“MOSI TIDAK PERCAYA” YANG TIDAK DIKETAHUI UMUM

“MOSI TIDAK PERCAYA” YANG TIDAK DIKETAHUI UMUM [1]

 

22 Agustus 1965

 

Brigjen A. Jusuf dan Letjen A. Yani sudah berbicara Sabtu pagi menjelang mereka akan pergi ke Bogor membawa kepada Presiden usul alternatif mengenai kedudukan Jusuf sebagai anggota Presidium sebagaimana diinginkan oleh Presiden. Yani didampingi oleh Mayjen M.T. Haryono, Brigjen Taswin dan Brigjen Muhono SH. Hasil pembicaraan mereka ternyata membuka situasi baru sama sekali.

Sebab mereka memutuskan mengirim sebuah surat berisi pendirian pimpinan TNI kepada Presiden sebagai bahan pembicaraan sorenya dengan Presiden. Dalam surat itu dicantumkan 4 pokok penting yakni :

  1. Jusuf tidak dapat duduk dalam Presidium Kabinet mengingat akan terlalu banyak rongrongan datang dari pihak Presidium dan dari Kabinet, dari pibak partai-partai politik dan dari pihak Tentara sendiri terhadap diri Jusuf;
  2. Presidium dan Kabinet telah membuktikan tidak mampu Iagi memerintah “seperti yang telah dimaklumi oleh Bapak”;
  3. Lebih baik selekas-lekasnya dibentuk Presidium dan Kabinet yang baru;
  4. Jikalau Presiden belum dapat melaksanakan pembentukan Presidium dan Kabinet baru itu, maka sebagai tindakan peralihan dapat dilaksanakan penetapan Jusuf sebagai Menko yang memimpin ”sektor sentral” pemerintahan sebagaimana disebutkan dalam memorandum dengan sebutan Komando Tertinggi Berdikari.

Pukul 10 dengan seorang kurir istimewa dikirimlah surat tadi ke Bogor dan pukul dua siang diterima telepon dari Istana Bogor bahwa “Bapak sudah menerima surat (Yani), isinya sudah dimaklumi dan karena Bapak mau mengaso, maka pertemuan yang direncanakan sore itu ,ditunda sampai lain kali.”

Surat Yani itu sangat penting artinya sebab pada hakikatnya di situ pimpinan Tentara telah menjatuhkan “mosi tidak percayanya” kepada Presidium dan Kabinet. Situasi politlk baru telah timbul dan meskipun tidak diketahui oleh umum dan dunia luar, sebetulnya sudah ada “krisis kabinet” yang disebabkan “mosi tidak percaya”dari pihak pimpinan Tentara itu Apakah yang telah memulai semua ini?

Tentunya percakapan Presiden dengan A. Jusuf di Istana Bogor hari Minggu tanggal 1 Agutus yang lalu. Dalam percakapan beberapa jam itu kentara sekali Presiden sudah tidak puas dengan para Menteri yang menjadi pembantunya.

”Ze verlakken me maar” (Mereka hanya membohongi saya), kata Presiden.

Presiden menjanjikan kepada Jusuf : “Saya akan rombak kabinet ini dalam waktu dua bulan. Saya akan bentuk sebuah Kabinet Berdikari” Jusuf di pihaknya terutama berbicara mengenai bidangnya yakni bidang perdagangan dan bidang ekonomi pada umumnya. Dia menunjukkan kepada Presiden betapa perlunya kebijaksanaan ekonomi untuk keluar dari rotzooi (keadaan jelek) sekarang ini.

Untuk itu perlu dikuasai protected sector dari kabinet yang meliputi bidang ekonomi keuangan oleh orang-orang yang betul-betul kompeten dan mempunyai keberanian serta drive. Rupanya Presiden tertarik oleh uraian Jusuf ini dan dia minta supaya Jusuf menuliskan gagasan-gagasannya di atas kertas. Sebaliknya dari Bogor, Jusuf segera memberitahukan kepada teman-teman saya apa yang telah terjadi dan sekaligus dimintanya supaya keesokan paginya dia telah dapat membawa sebuah memorandum kepada Presiden. Minggu malam itu juga teman-teman saya bekerja menyusun memorandum yang diminta itu. Itulah kisahnya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 536-537.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*