KOLONEL JUSUF DIKHIANATI OLEH ANDI SELLE

KOLONEL JUSUF DIKHIANATI OLEH ANDI SELLE [1]

8 April 1964

 

Kota Pinrang 184 Km sebelah Utara Makasar menjadi tempat Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel M. Jusuf yang dikhianati oleh Andi Selle dan kawan-kawan pada tanggal 5 April lalu Kolonel Jusuf sedang berada di kota Pinrang untuk menyelesaikan keamanan di daerah itu dengan Letkol (pensiunan) Andi Selle Mattola. Tiba-tiba dia diserang dari berbagai jurusan dari jarak hanya beberapa meter dengan senjata 12,7 dan berbagai senjata otomatis lainnya.

Pada waktu itu Jusuf dan rombongan sedang berada dalam iring-iringan mobil. Akibat serangan mendadak itu mobil yang membawa Kolonel Jusuf menjadi hancur tetapi dia sendiri selamat. Dua orang perwira menengah AD dan beberapa prajurit TNI gugur seketika itu juga dan seorang pembesar,Polisi mengalami luka-­luka. Andi Selle sendirilah yang memerintahkan kepada pasukan riya yang telah dipersiapkan terlebih dahulu dengan teriakan :

“Tembak Panglima”.

Setelah terjadi pengkhianatan tadi Kolonel Jusuf segera terbang ke Jakarta melapor kepada Panglima Angkatan Darat Ahmad Yani dan kepada Presiden. Hari ini Jusuf kembali ke Makassar. Beberapa waktu yang lalu Presiden memerintahkan supaya sebelum 17 Agustus 1964 yang akan datang keamanan di Sulawesi Selatan/Tenggara telah dapat diselesaikan. Ini berarti perlawanan Kahar Muzakkar mesti sudah dibasmi.

Andi Selle selama ini tidak jelas posisinya. Pada lahirnya ia nyatakan taat kepada pemerintah Rl, tetapi di belakang layar dia punya hubungan diam-diam dengan Kahar Muzakkar. Andi Selle biasa berkirim surat langsung kepada Presiden dan sebaliknya Presiden biasa langsung berkorespondensi dengan “ananda”nya Andi Selle.

Karena Andi Selle menguasai tanaman kelapa rakyat di daerahnya, maka ia melakukan perdagangan gelap kopra yang diangkut ke daerah jajahan Inggris di Tawao. Sebagai ganti dia memasukkan senjata dan amunisi yang sebagian besar bukan mustahil mengalir tetus ke daerah yang dikuasai oleh Kahar Muzakkar. Kini dengan terjadinya pengkhianatan oleh Andi Selle Mattola tadi, maka Kolonel Jusuf terpaksa bertindak tegas dan operasi militer niscaya dilancarkannya. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 446-447

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*