KEHIDUPAN SEORANG SOPIR

KEHIDUPAN SEORANG SOPIR [1]

 

30 Maret 1981

Saya bercakap-cakap dengan seorang sopir mobil bank.

“Apakah Saudara pergi ke udik Lebaran yang lalu ini? “tanya saya.” Tidak bisa, Pak. Ongkos oplet saya sudah Rp.40,00. Biasanya Rp20,00. Tidak ada ongkos,” sahutnya.

Ia berasal dari Bogor, anaknya lima orang yang tua baru berumur 8 tahun. Hadiah Lebaran yang diperolehnya sudah habis untuk membeli sepatu dan pakaian buat anak-anaknya.

Setiap bulan ia ketekoran melulu gajinya Rp 1.400,00 sebulan, betul ia dapat pembagian beras yang dibayar cuma Rp 1,00 sekilo, selanjutnya gula dan sabun. Itu merupakan pertolongan baginya, tetapi buat belanja sehari-hari rasanya tidak mencukupi

“Keluar Rp 30,00 sehari buat belanja, apa yang bisa dimakan Pak? Kacang panjang yang berisi tiga buah sudah serupiah. Belum lagi sewa rumah dan pengeluaran lain,” kata si sopir.

Dulu ia masih bisa menyimpan, membeli emas lima gram, dikumpulkan sampai sepuluh gram. Tetapi itu tidak bisa lagi. Malahan gelang dan kalung sudah terpaksa di gadaikannya. Dulu ketekoran masih bisa ditutup dengan hasil uang lembur tetapi kini tidak bisa lagi.

“Sudah sejak kapan terasa ongkos penghidupan ini berat bagi Bung?”tanya saya.

“Sejak dua tahun ini.” (DTS)

 

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 25.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*