KINI TABIR DAPAT DIBUKA

KINI TABIR DAPAT DIBUKA [1]

 

19 Juni 1961

Zakaria Kamidan yang menamakan dirinya Panglima Komando Operasi Gunung Bungkuk PRRI/RPI bersama dengan 1.130 anak buahnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi tanggal 17 Juni lalu di Bengkulu. Penyerahan dirinya itu diterima oleh Panglima Daerah Militer IV/Sriwijaya Kol. Harun Sohar.

Kemarin ketika membongkar- bongkar dalam koper buku saya menemukan sebuah brosur kecil yang diterbitkan oleh Penerangan Angkatan Darat tanggal 20 Mei 1958. Brosur itu berjudul Kini Tabir Dapat Dibuka dan ia membentangkan usaha-usaha Zulkifli Lubis, bekas wakil KASAD yang ditujukannya terhadap pemerintah pusat di masa itu. Saya baca lagi apa yang menurut Penerangan Angkatan Darat telah dilakukan oleh Zulkifli Lubis dan kawan-kawannya. Usaha itu melalui fase berjenjang:

  1. Dimulai dengan insubordinasi yang halus (26 Juni 1955) ini adalah usaha Lubis menggagalkan dilantiknya Bambang Utoyo selaku KASAD Oleh Presiden Sukarno;
  2. Usaha-usaha penangkapan dengan isyu Anti-Korupsi (13 Agustus 1956) ini adalah usaha menangkap Menteri Luar Negeri kabinet Ali ke II yaitu Ruslan Abdulgani tetapi usaha itu digagalkan;
  3. Usaha-usaha coup detat untuk mengubah pemerintah (16 November 1956) ini adalah usaha menggerakkan pasukan RPKAD dari Batujajar ke Jakarta untuk mengadakan penangkapan terhadap pemimpin negara dan pemerintahan tetapi ini pun gagal;
  4. lsyu pergolakan daerah yang dimaksudkan ialah Dewan Banteng di Padang melakukan putsch pada tanggal 20 Desember 1956, disusul oleh tindakan Simbolon di Medan tanggal 22 Desember 1956 tetapi kemudian ia digulingkan oleh Djamin Gintings, seterusnya diambil-alihnya kekuasaan sipil di Sumatra Selatan oleh Barlian bulan Januari-Februari 1957, kemudian tanggal 2 Maret meletus peristiwa “Permesta” di Makassar;
  5. Tuntutan daerah bergolak menghadapi Musyawarah Nasional atau Munas dan Musyawarah Nasional Pembangunan atau Munap (September 1957);
  6. Proklamasi Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan isyu antikomunisme tanggal 15 Februari 1958.

Menurut Penerangan Angkatan Darat, di belakang semua itu terdapat Z. Lubis sebagai dalangnya.

Dalam brosur tadi juga terdapat isi teks Piagam Persetujuan Palembang yang ditandatangani oleh Achmad Husein, H.N.V. Sumual dan Barlian, masing-masing pemimpin daerah yang bergolak di bulan September 1957. Dikemukakan di situ tuntutan- tuntutan pokok mereka seperti: dipulihkannya dalam pimpinan negara Dwi-Tunggal Sukarno dan Hatta; digantinya pimpinan Angkatan Darat (Nasution); dilaksanakannya desentralisasi dalam sistem pemerintahan negara; dibentuknya Senat; diadakannya peremajaan dan penyederhanaan di seluruh lapangan dan tingkatan; dilarangnya Komunisme yang pada dasarnya berpusat internasional. Malahan dalam lampiran penjelasan Piagam Persetujuan Palembang tadi disebutkan antara lain “Sukarno harus exit sebagai Presiden dan digantikan sementara oleh suatu Presidium super team (Dewan Pertimbangan Agung) yang terdiri dari tiga orang atau lebih oneven. Jangka waktu berlakunya cara yang demikian dinamakan “masa peralihan” (SOB).

Apabila saya baca lagi tuntutan-tuntutan pokok tadi lalu saya bandingkan dengan keadaan nyata dewasa ini yaitu 3 tahun 9 bulan kemudian, maka saya menggeleng-gelengkan kapala.

Apakah yang tercapai? Nol besar. Sukarno sekarang lebih berkuasa lagi.

Pimpinan Angkatan Darat tetap begitu juga, Nasution kuat posisinya. Mengenai PKI? Partai ini tetap jaya berkat politiknya menggandul pada Sukarno.

Saya baca seterusnya konsepsi Z. Lubis dan perubahan personalia Angkatan Darat yang diajukannya. Menurut konsepsi Z. Lubis, setelah direbut kekuasaan , maka A.H. Nasution dan Gatot Subroto harus diberhentikan selaku KASAD dan Wakil KASAD. Mereka digantikan oleh Kol. Abimanju dan Kol. Mokoginta. Tetapi apa kenyataannya dewasa ini? Nasution dan Gatot Subroto tetap dalam pangkat dan kedudukan mereka. Abimanju sudah pensiun, sebaliknya Mokoginta telah menjadi Brigjen dan bekerja di MBAD.

Let .Kol. Kosasih, Pejabat Panglima TT III (Siliwangi) harus diberhentikan dan diganti oleh Kol. Akil Tetapi Kosasih tidak berhenti, ia kini malah telah jadi Brigjen sedangkan Akil masih dikenakan tahanan kota. Ada pula disebut tentang Let.Kol. Umar Wirahadikusuma.

Menurut konsepsi Z. Lubis, Umar yang di masa itu menjabat sebagai Komandan Resimen X harus diangkat menjadi Kepala Staf TT III dan selama Kol. Akil belum sampai di tempatnya merangkap pula jabatan Panglima TT III, selanjutnya merangkap komandan KMKB Bandung, juga sebelum ada penggantinya merangkap Komandan Resimen X. Lalu diberi catatan oleh Z. Lubis :

“Perhatian untuk Overste Umar, dengan dipercayai 4 jabatan pada Overste Umar, diminta ketelitian sepenuhnya dengan tanggung jawab sebesar­- besarnya dalam menegakkan/melakukan ketertiban tugas Negara.”

Bagaimana kenyataan sekarang? Umar telah jadi Kolonel, menjabat sebagai Panglima Jakarta Raya. Sedangkan Zulkifli Lubis masih tetap berada di hutan Sumatra. Ah, saya simpan saja kembali di koper brosur yang berjudul Kini Tabir Dapat Dibuka. (DTS)

 

 

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 68-71.

1 Comment

  1. Setahu saya komandan sektor Brimob tempat dimana Zakaria Kamidan menyerah saat itu di Bengkulu adalah Moechtar Boechari Joesoef. Hanya saja tidak/belum pernah dipublikasikan. Dimana beliau dan pasukan Brimob juga ikut secara aktif turun ke medan pertempuran menumpas gerombolan Zakaria Kamidan. Tabir belum semua terkuak ternyata.
    Penulis harus lebih meneliti kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.