Kegiatan Sisa-Sisa PKI Pasca Pulau Buru dan Tindakan Pemerintah

Kegiatan  Sisa-Sisa PKI Pasca Pulau  Buru dan  Tindakan Pemerintah[1]

 

 

  1. Heboh Sastra Karya Pramoedya Ananta Toer

Tahap terakhir tahanan politik Pulau Buru dibebaskan pada tanggal 20 Desember 1979, termasuk di antaranya beberapa sastrawan. Di antara sastrawan yang menonjol adalah Pramoedya Ananta Toer seorang novelis tokoh Lekra PKI. Tulisan terakhir Pramoedya Ananta Toer sebelum ditahan di Pulau Buru berjudul Persembahan Untuk Partai (1965).

Di Pulau Buru ia termasuk kategori tahanan yang nakal dan die hard (kepala batu) yang terpaksa diisolasi. Namun, ia seorang penulis yang menghasilkan beberapa naskah karya sastra. Naskah-naskahnya kemudian diterbitkan dengan judul : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, yang diterbitkan oleh PT. Hasta Mitra pada tahun 1980, suatu percetakan milik Hasyim Rachman yang juga rekan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru. Ia seorang mantan wartawan Bintang Timur surat kabar dari Partindo yang pro PKI.

Buku-buku itu sangat menarik perhatian orang awam, karena ditulis oleh seorang sastrawan terkenal yang baru dibebaskan dari Pulau Buru. Oleh karena itu karyanya ramai, dan banyak muncul resensi di berbagai media massa.

Para kritisi sastra menyambut karya Pramoedya Ananta Toer dengan tanggapan yang berbeda. Tanggapan juga datang dari kalangan mass media seperti harian Sinar Harapan, Kompas, yang semuanya menyuarakan pro dan kontra terhadap karya Pramoedya Ananta Toer tersebut.

Buku Bumi Manusia menggambarkan bagaimana cara melawan sikuat (pengusaha) dengan taktik komunis melalui seni, pers, dan lain-lain media. Tampaknya sasaran yang hendak dituju oleh penulis adalah generasi muda, yang diharapkan sebagai simpatisan baru.

Buku lainnya, yang berjudul Anak Semua Bangsa merupakan kelanjutan dari buku Bumi Manusia yang tema dan isinya tidak berbeda, dengan menyanjung revolusi Perancis dengan cita-cita kebebasannya.

Kebebasan di sini diartikan sebagai sarang untuk menawarkan kebebasan, demokrasi yang membantu memberikan ruang dan waktu untuk kemungkinan hidupnya kernbali organisasi terlarang, termasuk organisasi yang beraliran Marxisme- Leninisme atau komunisme.

Propaganda mengenai demokrasi dan kebebasan adalah ciri khas orang-orang komunis pada awal mendirikan partainya.

Uraian mengenai penindasan terhadap petani miskin yang tanah garapannya sewaktu-waktu dirampas oleh penguasa, mengingatkan kita propaganda dan aksi sepihak PKI di masa ofensif revolusioner tahun 1964-1965.

Ketika itu PKI mengindoktrinasi petani agar membenci dan anti penguasa (pemerintah). Petani diperalat untuk kepentingan politiknya.

Pramoedya Ananta Toer melalui kemampuan sastranya berusaha membentuk opini publik dan menarik simpati masyarakat dengan mengangkat tema kebebasan demokrasi, penindasan, ketidakadilan, dan kontradiksi yang patut diwaspadai. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer karya Pulau Buru ini bukanlah sekedar buku sastra, melainkan buku tentang ideologi dan politik komunis yang dikemas dengan gaya sastra.

Aliran sastra Pramoedya adalah aliran realisme sosialis yang khas dianut oleh orang-orang komunis sebagai “seni perjuangan” klas. Bagi pengikut komunis buku tersebut bisa dianggap petunjuk teknis berorganisasi dan sikap yang harus dilakukan oleh pengikut komunis.

