LEGERLEIDING  CONTRA  SUKARNO

“LEGERLEIDING  CONTRA  SUKARNO” [1]

8 Juli 1962

Adakah pertentangan antara pimpinan Tentara Nasional indonesia dengan Presiden Sukarno? Pada zaman saya pimpinan Tentara sekarang praktis sudah berada dalam genggaman tangan Presiden. Akan tetapi sebuah majalah Belanda reaksioner Elsevier berpendapat pertentangan itu ada.

Pada tanggal 23 Juni lalu wartawan Elsevier H.A. Lunshof menyiarkan karangan berjudul

“Legerleiding contra Sukarno ” (Pimpinan tentara lawan Sukarno).

Di dalamnya disiarkan apa yang dinamakannya De notulen van de tweespalt (Catatan-­catatan perpecahan). Berdasarkan surat-surat yang katanya dikirim oleh Jenderal A.H. Nasution kepada Kolonel Panjaitan, dulu Atase Militer RI di Bonn, maka Elsevier mengunjukkan Nasution tidak selalu sependapat dengan kebijaksanaan Sukarno-Subandrio dalam soal Irian Barat.

Sebaliknya berdasarkan surat Dr.Subandrio hendak dibuktikan oleh Elsevier bahwa Subandrio tidak mempunyai pandangan yang tinggi terhadap Nasution yang menurut Subandrio adalah een praatzieke general. Dat komt er van als je van een onderwijzer een generaal maakt.“(seorang jenderal yang banyak orilong. Itulah kalau orang membuat seorang jenderal dari seorang guru).

Menurut Elsevier Subandrio suka pergi ke New York karena di sana dia mempunyai rekening bank dan seorang vriendin (pacar) yakni een Indonesische die getrouwd is geweest met een Engelsman (seorang Indonesia yang pernah kawin dengan seorang pria lnggris). Mengenai Sukarno dan Subandrio majalah itu mengatakan antara lain:

 Ze verdienen op de rijstinkopen voor een hongerend volk: vanouds e.en der grootste misdaden jegens de mensheid ” (Mereka mendapat oang dari pembelian-pembelian beras untuk rakyat yang kelaparan : sejak dulu kala merupakan salah satu kejahatan besar terhadap kemanusiaan ).

Kalangan yang mengetahui mengatakan di Deparlu orang mernbaca dengan seksama seri karangan Elsevier yang pernah menulis tentang perilaku para diplomat Indonesia di luar negeri sebagai vrouwenleverancier van Sukarno (tukang memberi perempuan untuk Sukarno). Dalam karangan itu disebutkan satu per satu nama para diplomat yang telah memberikan jasa-jasa tadi kepada Presiden.

Konon Subandrio menugaskan kepada Badan Pusat Intelijen (BPI) untuk mengusut unsur­ unsur kontra-revolusioner manakah di kalangan bangsa Indonesia yang telah memberikan data tadi kepada majalah Elsevier. Pada hemat saya dalam hal ini Elsevier memperoleh informasi sendiri tanpa bantuan unsur kontra-revolusioner seperti yang disangka oleh Subandrio. Bukankah apa yang dikerjakan oleh Sukarno setiap kali dia keluar negeri, di Roma, di Wina, di Tokyo dan sebagainya cukup diketahui oleh umum di tempat-tempat itu? Jadi juga oleh peninjau-peninjau Belanda? (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 239-240.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*