 di tahun 1965, lancarkan terus ofensif revolusioner sampai kepada puncaknya”.[6]

Organisasi-organisai massa PKI kemudian bergerak melakukan aksi-aksi tuntutan dengan mengadakan rapat-rapat umum, resolusi, demonstrasi serta aksi-aksi lainnya yang dilakukan di tempat-tempat terbuka. Sasaran ofensif revolusioner adalah partai-partai politik, organisasi massa, organisasi fungsional, organisasi agama, organisasi budaya, Angkatan Bersenjata, dan perorangan atau siapa saja yang dinilai menghalang-halangi tujuan politiknya. Ofensif yang terbuka diwujudkan dalam bentuk aksi-aksi massa, seperti propaganda, demonstrasi, aksi sepihak, aksi pengutukan, aksi pengecaman nama baik, aksi tunjuk hidung, aksi mogok, aksi-aksi teror seperti sabotase, pembakaran, pengeroyokan. Sasaran ofensif Revolusioner selain partai politik penentang PKI, juga adalah ABRI. Menurut Bung Hatta hanya ABRI lah (khususnya TNI-AD) yang masih mampu menghadapi PKI dalam upayanya meraih kekuasaan. Karenanya Pimpinan TNI-AD harus disingkirkan dengan suatu cara yang termasuk dalam rangkaian ofensif revolusioner.

Ada perbedaan “perlakuan” terhadap sasaran, “dirangkul atau dipukul hancur”, dengan kategori kawan dan lawan sesuai dengan hukum revolusi. Di bawah ini dilukiskan perbedaan metode ofensif revolusioner PKI terhadap dua partai yakni partai Murba dan PNI serta terhadap ABRI.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Bahan-bahan Pokok G 30 S/PKI Dan Penghancurannya, Jakarta, 1973, Hal 73

[3]     Harian Rakjat, 1 Djanuari 1965

[4]     Harian Rakjat, 16 Djanuari 1965

[5]     Harian Rakjat, 11 Djanuari

[6]     Harian Rakjat, 17 Agustus 1965

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*