Dalam tajuk rencananya, harian Merdeka tanggal 23 Oktober 1980 menentang terbitnya karya Pramoedya Ananta Toer dari Pulau Buru. Harian Merdeka menyebutkan bahwa Bumi Man usia merupakan tesis strategis dan suatu himbauan untuk merehabilitasi salah satu kekuatan politik PKI yang telah mengalami kehancuran.[2]

Reaksi atas terbitnya karya Pramoedya Ananta Toer juga datang dari Prof. Dr. Hamka Ketua Majelis Ulama Indonesia, yang dimuat dalam harian Berita Buana tanggal 20 November 1980.

Hamka mendukung pelarangan buku Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa oleh Departemen P dan K, dengan argumen yang sama yaitu mengandung ide pertentangan kelas yang merawankan stabilitas nasional.

Selain pendapat-pendapat pribadi, juga golongan tertentu dalam masyarakat, menolak atas terbitnya buku karangan Pramoedya Ananta Toer.

Buku Bumi Manusia yang dikarang Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru, pada garis besarnya menggambarkan sejarah kehidupan sosial di Hindia Belanda awal abad 20, menjelang kebangkitan nasional.

Pada waktu itu suasana masyarakat diwarnai dengan konfiik antara rakyat dan penguasa kolonial, antara petani dan pemilik modal yang pada dasarnya penulis berusaha menajamkan suasana pertentangan kelas. Penulis juga menyuguhkan permasalahan-permasalahan pokok yang harus dilawan oleh orang komunis, yaitu :

  1. Egoisme dan ambisi pribadi,
  2. Hukum penguasa melahirkan ketidakadilan, kesewenang­ wenangan terhadap masyarakat yang

 

  1. Upaya Mengenalkan Kembali Tokoh-Tokoh PKI ke Masyarakat

Salah satu kegiatan orang-orang komunis pada pasca Pulau Buru adalah kegiatan intelektual dan menuliskan kembali sejarah, khususnya biografi tokoh-tokoh PKI. Kegiatan ini adalah salah satu metode agitasi dan propaganda untuk mempengaruhi dan mengubah pendapat umum terhadap PKI dan tokoh PKI.

Propaganda ini sasarannya adalah generasi muda, generasi yang lahir pada pasca 1965, tidak mengetahui dan memahami tingkah laku politik para pemimpin PKI yang agresif dan destruktif terhadap ideologi negara, Pancasila, dan bangsa Indonesia.

Gerakan ini dimulai sejak tahun 1982. Para mantan tahanan PKI Pulau Buru melakukan “ofensif” terhadap masyarakat mengenalkan kembali biografi tokoh­ tokoh yang diselingi dengan tokoh-tokoh lain yang bukan PKI tentunya. S.I. Poeradisastra alias Buyung Saleh, sastrawan dan tokoh PKI kelompok 1946, menulis mengenai “Tingkah laku Politik Jenderal Soedirman” versi PKI.

Penulis lain Hersri yang nama aslinya Anom Sastrodihardjo bersama Joebaar Ajoeb, tokoh Lekra menulis “SM. Kartosuwiryo, Orang seiring bertukar Jalan”. Dari Semarang, ada usaha memperkenalkan pasukan PKI dalam pemberontakan Madiun 1948.

Kemudian muncul tulisan biografi D.N. Aidit, pimpinan PKI dalang dari G30S/PKI, dan biografi Amir Sjarifuddin yang juga dalang pemberontakan PKI eli Madiun 1948.

lsi dari biografi-biografi singkat tersebut menyatakan bahwa mereka (tokoh-tokoh PKI) adalah tokoh “pejuang” (komunis). Tujuan dari penulisan tersebut adalah, bahwa para penulis (orang PKI) “menghimbau” masyarakat untuk menafsirkan kembali peran tokoh yang ditulis, dan menilai kembali akan kepeloporannya.

Kampanye penulisan biografi ini patutlah diwaspadai sebagai kasus yang serius, karena pada kesimpulannya para penulisnya menyatakan kepada masyarakat bahwa tokoh-tokoh PKI yang diperkenalkan kembali itu sebagai tokoh yang tidak “bersalah”. Kampanye semacam ini pun pernah dilakukan oleh Sekretaris Jenderal CC PKI Alimin pada tahun 1951.

