MENGAPA PEMBERONTAKAN PRRI-PERMESTA GAGAL?

MENGAPA PEMBERONTAKAN PRRI-PERMESTA GAGAL? [1]

6 Desember 1962

 

“Runtuhnya kekuatan kaum pemberontak di Indonesia ialah disebabkan karena konsepsi politik mereka tidak tahan terhadap konsepsi politik Manipol/Usdek kita,” demikian menurut “Antara” kata Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani dalam ceramahnya di depan para siswa SESKOAD di Bandung tanggal 4 “Desember lalu. Mentang-mentang kaum pemberontak di Indonesia telah kalah, juru bicara alias Jubir Manipol­-Usdek ini enak saja berbicara demikian. Tetapi apakah sebabnya sampai kekuatan kaum pemberontak runtuh, orang lain bisa berbeda pendapat dengan Ruslan Abdulgani.

Saya ingat Brian Crozier wartawan majalah Inggris The Economis menulis dua tahun yang lalu sebuah buku berjudul The Rebels yakni sebuah studi tentang pemberontakan-pemberontakan sesudah Perang Dunia II. Selain melukiskan pemberontakan Fidel Castro terhadap Batista, Ho Chi Minh dan Ben Bella terhadap Prancis, Uskup Besar Makarios dan Jenderal Grivas  terhadap Inggris, ia juga menulis tentang pemberontakan PRRI/Permesta melawan Sukarno.

Menurut Brian Crozier, pola pemberontakan bersifat konsisten dan melalui tiga taraf yakni pertama teror, kedua perang gerilya, ketiga perang besar-besaran. Tentu tidak semua pemberontakan diakhiri, tidak semuanya mencapai taraf kedua dan malah sedikit sekali yang sampai pada taraf ketiga. Pemberontakan PRRI Permesta aneh bin ajaib tidak memenuhi pola tadi.

PRRI dimulai di mana pemberontakan harus diakhiri dan itu pun kalau ia sudah berhasil yakin dengan proklamasi suatu pemerintah, dalam hal ini pemerintah yang diproklamasikan di Padang di bulan Februari 1958 oleh Syafruddin Prawiranegara. Ini dengan cepat disusul dengan taraf ketiga tatkala pemerintah pusat melancarkan ofensifnya di Sumatra dan Sulawesi bulan April dan Mei 1958.

Kekalahan kaum pemberontak di taraf ketiga mendesak mereka ke dalam taraf kedua yakni aksi-­aksi gerilya dari gunung dan hutan melawan pasukan-pasukan pemerintah pusat. Tidak lama kemudian menyusul taraf pertama dalam bentuk yang lunak berupa pembakaran kebun­ kebun atau gudang-gudang karet. Barangkali karena urutan yang terbalik itulah, maka pemberontakan anti Sukarno yang dilancarkan oleh PRRI menjadi gagal, kata Brian Crozier.

Selanjutnya ia menyebutkan mengapa pemberontakan PRRI gagal yakni :

  1. tidak adanya persiapan yang cukup di bidang militer;
  2. tidak dilakukannya persiapan untuk kemungkinan kudeta di Jawa sebagai pusat kekuasaan;
  3. tidak adanya leadership, dalam arti tidak ada seorang tokoh yang merupakan tokoh Nomor Satu;
  4. tidak adanya kerahasiaan mutlak di pihak pemberontak tentang apa yang hendak dilakukan dan kauni pemberontak malah mencari publisitas seluas-luasnya tentang apa yang mereka kerjakan.

Demikianlah menjadi gagal apa yang dinamakan oleh Brian Crozier this rebellion of colonels and economists” (pemberontakan para kolonel dan ekonomi ini) yang disebabkan juga karena “they lacked the strength and popular support

particularly in Java that would have ensured success ” (mereka kekurangan, kekuatan dan dukungan rakyat istimewa di Jawa yang akan menjamin keberhasilan) sehingga it was foolish of the Indonesian rebels to proclaim a government in February 1958 (adalah edan dari kaum pemberontak Indonesia memproklamasikan sebuah pemerintah pada bulan Februari 1958).

Dalam pada itu Presiden Sukarno pun tidak bebas dari tanggung jawabnya terhadap bangsa dan negara. Sesungguhnya pemberontakan PRRI-Permesta dapat dihindarkannya apabila ia berlaku sebagai negarawan  yang mempunyai pandangan yang luas. Akan tetapi rupa-rupanya dia tidak mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menghindarkan pecahnya pemberontakan itu. Brian Crozier menyebutkan tentang tanggung jawab Presiden Sukarno yang berat itu terhadap bangsa dan negaranya.

Dikatakannya Presiden Sukarno telah gagal berdiri di atas semua partai  dan  membiarkan misgovenunent dari partai yang didirikannya yaitu PNI. Ia telah gagal menyadari bahaya untuk kemerdekaan Indonesia yang diberkan oleh cepatnya bertumbuh PKI selama tahun 1950-an. Ia telah melampiaskan kemarahan anti kolonialnya diatas beribu-­ribu orang Belanda. Semua ini sudah termasuk zaman silam dan bila saya mencatatnya, hal itu semata-mata adalah untuk pengetahuan sejarah. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 295-298.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*