Kudeta PKI Tahun 1965 di Luar Jakarta (5): Sumatra Utara

Kudeta PKI Tahun 1965 di Luar Jakarta (5): Sumatra Utara [1]

PKI di Sumatra Utara telah menyiapkan gerakan-gerakan besar yang didukung oleh beberapa oknum di kalangan ABRI. Namun, rencana yang disiapkannya dengan matang pada akhirnya tidak dilaksanakan. Adapun persiapan yang dilakukan oleh PKI di Sumatra Utara sebagai berikut: pada bulan Agustus 1965 Muhammad Nazir selaku ketua penghubung PKI Sumatra Utara dipanggil oleh Ketua Biro Chusus Pusat di Jakarta. Ia ditugaskan untuk membentuk Dewan RevoIusi daerah dari grup komando guna mendukung coup yang akan dilaksanakan di Jakarta. Bila tiba saatnya, maka mereka harus menyingkirkan pimpinan TNI-AD yang berada di Sumatra Utara yaitu :

  1. Mayjen AJ. Mokoginta (Panglima Komando Antar Daerah Sumatra).
  2. Brigjen P. Sobiran (Pangdam II/Bukit Barisan)
  3. Brigjen Kemal Idris
  4. Kolonel Susatio

Pada tanggal 20 Agustus 1965, Letkol Maniso Komandan Batalyon Infanteri 205 Korem-23/Dataran Tinggi, menghubungi Wakil Ketua Biro Penghubung CC PKI untuk Sumatera Utara Wirjoatmodjo alias Yono di rumahnya Jl. Labu No. 11 Medan. Pada kesempatan itu, Wirjoatmodjo memberi penjelasan kepada Letkol Maniso bahwa di Jakarta telah dibentuk Dewan Jenderal yang akan merebut pemerintah yang sah, dan PKI menentang Dewan Jenderal itu. Untuk mengahadapi Dewan Jenderal, maka harus menunggu instruksi dari CC PKI.

Pertemuan antara Letkol Maniso dan Wirjoatmodjo dilanjutkan lagi di rumah Wirjoatmodjo pada tanggal 8 September 1965. Dalam pertemuan itu dibahas instruksi dari CC PKI yang disampaikan sendiri oleh Wirjoatmodjo. Instruksinya antara lain agar di daerah Sumatera Utara dibentuk Group Komando yang beranggotakan 6 orang, terdiri dari simpatisan PKI dalam tubuh ABRI. Selain itu diinstruksikan membentuk Dewan Revolusi Sumatera Utara yang beranggotakan + 20 orang terdiri dari anggota-anggota simpatisan PKI di kalangan ABRI ditambah tokoh-tokoh PKI bersama ormas­-ormasnya dan partai-partai lain yang mendukung PKI. Dalam rangka pembentukan Dewan Revolusi dan Group Komando perlu menghubungi perwira-perwira dan pasukan Diponegoro yang sedang bertugas di Kisaran, yaitu Mayor Suhardjo, Kapten Sukasman dan Kapten Sugeng. Perwira-perwira itu sudah dikenal oleh Biro Penghubung CC PKI sebagai simpatisan PKI. Saat gerakan dimulai sama dengan di pusat. Oleh karena itu, semuanya diperintahkan untuk mengikuti siaran RRI Pusat. Semua instruksi Wirjoatmodjo diterima dengan baik oleh Letkol Maniso, dan ia akan segera menghubungi perwira-perwira dari Diponegoro.

Untuk melaksanakan instruksi dari CC PKI itu, pada tanggal 12 September 1965 Letkol Maniso bersama Wirjoatmodjo, Mayor Barno, Capa Agustinus Syamsu dan anggota P-1 CC PKI daerah Asahan Abdul Kohar Nasution menghubungi perwira-perwira dari pasukan Diponegoro yang menjadi simpatisan PKI. Pertemuan itu dilaksanakan di rumah Muhammad Yusuf Kario Sentiko. Dalam pertemuan itu Wirjoatmodjo menjelaskan instruksi-­instruksi dari CC PKI kepada para perwira-perwira Diponegoro. Wirjoatmodjo menekankan kepada Kapten Sukasman dan Kapten Sugeng agar Batalyon Diponegoro yang dipimpin oleh Mayor Suhardjo membantu gerakan kontra revolusi. Kapten Sugeng dan Kapten Sukasman menyanggupinya, dan berjanji akan segera menyampaikan kepada Mayor -Suhardjo yang saat itu tidak dapat hadir karena sakit.

Tanggal 19 September 1965 Kepala Biro Penghubung CC PKI untuk Sumatera Utara Muhammad Nazir alias Amir menghubungi Brigjen Ulung Sitepu Gubernur Sumatera Utara di rumahnya Jl. Jenderal Sudirman No. 41 Medan. Dalam pertemuan itu, Muhammad Nazir menjelaskan instruksi-instruksi dari CC PKI untuk membentuk Group Komando dan Dewan Revolusi di daerah Sumatera Utara. Brigjen Ulung Sitepu menyetujui instruksi itu.

Pertemuan itu dilanjutkan lagi pada tanggal 25 September 1965 di Jl. Badur No.1 Medan antara M Nazir, Wirjoatmodjo dengan oknum-oknum ABRI yang telah dibina PKI antara lain Brigjen Ulung Sitepu (Gubernur Sumatera Utara), Letkol Maliki (Dan Brigif 7/RR), Letkol Sugeng Sugiarto (Ass. I Kodam Bukit Barisan), Letkol Maniso (Dan Yon In. 205). Dalam pertemuan itu dibentuk susunan Group Komando dan Dewan Revolusi. Susunannya sebagai berikut :

2) Group Komando :

  1. Gubernur Sumatera Utara Brigjen Ulung Sitepu, Ketua merangkap pimpinan bidang politik.
  2. Letnan Kolonel Maliki – pimpinan bidang militer.
  3. Letnan Kolonel Sugeng Sugiarto – anggota.
  4. Letnan Kolonel Maniso – anggota.
  5. Muhammad Nazir – anggota
  6. Wongsoatmodjo – anggota

2) Dewan Revolusi :

  1. Gubernur Sumatera Utara Brigjen Ulung Sitepu
  2. sebagai Ketua.
  3. Letnan Kolonel Sugeng Sugiarto sebagai perencana politik.
  4. Letnan Kolonel Maliki sebagai anggota.

Susunan Dewan Revolusi akan ditambah dengan anggota-­anggota yang akan diisi dari CDB PKI serta partai-partai yang menyokong Dewan Revolusi.

Dalam rapat kedua malam itu juga di rumah Brigjen Ulung Sitepu, telah disusun kekuatan pelaksana gerakan yang direncanakan pada tanggal 5 Oktober 1965. Brigjen Ulung Sitepu selaku Gubernur Sumatera Utara mendukung dana gerakan tersebut, sedangkan kekuatan militer sejumlah 3 Brigade diupayakan oleh Letkol Maliki dan Letkol Sugeng Sugiarto. Sementara itu, Letkol Maliki juga mempersenjatai Pemuda Rakyat di berbagai tempat yaitu 1500 orang di Medan, 1000 orang di Deli Serdang, 1000 orang di Langkat, dan 750 orang di Simalungun. Daerah mundur telah pula disiapkan yaitu di Tanah Karo, Dairi, Langkat, dan Labuhan Batu. Apa yang telah direncanakan oleh PKI di Sumatera Utara menjadi berubah setelah coup di Jakarta mengalami kegagalan, sehingga Letkol Maliki memutuskan tidak melakukan gerakan apapun.

—DTS—

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*