“MILITARY” DAN “COMMERCIAL MIDDLE CLASS”

“MILITARY” DAN “COMMERCIAL MIDDLE CLASS”[1]

 

6 Juni 1961

Presiden Sukarno yang hari ini sudah ada di Moskow , melakukan kunjungannya yang ketiga kali ke situ, merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Beterbanganlah kawat ucapan selamat kepadanya. Dari D.N. Aidit yang kini ada di Ulan Bator dan dari Chaerul Saleh.

Berkatalah Chaerul Saleh:

“Semoga bimbingan Bung Karno dalam tahun- tahun yang akan datang akan lebih mendekatkan tercapainya cita-cita rakyat Indonesia yaitu berakhirnya tuntutan Amanat Penderitaan Rakyat dalam Masyarakat Sosialisme Indonesia .”

Saya cuma bertanya apakah Chaerul Saleh kenal keadaan rakyat yang sebenarnya dewasa ini? Bagaimana beras yang resminya berharga Rp 5,00 seliter hanya dapat dibeli oleh rakyat dengan harga Rp 12,00 seliter? Bagaimana susahnya rakyat membeli minyak tanah, sabun, ikan asin? Sebaliknya, perhatikanlah keadaan the ruling class, kelas yang memerintah negeri ini.

Mereka berlomba-lomba memperkaya diri. Dalam rangka pembayaran pampasan Jepang bukan main banyaknya uang yang dicolong oleh pembesar-pembesar negara. Wahai, negeri ini pernah mempunyai idealisten, orang-orang yang hidup dengan bercita-cita.

Di manakah mereka sekarang? Pada permulaan revolusi fisik bersenjata pada tahun 1945, terdapat idealisten di kalangan militer, tetapi apakah yang terjadi kemudian?

Dalam pertemuan kami “Kelompok Senen Malam” baru­ baru ini Bung Kiyuk mengatakan naiknya golongan menengah, di kalangan militer terjadi pada tahun 1957 dengan dilancarkan aksi Irian Barat.

Kaum militer itu berpendapat bahwa dari perusahaan- perusahaan Belanda yang dinasionalisasi dalam aksi Irian Barat diambil alih oleh buruh- buruh SOBSI dan oleh PKI, maka lebih baik mereka sendirilah mengoper, pimpinan perusahaan.

Penuh dengan idealisme mereka akan memperbaiki negara ini. Tetapi tiga tahun kemudian mereka telah ketularan oleh keenakan penghidupan baru sesudah aksi Irian Barat.

Rumah bagus dapat mereka tempati, mobil mentereng dapat mereka kendarai, peghasilan melimpah dapat mereka peroleh. Apa lagi yang dimaui? Lupa ideal. Naiklah military middle class atau kelas menengah militer yang memperuntukkan bagi dirinya rupa-rupa privileges.

Semua itu disandiwarakan di balik tontonan semboyan “Sosialisme Indonesia”. Mulanya golongan militer itu benci kepada politisi dan pengusaha swasta yang dilihatnya hanya memperkaya diri sendiri kerjanya.

Pihak swasta ini mesti dibasmi, pikir mereka. Tetapi kemudian mereka tidak sanggup mengerjakannya dan dalam tiga tahun setelah mereka sendiri mengalami apa arti “hidup komfortable” apa arti “rezeki” berubahlah sikap membenci tadi menjadi mau bersekutu dengan commercial middle class atau kelas menengah komersil. Sementara itu kaum militer itu tetap membenci PKI. Mereka menganggap PKI sebagai saingan bagi kekuasaan mereka.

Dalam pertentangan antara golongan militer dengan PKl ini menjadi terkatung- katunglah kedudukan apa yang disebut intellectual class atau kelas cendekiawan yaitu sekelompok kecil orang terpelajar yang masih menegakkan ideal dan masih mau memperjuangkan kepentingan rakyat kecil tetapi yang tidak termasuk the ruling class.

Apakah prespektif dan apakah hari depan bagi the intellectual class yang tidak besar jumlahnya itu? Perspektifnya suram nampaknya. Tentu dapat diperhitungkan di satu pihak makin berjalan, proses penjenuhan military middle Class serta commercial middle class alias bertambah kenyangnya mereka dalam arti materiil, sedangkan di lain pihak makin mendalam proses proletarisasi di kalangan rakyat serta makin santernya tuntutan-tuntutan PKI.

Secara hipotetis dalam keadaan demikian bukan mustahil military dan commercial middle class merasa perlu membawa ikut serta the intellectual class dalam barisan mereka supaya lebih kuat menghadapi golongan PKI. Akan tetapi dalam kedudukan apakah intellectual class akan dibawa serta oleh military dan commercial middle class? Sebagai pembantu -pembantu mereka atau untuk memakai istilah yang dipakai oleh Sim sebagai politieke koelies? Yang pasti tidak sebagai partner yang setara karena yang demikian berarti military middle class harus berbagi atau share kekuasaannya dengan intellectual class.

Melihat gelagatnya buat jangka masa yang akan lama lagi military middle class ini bersama-sama dengan commercial middle class akan memegang kekuasaan alias power sekalipun andaikata Presiden Sukarno sudah lama berlalu dari gelanggang politik Indonesia. Tidaklah cerah tampaknya harapan serta masa depan sebagian besar rakyat Indonesia. Dan saya termasuk golongan bagian terbesar rakyat itu.(DTS)

 

 

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 58-60.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*