LAKSAMANA UDARA SURYADARMA BERHENTI

LAKSAMANA UDARA SURYADARMA BERHENTI[1]

 

20 Januari 1962

Laksamana Udara Suryadarma hari ini berhenti sebagai Kepala Staf Angkatan Udara dan ia digantikan oleh Kolonel Udara Omar Dani.

Hal ini diumumkan oleh Presiden Sukarno setelah Dewan Pertahanan Nasional bersidang di Bogor pagi tadi. Suryadarma diangkat menjadi penasihat militer Presiden. Pengangkatan Omar Dani berlaku sejak tanggal 19 Januari dan pangkatnya dinaikkan menjadi Laksamana Muda Udara.

Berlainan dengan Suryadarma, Omar Dani adalah seorang penerbang dan memang sudah sejak lama sekali tersiar desas-desus dialah pengganti Suryadarma. Berbeda dengan Angkatan Darat dan Angkatan Laut yang telah mengalami pergantian Kepala Staf beberapa kali Angkatan Udara selalu dipimpin oleh Suryadarma yang berhasil mempertahankan kedudukannya di tengah taufan dan haru biru di kalangan AURI. Tetapi sekali ini rupanya dia tidak dapat bertahan lagi.

Walaupun alasan resminya ialah seperti yang diterangkan oleh Presiden yaitu dia memerlukan seorang penasihat militer dan jabatan itu tidak dapat dirangkap dengan jabatan Kepala Staf, namun saya dengar dalam masyarakat politik di ibukota ada alasan lain.

Suryadarma jatuh karena didesak oleh pihak Angkatan Darat dan Angkatan Laut yang menganggap Suryadarma bukan orang yang tepat memimpin AURI dalam keadaan dewasa ini tatkala Indonesia menghadapi Belanda dan sengketa Irian Barat.

Konon pertempuran di laut sekitar kepulauan Aru tanggal 15 yang lalu yang mengakibatkan  teng­ gelamnya satu MTB ALRI telah menjadi sebab pula untuk mengecam Suryadarma. Mestinya dia dapat melihat sebelum­ nya akan perlunya terus diadakan patroli di udara untuk mengetahui gerak-gerik kapal-kapal Belanda di perairan tapal batas.

Presiden kemudian mengalah kepada desakan Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Diambilnyalah keputusan menghentikan Suryadarma. Inilah yang dibicarakan orang tetapi apa alasan sebenarnya tentu diketahui oleh orang-orang dalam saja.

Kantor berita “UPI” mengabarkan dua hari yang lalu dari Washington, “PBB kini telah tampil ke depan mengadakan tekanan pada Indonesia untuk berunding dengan Belanda mengenai masalah Irian Barat dan Amerika Serikat telah mendesak Indonesia menyetujui mengadakan perundingan, demikian dikatakan oleh pejabat-pejabat AS.” Presiden John Kennedy kemarin berbicara dengan U Thant di New York dan bukan mustahil kedua orang itu meninjau pula masalah Irian Barat.

Hingga hari ini sudah 40 orang ditahan di Jakarata sejak tanggal 16 Januari dilakukan penangkapan terhadap diri Sjahrir. Kabarnya orang-orang yang dianggap jadi anggota NIGO atau Nederlands Indisch Guerilla Organisatie telah pula ditangkapi.

Seorang pengusaha menceritakan Chaerul Saleh tidak tahu suatu apa tentang penangkapan terhadap Sjahrir. Ia sendiri terkejut tampaknya. Apakah sikap Chaerul ini sungguh-sungguh ataukah hanya suatu pose belaka? Seorang peninjau politik menyampaikan kepada saya:

Chaerul speelt het zeervoorzichtig nu.(Chaerul berhati-hati sekali permainannya sekarang).

Mengapa dia begitu berhati-hati? tanya saya. Ia menjawab:

“Apakah kau tidak tahu tentang ramalan yang kesohor mengenai Chaerul? Di Jerman Barat orang Indonesia di sana membicarakannya. Ketika dulu Chaerul Saleh berada di Eropa menjadi mahasiswa, maka seorang wanita Indo Belanda bernama Farida meramalkan padanya dia itu akan menjadi orang penting di Indonesia.

Kini memang ternyata Chaerul sudah menjadi Menteri. Tetapi tidak cukup begitu saja. Wanita tadi meramalkan seterusnya biarpun andaikata buat satu hari saja Chaerul Saleh akan menjadi Presiden Republik Indonesia kelak menggantikan Sukarno. Chaerul percaya akan ramalan itu dan karena itulah dia kini bersikap amat berhati-hati sambil menunggu waktunya.” (DTS)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 163-165.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*