MENGALIHKAN PERHATIAN ke POLITIK KONFRONTASI

MENGALIHKAN PERHATIAN ke POLITIK KONFRONTASI [1]

 

25  Januari 1963

 

Seorang diplomat dari Kedutaan Besar Amerika Serikat mengatakan kepada saya, pihak Indonesia masih juga belum merumuskan program stabilisasi ekonomi. Ketika James Fores tall datang ke Jakarta ia ingin mendapat informasi tentang apa yang hendak dilakukan oleh Indonesia untuk mengatasi kesulitan ekonomi. Ternyata mengenai itu belum ada suatu rencana kongkret dan pasti.

Diplomat itu menanyakan bagaimana keadaan pribadi saya. Saya menjawab:

“Susah, harga makanan membubung. Cobalah pikir, satu kilo daging kini sudah berharga Rp 400,00 sehingga jangan dikira saya menyajikan daging selalu kepada anak-anak saya. Susu juga sudah naik harganya”.

“Kalau kau sudah kena di soal pangan, maka itu berarti keadaan sungguh buruk sebab bagaimanapun juga kau masih punya pendapatan,” kata diplomat itu.

Ia melanjutkan: “Kau tahu, menurut istri saya yang mengalami keadaan di Cina sebelum berkuasanya pemerintah komunis di sana, keadaan di Indonesia sekarang sudah mirip-mirip dengan di Peking dulu.” Diplomat itu berkata lagi: “Pada suatu ketika nanti some unknown lieutenant colonels. (beberapa letkol yang tidak dikenal) yang sudah kesal dengan sikap dan tingkah laku pemimpin-pemimpin tentara sekarang akan bangkit dan menyerukan stop keadaan ini. Bagaimana pendapatmu?”

Saya jawab:

“Saya punya teman yang beberapa bulan laIu pergi ke Cirebon menumpang pick up.

Di tengah jalan ia memberi lift kepada seorang sersan Angkatan Darat. Tanpa ditanya sersan itu bercerita tentang keadaan ekonomi yang buruk, tentang rakyat yang menderita. Ia bilang kepada teman saya: “Tapi suatu ketika nanti akan timbul dari kalangan kami seorang Kong Le yang akan melenyapkan keadaan yang tidak beres sekarang.” Coba, bagaimana kau pikir, sersan itu tahu tentang apa yang dilakukan oleh Kapten Kong Le dulu.” Diplomat Amerika itu pun terdiam.

Kemudian diplomat itu meneruskan: “Tapi sekarang tampaknya Indonesia akan menjalankan politik mengalihkan perhatian rakyat ke luar negeri berupa konfrontasi dengan Malaya.

Apakah kau sudah dengar tentang pidato Subandrio di Yogya? “Saya jawab: “Sudah.”

Tanggal 20 Januari lalu pada upacara pelantikan Resimen Mahakarta yang terdiri dari para mahasiswa Yogyakarta, Menteri Luar Negerl Subandrio mengatakan :

“Kita bangsa Indonesia mau tidak mau harus menjalankan politik konfrontasi dengan Malaya karena Malaya pada waktu ini merupakan kaki tangan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang menjalankan sikap permusuhan terhadap bangsa Indonesia .”

PM Tengku Abdul Rahman dengan segera menanggapi pernyataan Subandrio itu “sangat gawat”. Di tengah-tengah kesulitan ekonomi yang diderita oleh rakyat sekarang Presiden masih ada waktu membagi-bagikan bintang kepada 18 orang menteri dan pembesar di Istana Bogor. Begitu juga kosmonot ketiga Uni Soviet Nikolajev yang mengunjungi Indonesia tanggal 21 Januari mendapat bintang dari Presiden Sukarno. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 327-329.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*