MENGAPA SUBANDRIO MENYANJUNG-NYANJUNG SUKARNO

MENGAPA SUBANDRIO MENYANJUNG-NYANJUNG SUKARNO [1]

 

13 September 1962

 

Ketika berceramah di depan muka para anggota Angkatan ’45 di Jakarta tanggal 10 September lalu Dr. Subandrio mengemukakan mengenai hukum-hukum dan dalil-dalil revolusi. Seseorang dapat mempelajarinya dari buku-buku yang banyak sekali tersebar di mana-mana. Akan tetapi di Indonesia ada mahaguru tentang revolusi yang ulung dan tiada taranya di dunia. Malah mahaguru itu merupakan sebagian dari revolusi Indonesia itu sendiri. Mahaguru tentang revolusi itu ialah Presiden Sukarno pemimpin besar revolusi kita, demikian kata Menteri Luar Negeri Subandrio.

Mengapa Subandrio menyanjung-nyanjung Sukarno begitu setinggi langit di depan umum? Kalangan yang mengetahui mengatakan, Presiden berniat hendak mengadakan pergeseran atau reshuffle dalam kabinet. Menteri Pertama Djuanda  akan keluar dari kabinet. Sebagai penggantinya disebut nama Subandrio yang sesudah persetujuan Indonesia-Belanda mengenai masalah Irian Barat telah diserahi pula bidang pengurusan Irian Barat di samping merangkap, jabatan Menteri Luar Negeri.

Presiden pernah mengatakan kepada Subandrio dia itu sekarang harus memusatkan perhatiannya kepada bidang pembangunan ekonomi. Apakah dia orang yang tepat untuk itu? Subandrio mempunyai anggapan yang gampang sekali tentang soal-soal ekonomi dan pembangunan.Ia mengatakan kepada Koko:

“Apa pun yang dikerjakan di sana sekarang adalah tidak akan lebih jelek daripada yang dilakukan sudah-sudah.Jadi setiap perbuatan akan berarti perbaikan Dus jebret maar”.

Walaupun akan ada perlawanan dari tokoh-tokoh politik  lain terhadap Subandrio dijadikan Menteri Pertama, toh Presiden akan dapat melaksanakannya. Kedudukan Presiden kini memang kuat sekali. Kalangan yang mengetahui mengatakan Presiden pernah mengatakan kepada Jenderal Nasution beberapa waktu yang lalu supaya Nasution jangan mencoba menjadi semacam “Sukarno kedua”, dalam arti hendak berusaha menggantikan tempat Sukarno.

Presiden juga memberi peringatan kepada Nasution supaya jangan terlalu banyak berhubungan dengan orang-orang Masyumi. Jika dua tahun yang lalu kedudukan Tentara kuat dan merupakan faktor saingan dalam kekuasaan bagi Sukarno, sekarang hal itu tidak demikian lagi. Sukarno tidak perlu khawatir terhadap Nasution. Pihak Tentara sendiri tampaknya lesuh, tidak mempunyai rasa kepastian diri dari tidak ada konsepsi bagaimana menghadapi perkembangan mendatang.

Bagaimana pula dengan PKI? Di belakang gagasan Nasakom yang ditegakkan oleh Sukarno, PKI mempergunakan saluran-saluran legalitas dan memperkukuh posisinya. PKI dapat melaksanakan sepenuhnya gagasan Front Rakyat atau Volksfront”. Kedudukan PKI dalam Front Nasional menjadi dominan. Dewan-dewan Perusahaan yang menurut Presiden harus dibentuk merupakan wahana bagus bagi PKI untuk mengembangkan sayapnya .

Di tingkat pemerintah daerah orang-orang PKI menyusup menempati kedudukan strategis . Misalnya Pemerintah Daerah Yogyakarta sebagian besar dikuasai oleh orang-orang PKL. Di Kotapraja Surabaya diusahakan menaruh orang-orang PKI di jabatan vital. Dengan diam­diam PKI maju terus. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 255-256

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*