LETJEN GATOT SUBROTO MENINGGAL DUNIA

LETJEN GATOT SUBROTO MENINGGAL DUNIA [1]

 

13 Juni 1962

Tujuh hari lamanya mulai tanggal Juni Indonesia harus berkabung dan menaikkan bendera setengah tiang. Sebabnya ialah karena pada tanggal 11 Juni dengan tidak tersangka­-sangka telah meninggal dunia Letjen Gatot Subroto, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Ia kena serangan jantung dalam usia 54 tahun.

Ketika pada bulan Desember 1948 Gatot Subroto menjabat sebagai Gubernur Militer Daerah lstimewa II yang meliputi daerah Semarang, Pati, Surakarta, Madiun, maka di daerahnya itulah terjadi eksekusi terhadap gembong-gembong PKI Amir Sjarifuddin, Maruto Darusman, Suripto dan lain-lain yang terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun. Fakta ini pasti diketahui oleh PKI. Toh ia tidak mencegah D.N. Aidit mengirimkan kawat belasungkawa atas meninggalnya Gatot Subroto.

Ketika terjadi peristiwa “17 Oktober 1952” di kalangan Angkatan Darat, Gatot menjadi Panglima Daerah Militer VII di Makassar dan bersama dengan para panglima lain ia ikut beroposisi terhadap Presiden Sukarno. Nasution yang menjadi Kepala Staf Angkatan Darat waktu itu dibebaskan dari tugasnya, begitu juga Gatot Subroto dicopot dari kedudukannya.

Di bawah kabinet Burhanuddin Harahap, Nasution kembali sebagai Kepala Staf. Begitu juga pada tahun 1956 Gatot kembali sebagai Wakil Kepala Staf dan jabatan itu dipegangnya sampai hari meninggalnya. Peristiwa “17 Oktober 1952” dan kelanjutannya berkesan di hati Gatot dan sejak itu dia tidak pernah lagi menentang Sukarno. Karena itu pula kedudukannya terjamin terus. Sukarno di pihaknya pun bersikap berjiwa murah terhadap Gatot. Sebab itulah setelah Gatot meninggal, maka Sukarno menyatakan Gatot sebagai tokoh nasional dan menaikkan pangkatnya sebagai Jenderal anumerta (posthuum).

Kalangan yang mengetahui mengatakan di waktu belakangan ini dalam rangka maksud mengadakan regrouping di kalangan pimpinan tentara, orang tidak begitu pasti bagaimana memperlakukan Gatot Subroto. Ada niat menaikkan pangkatnya menjadi Jenderal, kemudian memberikan pensiun kepadanya. Ada niat menjadikannya penasihat Hukum TNI setelah ia berhenti sebagai Wakil KASAD. Baik Sukarno maupun Nasution tidak tahu lagi apa yang harus mereka perbuat dengan Gatot. Dengan meninggalnya Gatot masalah itu selesai sendiri.

Meninggalnya Gatot Subroto niscaya menimbulkan kesedihan pada orang-orang seperti Sjahrir, Subadio yang kini telah ditahan lima bulan oleh Peperti. Sebab mereka itu berteman baik sekali dengan Gatot. Juga diketahui hanya Gatot yang berani mempersoalkan dengan Presiden tentang status tahanan-tahanan politik itu.

Gatot bilang supaya orang-orang itu selekasnya saja dibawa ke muka sidang pengadilan dan kalau ternyata tidak bersalah dibebaskan segera. Selanjutnya kabarnya atas perintah Gatot dilakukan penahanan terhadap Manoppo, informan yang menyebabkan ditahanya Sjahrir dan kawan-kawannya, bekas agen Nefis (Dinas Rahasia Belanda) yang masih dipakai oleh pihak intelijen Indonesia.

Kesehatan keenam orang yang ditahan di penjara Madiun baik-baik saja. Koko bercerita ketika dia mengunjungi mereka tanggal 31 Mei lalu, Anak Agung berkata tidaklah benar sama sekali cerita-cerita yang beredar di luar yang menyatakan ia sakit-sakit dan tidak tahan jiwanya terhadap pemenjaraan. Anak Agung tidak sehat karena ia dapat influensa dan itulah yang menyebabkan ia murung.

“Katakanlah kepada kawan­-kawan di luar bahwa tidak benar saya tidak hestand terhadap gevangenschap”, ujar Anak Agung.

Selain di Madiun, di Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jakarta masih meringkuk Mochtar Lubis, S.M. Sjaaf, Has n, Djenamar Adjam, Imron Rosjadi dan lain-lain. Mohammad Natsir kini ada di  Batu di Jawa Timur. Walaupun ia tidak dapat bergerak secara leluasa namun ia boleh tinggal di rumah sendiri. Sjafruddin Prawiranegara dan Assat kini berada di Jawa tengah.

Hari ini diadakan rapat Staf Operasi Komando Pembebasan Irian Barat. Diambilnya kesimpulan bahwa mengalirnya bala bantuan militer Belanda ke Irian Barat tidak menunjukkan Belanda ingin menyelesaikan soal Irian Barat dengan damai. Presiden menyampaikan kepada pers bahwa selama kita belum dapat mematahkan secara militer kekuatan Belanda di Irian Barat, maka sukar penyerahan Irian Barat dapat diselesaikan. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 228-230.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*