Alimin meminta rehabilitasi tokoh-tokoh yang terbunuh karena  pemberontakan eli Madiun pada 1948, dan hal yang sama juga dilakukan  oleh D.N. Aidit sendiri.

Sebagai kesimpulan kasus penulisan biografi tokoh, sejarah, dan sastra yang ditulis oleh orang-orang PKI sudah pasti ditafsirkan berdasarkan komunisme (Marxisme- Leninisme). Tulisan itu pada umumnya berisi pembelaan, rehabilitasi, dan propaganda mengenai tokoh PKI dan organisasi PKI -nya.

Demi kelangsungan hidup bangsa dan negara, pandangan hidup dan ideologi negara, Pancasila, bangsa Indonesia wajib waspada dan mengenali segala upaya dan usaha orang-orang komunis yang merongrong Pancasila, melalui pelbagai metode dlan taktiknya.

 

  1. Larangan Terhadap Karya-Karya PramoedyaAnanta Toer

Buku-buku yang dihasilkan oleh Pramoedya Ananta Toer selama di Pulau Buru itu oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dilarang beredar di lingkungannya dengan Surat Edaran Nomor: 73106/Sekjen PDK/1980 tanggal 27 September 1980.

Menteri P dan K menginstruksikan kepada seluruh jajaran instansi P dan K untuk tidak membeli dan tidak menyimpan buku “Bumi Manusia” karangan Pramoedya Ananta Toer.

Tindakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini disambut baik dan didukung oleh Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Kopkamtib memandang perlu untuk menampung dan sekaligus menanggapi reaksi-reaksi yang terjadi dalam masyarakat.

Dasar dukungan Kopkamtib adalah Ketetapan MPRS Nomor: XXV/MPRS/1966 Jo Ketetapan-ketetapan MPR Nomor: V/MPR/1973 dan Nomor: IX/MPR/1978 tentang pembubaran PKI, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia bagi DKI dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan dan mengembangkan faham atau ajaran komunisme/Marxisme- Leninisme.

Di samping itu, petunjuk dari Pangkopkamtib yaitu Petunjuk Pelaksanaan Pangkopkamtib Nomor: Pelak-002/Kopkam/10/1968 jo Petunjuk Pelaksanaan Pangkopkamtib Nomor: Pelak-001/ Kopkam/X/1971 tentang kebijaksanaan penyelesaian tahanan­ tahanan G30S/PKI, serta Petunjuk Pelaksanaan Pangkopkamtib Nomor: Juklak 04/Kopkam/11/1974 tentang pengawasan atas bekas para tahanan dan narapidana G30S/PKI yang dikembalikan ke masyarakat dan peningkatan kewaspadaan masyarakat.

Akhirnya berdasarkan pembahasan dan penelitian yang dilakukan oleh Kopkamtib bersama-sama dengan lembaga-lembaga lain yang terkait dan setelah dievaluasi oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dikeluarkan larangan beredarnya kedua buku tersebut (Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa) berdasarkan Surat Keputusan Kejaksaan agung Nomor: Kep-052/JA/1981, tanggal 29 Mei 1981 untuk seluruh wilayah Indonesia.

Alasan pelarangan buku tersebut, karena Pramoedya Ananta Toer bukan hanya seorang sastrawan, namun juga seorang ideolog komunis yang gigih mengeluarkan karya-karya politiknya sekali pun telah mengalami sebagai tahanan politik selama lebih dari 10 tahun di Pulau Buru. Momentum menerbitkan karya-karyanya tersebut memang tepat, tatkala terjadi kelangkaan bacaan sastra.

Kemampuan proses mengemas dan menyajikan ajaran komunis dalam bentuk sastra memanfaatkan momentum tersebut untuk menarik simpati masyarakat. Karena di dalam ajaran komunis tidak mengenal istilah kalah, yang baginya adalah istilah pasang dan surutnya perjuangan.

 

—DTS—

 

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid V: Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-Sisanya (1965-1981), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*