MAKIN BERGERAK KE ARAH TOTALITERISME

MAKIN BERGERAK KE ARAH TOTALITERISME [1]

30 Desember 1962

Pada resepsi perkawinan Enchi Kassim, sekretaris I Kedutaan Besar Malaya dengan seorang gadis Indonesia malam ini, beberapa tahun menanyakan kepada saya tentang siaran Radio Australia hari ini yaitu adanya penangkapan-penangkapan yang dilakukan di Ibu Kota oleh pihak Tentara dan meliputi “beberapa ratus orang” Seorang diplomat Asia menanyakan siapakah Pemimpin-pemimpin gerakan yang dikaitkan berwujud suatu “Tentara Pembebasan Rakyat”? Saya katakan mungkin semua itu ada hubungan dengan apa yang disiarkan kemarin oleh Kodam V/Jaya   perihal pelarangan terhadap organisasi badan kelaskaran yang menamakan dirinya .

”Pasukan Komando Rakyat Sukarela di bawah pimpinan bekas Mayor Buntaran dan organisasi yang menamakan dirinya “Team Reaktivering ex Brigade XVI” di bawah pimpinan bekas Mayor R. A. S. Anglingdarma”. Dalam siaran itu Panglima Kodam V Jaya memperingatkan ”agar kita awas waspada terhadap usaha pengumpulan pasukan-pasukan dengan menggunakan dalih perjuangan Irian Barat untuk kepentingan sesuatu golongan atau perorangan maka dalam rangka pengamanan ibu Kota berlurut -turut sejak 27 Desember Peperda Jakarta Raya mengadakan penindakan terhadap golongan-­golongan yang dimaksud .

Dalam resepsi itu saya lihat hadir Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio yang baru-baru ini memberikan wawancara kepada wartawan Belanda Hans Martinot. Sebagaimana dimuat dalam harlan De Gelderlander tanggal 27 Desember, Subandrio menerangkan hubungan diplomatik lndonesia-Belanda kiranya akan dibuka dalam triwulan pertama tahun 1963.

Subandrio juga mengakui, “pada saat ini kami menghadapi inflasi yang luar biasa” atau dalam bahasa Belandanya “maken wij een inflatie vanjewelste mee”, juga tampak hadir dalam resepsi perkawinan Enchi Kassim pedagang Bram Tambunan yang kemarin malam di lstana Bogor mendapat gelang Nyonya Hartini Sukarno yang dilelang secara Amerika dengan harga Rp 21 juta Bram sendiri “menyumbang” sebanyak Rp 3 juta pada malam amal santap yang diadakan untuk mengumpulkan dana bagi Konperensi Wartawan Afro-Asia (KWAA) di Bandung bulan April 1963.

Nyonya Hartini menjadi pelindung KWAA dan wartawan-wartawan Manipol-Usdek minta bantuan Hartini supaya mendapat dana. Malam itu terkumpul uang sebanyak Rp 56 juta. Sebagai wartawan yang tidak aktif lagi sejak harian Pedoman ditutup oleh rezim Sukarno dua tahun yang lalu, sudah barang tentu saya mengangkat bahu saja terhadap KWAA dan semua itu. Tetapi berita yang disiarkan oleh “Antara” menarik perhatian saya juga. Berita itu mengenai keterangan Rohan Rivett, Direktur IPI (International Press Institute) yang dimuat dalam “IPI Report” bulan Desember 1962.

Rohan Rivett mengemukakan “Tahun 1962 telah merupakan tahun penderitaan hebat bagi kaum pendukung kemerdekaan pers dalam mana banyak redaktur dan penerbit yang memasyurkan kebenaran telah dibungkam dan disingkirkan. Untuk Asia dan Afrika, tak satu negeri yang semakin jauh bergerak kejurusan totaliterisme selain daripada yang dilakukan Presiden Sukarno di Indonesia. Sebagai gelagat yang paling akhir, para Menteri telah menjadi controlling majority dari Dewan Kantor Berita “Antara”, kantor berita yang memegang dominasi atas distribusi seluruh berita dalam negeri maupun luar negeri bagi rakyat Indonesia.”

Rohan Rivett menulis: “Kaum jurnalis yang brilyan yang telah membuat nama untuk Indonesia di tahun-tahun pertama kemerdekaan telah disingkirkan atau dibungkamkan, yang paling berani di antara mereka Mochtar Lubis kini berada dalam tahanan tahun ke-6 dan tahun keduanya dalam penjara politik”. Terhadap berita tadi seperti biasanyan pihak “Antara” membutuhkan komentarnya sendiri dan ia menyatakan persetujuannya terhadap adanya “Antara” langsung di bawah pimpinan Presiden Sukarno. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 311-313.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*