MOHAMMAD NATSIR MENYERAH

MOHAMMAD NATSIR MENYERAH[1]

 

28 September 1961

Moh. Natsir yang menamakan dirinya jurubicara RPI (Republik Persatuan Indonesia) kembali ke pangkuan RI pada tanggal 25 September yang lalu dengan melapor di pos APRI di Palembang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, demikian tersiar dalam koran-koran di ibu kota. Natsir disertai oleh enam orang pengikutnya, antara lain Buchari Tamam yang menamakan dirinya “Menteri Agama /PPDPK RPI”.

Tanggal 26 September Natsir diterima oleh Komandan Korem 32 Sumatra Barat/Utara Letnan Kolonel Sukardi dan di situ Natsir dengan resmi menyatakan “telah sadar kembali ke pangkuan RI serta berjanji akan mematuhi dan setia kepada UUD 1945,” Natsir dalam pertemuan itu, demikian “Antara”, juga menyatakan rasa kekagumannya melihat usaha-usaha pembangunan daerah yang begitu pesat dan maju selama ini.

Selain berita ini tersiar pula Kahar Muzakkar telah mengirimkan istrinya sendiri Corry Kahar Muzakkar sebagai utusan pribadinya yang ditugaskan menemui Panglima Kodam XIV Kolonel Jusuf untuk menyampaikan surat dan pesannya dalam rangka pemulihan keamanan di seluruh Sulawesi Selatan/Tenggara.

Istri Kahar Muzakkar diterima tanggal 24 September oleh Kolonel Jusuf, selanjutnya ia terbang ke Jakarta menemui MKN/ KASAD Jenderal A.H. Nasution dan tanggal 26 September ia kembali ke Makassar. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 102-103.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*