KISAH MISS NEMOTO ALIAS DEWI SUKARNO

KISAH MISS NEMOTO ALIAS DEWI SUKARNO [1]

22 Desember 1962

 

Dalam majalah Newsweek tanggal 26 November 1962 dimuat cerita tentang apa yang diakukan oleh Presiden Sukarno ketika berkunjung ke Tokyo baru-baru ini. Rombongannya terdiri dari 48 orang, termasuk di dalamnya 5 anggota kabinet, Kepala Staf Angkatan Darat, 10 pengawal dan satu perempuan. Siapakah perempuan itu?

She was slinky, doe-eyed Miss Nemoto, who used to be a Tokyo cabaret hostess(Dia adalah Nona Nemoto yang berbaju ketat, bermata kelinci betina yang pernah jadi hostess kelab malam Tokyo), tulis Newsweek.

Presiden Sukarno berusaha memukimkan kembali Miss Nemoto di tanah airnya setelah berdiam selama dua tahun di Jakarta sebagai salah satu favorit-favorit Sukarno. Miss Nemoto menggantikan Miss Sachiko yang telah membunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya.

Diceritakan tentang kunjungan ke berbagai tempat restoran seperti Mikado dan Kokusai Theater. Di Mikado sejumlah wanita telanjang memberikan  pertunjukan. Di Restoran Geisha, 25 orang geisha yang muda-muda dipanggil untuk menari, menuangkan minuman sake, mengikik-ngikik (giggle) dan untuk dicubit (get pinched). Berapakah rekening yang mesti dibayar untuk pesta dan makan demikian itu? Menurut Newsweek seorang pelayan restoran mengatakan:

“Saya tidak pernah melihat orang yang makan begitu banyak seperti orang­-orang Indonesia ini.

Mereka pesan porsi dobel buat segala-galanya. Saya kira mereka tidak dapat makanan yang begitu baik di rumah mereka.

“Para pengawal (ajudan dan Iain-lain) rupanya mempunyai uang lebih banyak daripada menteri sebab Newsweek menulis: “They seemed to have more money to bum than the ministers (Mereka rupanya memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan daripada para menteri) .

Apakah jadinya dengan Miss Nemoto? Newsweek menulis,

Miss Nemoto, she would be left behind in Tokyo where she started, a richer, a wiser, but not necessarily a sadder girl’ (Nona Nemoto, ia akan ditinggalkan di Tokyo tempat dia memulai, seorang cewek yang lebih kaya, lebih arif tetapi tidak perlu lebih sedih).

Mengenai hal yang belakangan ini Newsweek ternyata salah informasi sebab hari ini saya dengar dari seorang kenalan Jepang bahwa Miss Nemoto yang di Jakarta mempunyai nama Dewi dan sudah mempunyai kewarganegaraan Indonesia kini berada di Jakarta kembali.

Adapun kepergiannya ke Tokyo bukanlah untuk diresettle (dimukimkan kembali) seperti dikatakan oleh Newsweek akan tetapi untuk mengadakan konsultasi dengan seorang ahli kandungan terkenal di Tokyo yang mengepalai rumah sakit swasta dikedai. Menurut kenalan Jepang tadi, Sukarno dan Dewi sampai dua kali mengunjungi dokter rupanya sangat diinginkan sekali supaya Dewi menjadi hamil.

Ketika saya tanyakan siapakah yang membiayai ongkos hotel, makan, hiburan dan lain-lain, kenalan Jepang itu menjawab, ongkos rombongan Presiden selama tiga minggu itu dipikul oleh berbagai grup usahawan Jepang yang banyak berhubungan dengan Indonesia seperti Kinoshita, Kubo dan lain-lain.

Dan berapakah ongkos itu? Dijawabnya, kurang lebih 100 juta yen. Benarkah mereka yang ikut dalam rombongan Presiden berfoya-foya kerjanya? Benar, walaupun tertentunya tidak seluruh rombongan ikut, kata kenalan Jepang saya tadi. Dia menyebutkan nama dua nightclub, yakni Latin Quarter dan Copacabana. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 299-301.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*