MALING KECIL DIHUKUM BERAT

MALING KECIL DIHUKUM BERAT[1]

 

3 April 1962

Ini sebuah berita kecil tetapi mengandung arti. “Antara” memberitakah tetang seorang pemuda bernama S yang tanggal 30 Maret lalu diperiksa perkaranya di Pengadilan Negeri Jakarta karena dituduh merampas kacamata putih yang sedang dipakai seseorang di Jembatan Merah. Jaksa Dali Mutiara mengajukan tuntutan 11 bulan potong tahanan. Mendengar tuntutan itu S ketika ditanya oleh Hakim Mr. N. Loa Hwie Hiap menjawab dengan lagak dan sikap kurang ajar. “Tambah juga boleh, masa cuma 11 bulan?” Mendengar ini Jaksa lantas naik darah dan ia berkata:

“Kenapa kok begitu berani kamu berkata begitu, apa benar kamu berani?” . Sang pencuri balas menjawab: “Abis, masa orang cuma nyolong kacamata dihukum 11 bulan?” Hakim kemudian bicara-bicata sebentar dengan Jaksa. Akhirnya ia menjatuhkan vonis”sebelas bulan tanpa potong tahanan. ” S sudah menjalani tahanan sementara 4 bulan, demikian “Antara”.

Tidak dapat disangkal S tadi bersalah adanya. Tetapi dapat dipahami pendiriannya dia merasa diperlakukan secara tidak adil oleh Jaksa dan dia mengundang celaka bagi dirinya sendiri dengan berani mengeluarkan komentar tadi depan meja pengadilan. Saya teringat akan pembesar-pembesar dan pemimpin-pemimpin yang telah menyolong dari Negara dalam jumlah yang tidak sebanding dengan nilai kacamata tadi, toh mereka tidak diapa-apakan. Apakah moral berita kecil “Antara” tadi? Maling kecil dihukum berat, maling gede lepas bebas.

Berat dugaan saya kebanyakan kaum terpelajar Indonesia akan mengangkat bahu bila membaca berita tadi. Hal itu sudah mereka anggap sewajarnya saja. Perasaan dan hati nurani mereka kian tumpul dewasa ini. Ada sebuah cerita saya dengar baru-baru ini tentang seorang pemimpin yang dekat dengan Presiden Sukarno. Ia suka berkata:

‘Luister naar mijn woorden, maar kijk niet naar mijn daden (Dengarkan kata­kata saya tetapi jangan lihat perbuatan-perbuatan saya). Memanglah di kalangan pemimpin dewasa ini sangat bertentangan adanya antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan oleh mereka. lni sungguh suatu sikap munafik. (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 201-202.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*