MEMANG TADINYA AKAN ADA INVASI KE IRIAN BARAT

MEMANG TADINYA AKAN ADA INVASI KE IRIAN BARAT [1]

 

3 Oktober 1962

Para perwira tinggi ALRI dalam sebuah konferensi pers kemarin menyingkapkan data-data historis sekitar perjuangan Irian Barat. Dari data-data itu terpastikan benarlah pada bulan Agustus 1962 Indonesia sudah berada di tepi jurang peperangan ketika menghadapi Belanda di Irian Barat. Benarlah apa yang diperbincangkan oleh masyarakat politik di Ibu Kota waktu itu bahwa Presiden Sukarno menghendaki suatu wapen feit di Irian Barat. Memang tadinya akan ada invasi, penyerbuan besar-besaran ke Irian Barat. Dalam konferensi pers itu Komodor Laut O.B. Sjaaf berkata :

“Menjelang saat-saat ditandatanganinya persetujuan Indonesia-Belanda tentang penyerahan Irian Barat, ALRI telah menggerakkan 120 buah kapal yang tergabung dalam Angkatan Tugas Amphibi 17 (ATA-17), di bawah pimpinan Komodor Laut Sudomo ke garis depan untuk sewaktu-waktu siap mendarat membebaskan wilayah Irian Barat dari kepungan Belanda. “

Di dalam ATA-17 terdapat Satuan Pendarat 45 (Saprat-45) dengan kekuatan 10.000 anggota KKO di bawah pimpinan Kolonel Suwadji sedangkan pasukan pendarat bantuan berke­kuatan 20.000 anggota Angkatan Darat di bawah pimpinan Brigjen Rukman selaku Komanda Divisi II. ATA-17 dibentuk dalam bulan Juli 1962 dan setiap waktu siap menunggu “lampu hijau” dari Panglima Tertinggi untuk menghancurkan semua kapal musuh di lautan maupun perlengkapan militer musuh yang berada di daratan Irian Barat.

Brigadir Jenderal Ali Sadikin menerangkan kepada pers, saat-saat kritis bagi Komando ATA-17 Jalah sekitar tanggal 12 dan 13 Agustus 1962. Untuk memberi makan kepada 30.000 orang yang tergabung dalam ATA -17 tiap hari dikeluarkan Rp 4 juta dan dibutuhkan 40.000 kaleng makanan setiap harinya. Pertanyaan yang timbul sekarang ialah apakah sebabnya Presiden Sukarno akhirnya mengurungkan serangan besar-besaran yang telah direncanakan terhadap Belanda di Irian Barat itu? Mengapakah ATA-17 tidak diperintahkannya untuk terus mendarat? Apakah karena Presiden pada saat terakhir memperhitungkan tekanan yang diberikan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy supaya Indonesia jangan b.erperang sebab bila terjadi kekerasan terbuka di daratan Irian Barat, maka AS akan memihak Belanda? Hal-hal ini baiklah diselidiki kelak oleh sejarahwan Indonesia. Akan tetapi harus dikatakan keputusan Presiden membatalkan serangan ATA-17 adalah keputusan yang baik sebab dengan demikian terhindarlah Indonesia dari kehilangan nyawa putra-putranya .

Dengan tidak jadinya pecah perang paling tidak perlengkapan ALRI tetap utuh. Menurut Brigjen Ali Sadikin jumlah kapal perang seluruhnya yang dimiliki oleh RI sekarang kira-kira 250 buah atau jika dihitung dalam tonase kira-kira 350.000 ton dengan personalia sekitar 40.000 orang. Antara 80 hingga 90 persen dari seluruh p.erlengkapan ALRI didatangkan dari Uni Soviet. Dengan dimilikinya Komando Flotila Kapal-­kapal peluru Kendali kapal kekapal oleh ALRI, maka Indonesia adalah negara pertama di belahan bumi Selatan yang memiliki kapal-kapal peluru kendali.

Indonesia adalah salah satu dari tiga negara di Asia seperti Jepang dan RRT yang telah memiliki kapal-kapal selam yang mempunyai kekuatan perusak sangat dahsyat. Indonesia kini mempunyai 20 kapal selam dan kapal penjelajah raksasa RI “Irian” yang diperoleh dari . Uni Soyiet akan muncul di hadapan publik pada Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober yang akan datang. Kapal penjelajah “Irian” mempunyai 1050 anak buah serta berbagai persenjataan modern. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 260-262.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*