KEKEJAMAN PKI DI NGAWI, JAWA TIMUR: Kesaksian KH Rusydi Cholil

KEKEJAMAN PKI DI NGAWI, JAWA TIMUR [1]

(Kesaksian KH Rusydi Cholil)[2]

Rusydi Cholil adalah Imam Masjid Nurul Iman di Desa Watualang, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Berikut ini kisah kesaksiannya.

Sejak awal September 1948, Brigade 29 dibawah pimpinan colonel Dachlan memanfaatkan Batalyon Darmintoadji untuk melumpuhkan wilayah kabupaten Ngawi. Batalyon ini merupakan tulang punggung kudeta PKI. Batalyon Darmintoadji yang juga dibawah pengaruh PKI bertugas mengepung Madiun  dari Ngawi.

Setelah peristiwa Madiun meletus 18 September 1948, sejumlah tokoh agama, partai politik lawan-lawan PKI, diringkus dan dipenjarakan di penjara Kota Ngawi.

“Termasuk saya, yang hanya imam di masjid kecil di Desa Watualang ini, juga ikut ditangkap dan dipenjarakan,” kata Kiai Rusydi.

Dalam penjara, terdapat ratusan tawanan.

“Satu persatu dari tawanan itu, saya tidak kenal. Tapi ada satu orang tawanan yang saya kenai dan ingat betul adalah Saudara Munadji ayah dari Sri Edi Swasono dan Sri Bintang Pamungkas. Ia sangat pemberani, dan sering di dalam penjara itu secara terang-terangan menentang PKI,” ungkap Kiai Rusydi.

Munadji, lanjut Kiai Rusydi Cholil, secara terus-menerus mendapat siksaan yang demikian keji dari PKI, hingga akhirnya meninggal dunia secara menyedihkan.

“Jenazahnya dilempar begitu saja ke luar penjara. Entah bagaimana ceritanya di luar penjara. Tapi kemudian, agaknya segera ada yang mengurus dan dimakamkan di pemakaman di belakang Masjid Besar Kota Ngawi,” papar Kiai Rusyeli.

Kiai Rusydi menuturkan bahwa penyiksaan keji terhadap Munadji, berawal dari penolakan ratusan tawanan untuk ikut membenarkan PKI yang menuding Pemerintahan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta telah menjual bangsa ini untuk dikirim menjadi romusha. Di samping itu, PKI juga menuding pemerintahan saat itu telah bersekutu dengan imperialis Amerika  dan sekutunya.

Dalam propagandanya, termasuk kepada para tawanan, PKI menuduh bahwa ketika pendudukan Jepang, Soekarno dan Hatta adalah budak Jepang: tukang jual romusha juga tukang propagandis Heiho. Akibatnya, lebih dari dua juta wanita Indonesia menjadi janda, lantaran para suaminya dijual menjadi pekerja paksa. Setelah Jepang, Soekarno dan Hatta, sekali lagi menjual Indonesia dan rakyatnya kepada imperialis Amerika. PKI juga menuduh pemerintah pusat telah memanfaatkan para pengkhianat Trotskis, untuk melakukan penculikan terhadap orang-orang komunis.

Menurut orang-orang PKI ketika itu, sejak Indonesia merdeka dan waktu itu sudah berjalan tiga tahun, Soekarno Cs yang eks pedagang romusha diantaranya telah melepaskan penjahat Trotskis Tan Malaka yang jelas-jelas akan mengguling­kan kepresidenannya. Selama riga tahun belakangan itu, telah jelas pula bahwa Soekarno Cs telah menjalankan politik kapitulasi terhadap Belanda, Inggris dan Amerika .

Propaganda dan tuduhan PKI itu tak dapat diterima para tawanan. Orang-orang PKI menuduh bahwa penolakan untuk sependapat dengan PKI itu, karena hasutan atau setidaknya terpengaruh oleh keberanian Munadji, yang sejak awal memang selalu menentang PKI. Munadji kemudian dijadikan “kambing hitam” dan akhirnya menjadi sasaran penyiksaan orang-orang PKI. Ia diseret ke luar sel, dan sepanjang siang dan malam menjalani interogasi dan penyiksaan. Melihat dan mendengar Munadji disiksa namun tetap pantang menyerah, telah menumbuhkan tekad segenap tawanan untuk tetap bertahan pada pendirian .

“Alhamdulilah, kami tidak lama disekap dalam penjara, kira­ kira hanya dalam hitungan belasan hari saja. PKI dapat dilumpuhkan oleh Pasukan Siliwangi. Kami dibebaskan. Namun sayang, Saudara Munadji yang pemberani, jiwanya sudah terlanjur tidak dapat diselamatkan,” kisah Kiai Rusydi.

Di luar penjara, masih lanjut Kiai Rusydi, penyiksaan keji juga menimpa sejumlah kiai dan tokoh agama lainnya. Hal ini dialami Kiai Dimyathi, Penghulu wilayah Kawedanan Walikukun, yang oleh para anak cucunya disebut dengan panggilan Mbah Ngompak, karena memang tinggal di Ngompak, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi.

Kesaksian dituturkan Kiai Damami, salah seorang cucunya yang kini tinggal di Pondok Pesantren Tanjungsari Kecamatan Jogorogo, Ngawi. Ketika tengah melakukan shalat malam, Mbah Ngompak diseret ke luar masjid, kemudian diikat, dan akhirnya diseret dengan menggunakan kuda hingga sejauh 10 km mencapai Kota Kawedanan Walikukun.

