Konsolidasi Organisasi Dan Bergesernya Kepemimpinan PKI (2): Membangun Partai Massa

Konsolidasi Organisasi Dan Bergesernya Kepemimpinan PKI (2): Membangun Partai Massa [1]

 

Empat bulan sesudah mengambil alih pimpinan, Aidit pada bulan April 1951 melakukan sidang pIeno Central Comite. Sidang ini berhasil merancang konstitusi PKI. Rancangan konstitusi ini kemudian disampaikan kepada organisasi-organisasi bawahannya untuk dijadikan bahan diskusi yang luas di kalangan PKI. Tanpa menunggu pengesahan kongres, seluruh anggota CC yang didominasi oleh kelompok Aidit setuju menggunakan rancangan konstitusi sebagai pegangan dalam aktivitas pembangunan partai sehari-hari. Pengalaman-pengalaman praktis yang didapat dari pelaksanaan rancangan konstitusi itu dijadikan bahan-bahan untuk penyempurnaan (amandemen).[2]

Sejak tahun 1951 itu, Aidit berusaha melakukan propaganda untuk kegiatan partai hingga timbul kesan diluar bahwa PKI adalah suatu partai yang nasionalis, suatu partai yang anti kolonialis, suatu partai yang bersimpati terhadap agama, suatu partai yang bertanggungjawab, suatu partai yang menentang penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan-tujuan politik dan suatu partai yang membela tegas demokrasi. PKI mulai melaksanakan dua tugas pokoknya, yaitu penggalangan Front Persatuan dan pembangunan partai.

Sesuai dengan garis perjuangannya itu, Aidit memulai ofensifnya untuk menguasai buruh tani, yang dianggap sebagai kekuatan pokok front persatuan nasional. Buruh tani dinilai golongan yang paling tertindas dibandingkan dengan golongan lainnya. Dengan demikian PKI harus mendapat dukungan dari massa tani sebanyak mungkin dengan cara mobilisasi dan mengorganisasi buruh dan tani supaya mereka menjadi kekuatan pendukungnya. Dalam hal ini Aidit menjelaskan sebagai berikut :

Jika persatuan kuat dan kebijakan benar-benar dituntun oleh Partai Komunis, kemudian jaminan yang pasti akan kekuatan front nasional yang bersatu akan segera terbakukan. Dengan cara yang sama kekuatan front nasional yang bersatu tersebut dapat dipastikan akan dapat memantapkan persatuan antara kaum buruh dan kaum petani, dan hal ini juga berarti memperkuat dan meningkatkan kemampuan Partai Komunis. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh “Radical Concentratie”, PPKI, GAPI, Konsentrasi Nasional dan BPP timbul karena front-front nasional bersatu tersebut tidak berlandaskan pada persatuan yang kuat antara kaum buruh dan kaum petani.[3]

Guna mendapatkan dukungan dari massa tani, Aidit mengajukan tuntutan “kenaikan upah” dan “perubahan tata guna tanah”. Untuk itu kader-kader PKI disebar dengan tugas melakukan peninjauan ke desa-desa. Untuk menarik simpati petani pada bulan November 1951 Aidit mengajukan tuntutan kepada pemerintah, agar diadakan perubahan tata guna tanah bagi kaum tani dengan menghapuskan sistem tuan tanah dan membagikan tanah dengan cuma-cuma kepada petani. Tuntutan perubahan tata guna tanah ini dijadikan bahan agitasi yang sehebat-hebatnya oleh PKI.

Sejalan dengan program baru PKI itu, Aidit melaksanakan kerjasama dengan golongan non-komunis, dan mencoba bersikap simpati terhadap golongan agama. PKI mencoba mendekati PNI yang sekalipun anti komunis, namun sebagai salah satu partai besar yang bisa dijadikan kawan bersaing melawan Masyumi. Selain PNI, PKI mencoba menjalin kerjasama dengan Nahdhatul Ulama yang baru berpisah dengan Masyumi. Aidit secara terarah memanfaatkan kelemahan dan kelengahan golongan non-komunis, yang dianggap sebagai borjuis nasional, dengan diktum :

“Maju mundurnya partai dan maju mundurnya revolusi, tergantung pada hubungan partai dengan borjuasi nasional. Dalam bekerjasama dengan borjuasi nasional, PKI tidak boleh kehilangan kebebasannya dan tidak boleh melengahkan sekutu yang paling dipercayai dan paling banyak jumlahnya yaitu massa tani”.[4]

Dalam propagandanya untuk menarik golongan agama, PKI menyatakan dirinya sebagai sebuah partai yang “toleran dan simpati kepada agama, mau bekerjasama dengan pihak manapun dan mempertahankan kebebasan demokratis”.[5] Hasil ” kerja keras” trio Aidit, Njoto, Lukman ialah jumlah pengikut PKI meningkat. Barisan Tani Indonesia (BTI) yang semula dianggap organisasi independen yang beranggota 2000 orang berhasil dikuasai. Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) pendukung kuat PKI sejak tahun 1945 menjadi pelopor penciptaan organisasi buruh baru. Organisasi Veteran, wanita, pemuda, mahasiswa, seniman, wartawan, baik lokal maupun nasional dibentuknya sebagai organisasi massa yang terbuka dan independen. Sebagai contoh organisasi wanita Gerakan Wanita Sosialis (Gerwis) yang dibentuk pada 4 Juni 1950 adalah sebuah organisasi yang dikatakan terbuka dan independen. Bertambahnya jumlah anggota PKI pada awal konsolidasi ini sejalan dengan strategi dan taktik “pura-pura berkawan”.

***

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid III: Konsolidasi dan Infiltrasi PKI Tahun 1950-1959, Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     D.N. Aidit, Lahirnja PKI dan Perkembangannya. Jajasan Pembaruan, Djakarta., 1955, hal. 40

[3]        DN. Aidit, “The National United Front and Its History”.,dalam Selected Writing., Vol. I, hal54

[4]        D.N. Aidit, op.cit.,hal 38.

[5]       Donald Hindley, op. cit., hal. 131.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*