Ofensif Manipolis PKI Di Pelbagai Bidang (5): Ofensif Manipolis Di Bidang Budaya

Ofensif Manipolis PKI Di Pelbagai Bidang (5): Ofensif Manipolis Di Bidang Budaya[1]

cropped-monumen-icon.pngDalam membentuk masyarakat komunis, PKI memandang masalah kebudayaan sama pentingnya dengan masalah sosial politik lain yang sedang diperjuangkan dalam rangka ofensif manipolis. Tugas itu diserahkan kepada para “budayawan komunis”. Mereka menjadi corong dalam menanamkan komunisme (Marxisme-­Leninisme), melalui kreasi-kreasi seni. Sarananya adalah seni tradisional (seperti wayang, ketoprak, ludruk, tembang), pementasan drama, lagu-lagu perjuangan, poster dan karikatur. Oleh karena setiap budayawan komunis umumnya telah memahami Marxisme­-Leninisme dengan baik, maka mereka mengolahnya sebagai propaganda menarik.

Dalam mengintegrasikan seniman PKI dengan rakyat, sasarannya adalah pengintegrasian pola pikir komunisme ke masyarakat bawah dengan mengadakan gerakan turun ke bawah. Doktrin PKI, dibidang seni dan sastra ialah menghancurkan budaya barat dan menggantikannya dengan budaya komunis. Peristiwa penindakan terhadap pemusik Koes Bersaudara yang dianggap membawakan musik “Ngak-Ngik-Ngok” yang “gila-gilaan ala imperialisme Amerika Serikat”, adalah bukti dari usaha PKI untuk mematahkan kreasi generasi muda, yang tidak sesuai dengan program budaya PKI. Kreasi budaya yang diinginkan orang-orang komunis adalah budaya yang bersifat revolusioner yang dapat mengubah semangat untuk dapat mendorong timbulnya aksi-aksi massa.[2]

Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) adalah alat partai PKI, untuk menyelenggarakan agitasi dan propaganda. Sejak tahun 1963 Lekra mulai merajalela kegiatannya. Lembaga ini menyerang secara gencar terhadap kebudayaan yang tidak sealiran. Dalam Sidang Pleno Lekra yang berlangsung dari tanggal 23 sampai dengan 26 Februari 1964 di Palembang, telah didiskusikan tentang usaha menjebol “kebudayaan imperialisme Amerika Serikat” dan membangun kebudayaan nasional dengan mengobarkan kebangkitan tani, serta menjebol kebudayaan komprador yang dijuru bicarai oleh Manikebu, dan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI).[3]

Lekra memelopori agitasi terhadap kebudayaan barat, termasuk dilarangnya pemutaran-pemutaran film neo kolonialisme terutama film Amerika Serikat dengan dalih dapat meracuni kehidupan generasi muda khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Pada tanggal 8 Mei 1964 organisasi massa yang terdiri dari wakil-wakil golongan buruh, perfilman, kebudayaan, pemuda, wanita bertempat di kantor Presidium Front Pemuda Pusat memutuskan untuk memboikot total peredaran pemutaran seluruh film imperialisme Amerika Serikat di Indonesia. Mulai tanggal itu film-film Amerika Serikat diboikot. Pemboikotan dilaksanakan di bawah Komando Aksi Boikot Film Amerika Serikat (yang di dalamnya terdiri dari orang-orang Lekra dan Sarbufi (Serikat Buruh Film) yang dipimpin oleh Ny. Utami Suryadarma, Sitor Situmorang, Joebaar Ajoeb, Bachtiar Siagian, Basuki Effendy, S. Frans Mendur, Bambang Hermanto, dan Abu Bakar Abdy.

Lekra melakukan aksi-aksinya semakin mengganas terhadap budaya yang berbau barat (kebudayaan barat). Sejak tanggal 17 Agustus 1964 American Motion Pictures Association in Indonesia (AMPAI) tidak diperbolehkan melakukan aktivitasnya di Indonesia dan harus menyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan baru di bidang pengimporan film dari luar negeri. Akhirnya kantor-kantor AMPAI badan yang mendatangkan film-film Amerika di Jakarta dan Surabaya diambil alih dan ditutup.

Penutupan gedung AMPAI di Jakarta dilakukan oleh D.N. Aidit. Ia mengatakan hal itu sepenuhnya menguntungkan rakyat, dan gedung bioskop harus segera diisi dengan pertunjukan kesenian asli bangsa Indonesia seperti drama-drama rakyat, tari-tari tradisional di samping film nasional, film yang dapat memperkuat perjuangan revolusioner rakyat Indonesia.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     D.N. Aidit, Kobarkan Semangat Banteng! Madju Terus, Pantang Mundur!, hal. 95-96

[3]     Harian Rakjat Minggu, 2 Februari 1964

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*