KETEGANGAN DENGAN TENGKU ABDUL RAHMAN

KETEGANGAN DENGAN TENGKU ABDUL RAHMAN [1]

25 Desember 1962

 

Mengenai masalah Brunai, perkembangan dewasa ini sudah demikian rupa sehingga antara Indonesia dengan Tengku Abdul Rahman timbul suasana tegang Dr. Subandrio belakangan ini mengeluarkan pernyataan pedas  ke alamat Tengku Abdul Rahman. Subandrio mengingatkan, apabila Malaya terus-terusan bersikap profokatif terhadap Indonesia, maka tiada jalan lain melainkan menerima tantangan itu.

Presiden Sukarno baru-baru ini menamakan “Negara-negara yang memberi bantuan untuk ikut menumpas perlawanan rakyat Brunai itu dilahirkan sebagai hasil malam terang bulan.

Tengku Abdul Rahma, menarik kesimpulan yang dimaksudkan dengan “hasil malam terang bulan itu” tentulah Malaya. Maka dalam pidatonya baru Minggu tanggal 23 Desember di depan pemimpin-pemimpin Pemuda UMNO Tengku Abdul Rahman mengatakan dia merasa diejek oleh Sukarno.

Kemajuan yang telah dicapai oleh Malaya semenjak memperoleh kemerdekaan “telah menimbulkan iri hati dan kebencian pada tetangga kita yang paling dekat” dan Tengku menyebut terus terang tetangga itu ialah Indonesia. Tengku mengatakan pengaruh PKI amat besar atas pemerintah Indonesia dan hanya bilamana kaum komunis di Indonesia sudah dihancurkan barulah harapan Malaya untuk bersahabat dengan Indonesia akan bertambah baik dan barulah pula terlaksana terjaminnya keamanan di Asia Tenggara, demikian kata Tengku Abdul Rahman. Pendek kata, suasana dan hubungan antara pemerintah Malaya dengan pemerintah Indonesia sama sekali tidak bersifat bersahabat lagi.

Pada perayaan Hari Natal di bungalow Bill Palmer di Tugu saya bercakap-cakap dengan beberapa orang perwira tentara kita. Seorang di antaranya kenal secara pribadi dengan Azahari, pemimpin gerakan rakyat Brunai yang berontak melawan penjajahan Inggris. Azahari pada awal revolusi berdiam di Indonesia. Pada tahun 1945 Azahari jadi anggota Laskar Rakyat, masuk Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) dan baru pada akhir tahun 1946 meninggalkan Indonesia Menurut perwira itu, pada bulan Juni yang lalu Azahari sudah memajukan pemintaan supaya dibantu dengan senjata.

Dalam pada itu ketika pecah pemberontakan rakyat Brunai, Azahari berada di Manila dan di sana dia berusaha mencari sokongan internasional bagi gerakan yang dipimpinnya. Filipina sendiri menurut minat pada Sabah atau dulu British North Borneo yang menurut Filipina adalah bekas wilayah Sultan Sulu yang pernah disewakan kepada sebuah maskapai dagang Inggris dan kemudian dicaplok begitu saja oleh pemerintah Inggris-Filipina menuntut supaya Sabah dikembalikan padanya dan sikap ini membuat dia bertentangan dengan Tengku Abdul Rahman yang ingin memasukkan Sabah ke dalam wilayah Malaysia yang direncanakannya itu.

Demikianlah dalam gerakan rakyat di Kalimantan Utara terbawa turut serta Indonesia, Filipina dan Malaya sedangkan sebenarnya biang keladi di belakang layar adalah lnggris. Menurut pandangan Sukarno, sesungguhnya Tengku Abdul Rahman hanyalah boneka belaka dari Inggris yang mau mempertahankan pengaruhnya di Asia Tenggara. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 303-305.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*