Kabarnya, ketika itu Mbah Ngompak belum juga wafa . Penyeretan kemudian kembali dilakukan ke arah Ngrambe. Namun, setelah berjalan sejauh 4 km, orang-orang PKI itu berhenti di sebuah jembatan di kawasan Wot Galeh. Dari atas jembatan ini, tubuh Mbah Ngompak dilempar ke sungai yang curam.

“Jazad beliau ditemukan sudah dalam kondisi yang sangat mengenaskan,” tutur Kiai Damami.

Peristiwa heroik Mbah Ngompak ini mengundang simpati banyak kalangan. Termasuk di antaranya Menteri Agama pada masa Munawir Syadzaly, MA. Karenanya, bersamaan dengan peresmian berdirinya Pondok Pesantren Putri Gontor di Sambirejo, Matingan, Kabupaten Ngawi, Menteri Agama menandai dengan renovasi Masjid Ngompak untuk menghormati syuhada Mbah Ngompak. Di dekat menara masjid ini, didirikan tugu peringatan, dengan prasasti yang ditandatangani Menteri Agama.

Kisah kekejaman PKI 1948 memang cukup banyak di Ngawi. Kiai Rusydi Cholil menyebut satu kejadian lain yang membuktikan keganasan PKI waktu itu. Berita yang menyayat hati itu adalah wafatnya Kiai Zaenal Abidin bersama 25 orang santri dan para pengikutnya dengan cara dibakar, di Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar.

Kiai Zaenal saat itu sedang “berdiam” di Masjid bersama 25 orang santri. Mereka dijemput secara paksa dan disekap di sebuah rumah berdinding kayu jati (papan). Rumah itu kemudian dibakar oleh orang-orang pendukung PKI.

Menurut Kiai Damami, dalam peristiwa ini, enam orang santri sebenarnya berhasil meloloskan diri dari kepungan api yang tengah melalap rumah berdinding papan. Sayang, enam orang itu di antaranya Hasan Bisri, Kamsir dan Kepala Desa Katikan Djojo Soemarto dan Haji Soehadi (Kamituwo/Kepala Dusun) kembali tertangkap. Keenam orang yang berusaha meloloskan diri ini dianiaya hingga tewas dan jazadnya ditemukan saling bertumpang tindih di sebuah sumur.

Serangan PKI yang menimpa Kiai Dimyathi dan Kiai Zaenal Abidin serta para santri dan pengikutnya itu, terjadi ketika PKI sudah terdesak dari wilayah Madiun dan Ponorogo. Mereka melarikan diri dan kocar-kacir ke wilayah Ngawi. Dalam pelarian mundur ini, mereka menggunakan penduduk sebagai perisai sambil merampok dan membumihanguskan perkampungan yang mereka lewati.

Di antara kocar-kacirnya PKI di wilayah Ngawi ini, ada satu rombongan melintasi kawasan hutan jati di barat Kota Ngawi Tepatnya di wilayah Desa Pelang Lor,  Kecamatan Kedunggalar, di tepi jalan raya Ngawi-Solo mereka mengadakan penghadangan terhadap setiap kendaraan yang melintas.

Rono Suti adalah salah seorang warga yang menjadi saksi ulah gerombolan PKI di dalam hutan jati. Ia satu-satunya saksi yang masih hidup hingga tulisan ini dibuat. Rono Suti menuturkan di antara gerombolan penghadang itu ada satu orang yang menunggang kuda.

“Tampak sekali, kalau yang menunggang kuda itu  adalah  pemimpinnya, ” katanya.

Beberapa buah ttuk pengangkut barang berhasil mereka hadang. Barang bawaannya mereka rampok, sopir dan kernetnya dihabisi di tempat. Ada pula satu sedan dan sebuah bus yang dibakar. Penumpangnya kemudian digiring ke arah Bengawan Solo.

Rono Suti tidak dapat menyebutkan hari dan tanggal secara pasti dari kejadian ini. Ia juga semula tidak mengetahui kalau korban penghadangan yang digiring beramai-ramai ke arah sungai Bengawan Solo dan kemudian dibunuh di tepi Bengawan Solo itu di antaranya adalah Gubernur Jawa Timur R. Soerjo dan Kepala Kepolisian Jawa Timur Komisaris Besar Polisi M. Doerjat.

Semuanya baru jelas setelah sehari kemudian datang rombongan lain, terdiri dari tentara dan polisi, yang mencari keterangan tentang penumpang sedan dan bus yang dibakar. Rono Suti dan beberapa penduduk Dusun Pelang Nggarem, menunjukkan lokasi pembunuhan di tepi Bengawan Solo.

Jazad Gubernur R. Soerjo dan Kombes Pol. M. Doerjat ditemukan di tepi Bengawan Solo, hanya ditutupi sampah-sampah dedaunan. Rono Suti ingat, ketika itu ada dari salah satu rombongan pencari korban ini, menyebut nama-nama lain pada jazad yang ditemukan. Di antaranya yang benar-benar masih diingat Rono Suti adalah nama Soenarjo, seorang Komisaris Polisi/Kompol. Sementara nama-nama lain yang menjadi korban sudah tak ingat lagi.

[1]    Dikutip dari buku “KESAKSIAN KORBAN KEKEJAMAN PKI 1948, Kesaksian Pesantren              Tremas, Pacitan “, Komite Waspada Komunisme, Jakarta:2005, hal 59-66

[2]    KH Rusydi Cholil: Imam Masjid Nurul Iman di Desa Watualang, Ngawi

 

1 Trackback / Pingback

  1. Mengingat kembali Sejarah RI tentang PKI | Info Haq Media

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*