“MASIH DIPERINTAH DARI JEPANG”

“MASIH DIPERINTAH DARI JEPANG” [1]

 

30 Mei 1963

 

Sejak tanggal 22 Mei lalu Presiden Sukarno ada di Tokyo beristirahat. Dari sana dia hendak ke Wina, Beograd, Roma. Satu bulan pula lamanya Presiden berada di luar negeri.

Dalam sidang MPRS belum lama berselang Sukarno ditetapkan sebagai Presiden Republik Indonesia seumur hidup. Dengan perginya Presiden ke Tokyo, maka berpindah pula pusat pemerintahan ke Ibu kota Jepang. Menteri-menteri seperti Chaerul Saleh,Maladi dan pejabat lain pergi ke Tokyo lantaran dipanggil oleh Presiden. Juga Duta Besar AS Howard Jones telah berangkat ke Tokyo. Seorang teman saya sampai menyeletuk:

“Tiga setengah tahun diperintah dulu oleh Jepang belum cukup rupanya sekarang pun kita masih diperintah dari Ibu kota Jepang”.

Di Tokyo pada akhir Mei dan awal Juni akan dilangsungkan pertemuan antara Presiden Sukarno dengan Tengku Abdul Rahman. Menurut cerita Subandrio kepada Koko tanggal 18 Mei yang lalu, maka Tengku Abdul Rahman yang meminta kepada Indonesia supaya bisa diadakan pertemuan dengan Sukarno di Tokyo. Rupa-rupanya kedudukan Tengku kini rada sulit berhubung dengan persoalan Malaysia.

Inggris telah melihat kalau rencana Malaysia diteruskan, maka hal itu bisa mengakibatkan kerugian besar bagi Inggris berupa biaya dan tenaga manusia. Bagaimana kalau pecah perang gerilya di Kalimantan Utara seandainya diteruskan juga pembentukan Malaysia? Inggris berpengalaman lebih 10 tahun di Malaya dengan perang gerilya yang dilancarkan oleh kaum komunis dan ia merasakan betapa mahalnya ongkos menundukkan kaum gerilya. Maka konon Inggris mulai berpikir-pikir apakah bijaksana meneruskan pembentukan Malaysia?

Selain daripada itu Tengku sering sangat tidak punya tact dalam menghadapi Indonesia Mulutnya tajam dan ucapan­-ucapannya mengeruhkan suasana. Maka Inggris berpendapat lebih baik Tengku disingkirkan saja dan diganti oleh seorang seperti Tuan Abdul Razak yang kini menjadi Wakil PM merangkap Menteri Pertahanan Malaya yang lebih diplomatis sikapnya. Ketika Abdul Razak pergi ke London belum lama berselang, maka Inggris tidak bersedia memberikan sumbangan keuangannya guna keperluan pertahanan Malaya.

Hal itu menyebabkan Tengku menarik kesimpulan posisinya tidak begitu terlalu pasti dan oleh karena itu dia minta bertemu dengan Sukarno untuk membicarakan kesulitan-kesulitan yang timbul antara Malaya dengan Indonesia sekitar persoalan Malaysia. Inilah keterangan yang diberikan oleh pihak resmi Indonesia dalam percakapan-percakapan di lingkungan terbatas. Akan tetapi ketika Presiden Sukarno sudah berada di Tokyo, Radio Malaya menyiarkan Tengku Abdul Rahman akan bertemu dengan Presiden karena mendapat undangan dari Indonesia.

Jadi manakah yang benar dalam hal ini? Masing-masing pihak tampaknya memberikan versinya sendiri­sendiri. Barangkali hal ini dilakukan untuk menjaga muka ke luar? Betapa pun juga, pertemuan antara Tengku Abdul Rahman dengan Presiden Sukarno itu merupakan suatu surprise bagi publik di Jakarta.

Besok saya akan meninggalkan Jakarta menuju Manila bersama-sama dengan Koko. Kami diundang ikut serta dalam seminar internasional “Cultural Motivations to Progress in South and South East Asia” (Motivasi-motivasi Kultural ke Arab Kemajuan di Asia Selatan dan Tenggara) dari tanggal 3 sampai 9 Juni. Ini berarti selama dua minggu yang akan datang ini saya out of touch dari situasi dan perkembangan politik di Indonesia. (SA)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 368-370.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*