Kudeta PKI Madiun (2): Kekuatan Pasukan Pendukung PKI di Jawa Tengah (Yogya, Magelang, Solo) dan Jawa Timur (Madiun dan sekitarnya)

Kudeta PKI Madiun (2): Kekuatan Pasukan Pendukung PKI di Jawa Tengah (Yogya, Magelang, Solo) dan Jawa Timur (Madiun dan sekitarnya)[1]

Keadaan PKI pada waktu sebelum meletusnya pemberontakan Madiun cukup kuat, baik organisasinya maupun keuangannya. PKI mampu membeli alat-alat senjata yang kemudian disebarkan ke berbagai daerah baik di wilayah yang dikuasai oleh Republik Indonesia maupun daerah yang dikuasai musuh. Untuk melakukan pemberontakan, PKI mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Hal ini dapat diketahui dari beberapa dokumen PKI yang diketemukan merencanakan sebagai berikut :

  1. Revolusi bersenjata direncanakan pada bulan Nopember 1948.
  2. Rencana perebutan kekuasaan baik dengan jalan “parlementer” maupun dengan jalan “non parlementer” direncanakan sejak Juli 1948.
  3. Perebutan kekuasaan merupakan tujuan akhir. Tidak ada kompromi lagi tentang masalah ini.[2]

Selain itu terdapat juga dokumen yang merinci lebih detail tentang strategi PKI bulan Juli 1948 yang memuat tindakan-tindakan politik dan militer yang harus dilakukan dalam perjuangan non parlementer dinamakan “Menginjak Perdjuangan Militer Baru”. Dokumen ini antara lain menyebutkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Usaha-usaha perwira yang pro FDR dalam Angkatan Perang untuk mempengaruhi jalannya program rasionalisasi agar menguntungkan FDR.
  2. Hanya 20 kedudukan penting dalam Angkatan Perang masih berada di tangan orang-orang FDR. TNI Masyarakat praktis telah dibekukan.
  3. Posisi Militer FDR masih kuat.[3]

Guna mempersiapkan program selanjutnya PKI telah menetapkan rencana sebagai berikut : Menarik sebagian pasukan dari front. Brigade Martono dan Jadau diperintahkan untuk memperkuat operasi-operasi di dalam. Jika terpaksa harus mengirimkan pasukan-pasukan ke front, akan dikirimkan pasukan yang belum begitu dipercaya. Selain itu PKI juga melakukan pemindahan pasukan-pasukan ke daerah-daerah yang dianggap strategis dan menarik pasukan-pasukan dari daerah-daerah yang tidak dapat dipertahankan lagi.

Daerah Madiun akan dijadikan basis gerilya paling kuat untuk melakukan perjuangan jangka panjang. Untuk itu paling tidak harus menempatkan 5 (lima) Batalyon di Madiun dan harus sudah ada di kota itu dalam bulan Agustus 1948. Kemudian daerah Solo dibuat sebagai “wild west”, untuk mengalihkan perhatian umum, sehingga perlu pasukan yang kuat agar kekuasaan de facto tetap berada di tangan kita. Kemudian daerah Kedu, Yogyakarta, Pati, Semarang, Bojonegoro, Surabaya dan Kediri akan dijadikan sebagai daerah-daerah netral, yang berarti bahwa jika situasi memungkinkan daerah tersebut akan diperkuat atau meninggalkannya.

Dalam dokumen PKI itu juga menyebutkan, selain ada tentara TNI yang resmi, dia akan membentuk Tentara Rakyat dalam arti yang seluas-luasnya dan secara illegal. Dari isi dokumen tersebut tampak bahwa PKI telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Kemudian sesudah Rera, dalam jajaran Divisi IV / Panembahan Senopati terdapat beberapa batalyon dan Brigade-brigade TNI yang sebagian telah disusupi komunis. Brigade tersebut antara lain:

Brigade 7 dipimpin oleh A. Jadau dari Tentara Laut Republik Indonesia (TLRl)[4]berkedudukan di Solo, Brigade 8 yang dipimpin oleh Iskandar (Laskar Rakyat), Brigade 9 dipimpin oleh Soejoto dari Tentara Laut Republik Indonesia (TLRl) di Purwodadi dan Batalyon Kuncoro (TLRl) di Purwodadi, dari Brigade 5 (Suadi) yang terlibat adalah Batalyon Soedigdo di Panasan (Solo), kemudian pindah ke Wonogiri. Sedangkan Brigade 6 dipimpin oleh Sudiarto yang berkedudukan di Pati dengan Batalyon-batalyonnya yang terlibat adalah Batalyon Purnawi di Demak, Batalyon Sutarno di Kudus, Batalyon Martono di Purwodadi, Batalyon Rochadi di Pati, Batalyon Yusmin di Purwodadi.

Selain di daerahJawa Tengah, PKI juga menyusun kekuatannya di daerah Madiun dan sekitarnya. Kekuatan tersebut terdiri dari :

  1. Batalyon Mursid di Saradan.
  2. Batalyon Panjang di Ponorogo.
  3. Batalyon Mussofa di Madiun.
  4. Batalyon Durachman di Madiun.
  5. Batalyon Darmintoaji di Ngawi.[5]

Selain batalyon-batalyon tersebut, masih ada kesatuan bekas Biro Perjuangan dan TNI Masyarakat yang dipimpin Djoko Sujono yang menggabungkan diri dengan Brigade 29 di Madiun. Di daerah Kediri di lereng timur Gunung Wills ditempatkan Batalyon Maladi Yoesoef yang ditempatkan dalam posisi cadangan. Selain pasukan-pasukan tersebut yang merupakan kekuatan andalan PKI Musso, juga diharapkan adanya dukungan pasukan dari aparat FDR di daerah yang bertugas sebagai pasukan teritorial. Mereka menganggap pada waktu itu sebagai akibat Rera, TNI sedang mengalami perpecahan dan berada dalam situasi yang tidak menguntungkan, sehingga tokoh-tokoh militer PKI/Musso sangat optimistis akan kekuatan Tentara Merahnya.

Sampai menjelang meletusnya pemberontakan tahun 1948, kekuatan bersenjata PKI yang ada di daerah Jawa Tengah, Madiun dan sekitarnya berjumlah kurang lebih 12 batalyon.

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid II: Penumpasan Pemberontakan PKI 1948, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Himawan Soetanto, Perintah Presiden Soekarno “Rebut Kembali Madiun”, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994, halo 137.

[3]    Ibid

[4]     Tentang TLRI  lihat Oesman Rachman et.al, Sejarah TNI Angkatan Laut Jilid I, Ditjaraha, Jakarta 2005, hal.263

[5]     Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Komunisme di Indonesia, Jilid I, Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Jakarta, 1991, 110

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*