KISAH HARYATI ALIAS PENTUL

KISAH HARYATI ALIAS PENTUL [1]

 

 

22 Mei 1963

 

Hari ini Presiden ada di Tokyo lagi untuk beristirahat. Dalam masyarakat politik di Jakarta orang memperbincangkan tentang “berita terakhir” yaitu Presiden sudah kawin lagi dengan seorang gadis Jawa Timur bernama Haryati tetapi biasa dipanggil dengan nama Pentul. Dewasa ini Pentul berdiam di Jalan Madiun dekat kediaman Duta Besar Francis.

Ketika Presiden pergi ke Irian Barat belum lama berselang Pentul ikut serta dalam rombongan Presiden. Bagaimana rupa Pentul? Kata seorang wanita yang pernah melihatnya: “Een verjongde uitgave van Hartini” (Suatu cetakan lebih muda dari Hartini).

Seorang anggota rombongan Presiden ke Irian Barat menceritakan kepada saya, Pentul ikut di atas kapal penjelajah “Irian Barat” yang membawa Presiden dari Ambon ke Kota baru.

“They have a real honeymoon (Mereka betul-betul berbulan madu), ujar anggota rombongan itu.

Ketika Presiden tanggal 6 Mei yang lalu tiba di lapangan terbang  Kemayoran  kembali  dari Irian Barat, maka Pentul adalah satu-satunya wanita dalam kapal terbang Presiden. Sialnya Nyonya Hartini ada di Kemayoran untuk menyambut kembalinya Presiden, Hartini bercucuran air matanya sedangkan Presiden jelas sekali marah tampaknya. Keadaan jadi lebih rumit karena Hartini ikut bersama Presiden dalam mobil RI-1 yang menuju ke Istana Merdeka sedangkan Pentul menuruti dalam mobil belakang.

Ini adalah untuk pertama kali Hartini menjejakkan kakinya di Istana Merdeka. Ketika Megawati dan putri-putri Presiden melihat Hartini dalam mobil RI-1, maka mereka terus masuk ke dalam dan menutup pintu-pintu Istana. Hartini terpaksa duduk di beranda muka saja. Kabarnya Hartini dan Pentul di beranda Istana itu mengadakan percakapan terus terang dan kemudian Hartini kembali ke Istana Bogar tempat dia tinggal.

Keesokan harinya Hartini kembali ke Jakarta menghadiri Kongres Wanita Perti. Kongres itu tengah mempersiapkan sebuah resolusi yang isinya ialah supaya Nyonya Hartini diakui sebagai “Ibu Negara “. Hal ini dilaporkan kepada Presiden dan walaupun dia banyak perjanjian dengan tamu-tamunya waktu itu dengan tiada daya dia meloncat masuk mobil, terus menuju Gedung Pemuda tempat diadakan Kongres Wanita Perti.

Presiden mengambil Hartini dari sana dan disuruh antarkannya ke Bogor kembali. Dengan begitu ia mencegah terwujudnya resolusi yang hendak menyatakan Hartini sebagai “Ibu Negara”. Apakah sebabnya Presiden begitu getol mencegah hal tersebut? Konon ada sebuah petuah seorang dukun yang mengatakan dahulu, Sukarno boleh saja kawin dengan Hartini asalkan wanita itu jangan sampai menginjakkan kakinya di Istana dan jangan dijadikan First Lady atau dalam istilah Wanita Perti, Ibu Negara”. Sebab kalau terjadi hal demikian, maka Sukarno akan kehilangan “saktinya”. Percaya atau tidak tetapi begitulah cerita orang di Ibu kota. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 365-367.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*