Kegiatan Sisa-Sisa PKI dan Simpatisannya di Uni Sovyet

Kegiatan Illegal Sisa-Sisa PKI dan Simpatisannya  di Luar  Negeri (2): Kegiatan Sisa-Sisa PKI dan Simpatisannya di Uni Sovyet [1]

 

 

Akibat terjadinya persaingan antara RRC dan Uni Sovyet, tatkala kudeta G30S/PKI 1965 terjadi, maka Uni Sovyet memberikan reaksi yang lunak. Kemudian terbukti Uni Sovyet memberikan bantuannya kepada para mahasiswa Indonesia yang bersimpati kepada negara itu.

Sebaliknya kepada mereka yang bersimpati terhadap Indonesia, mendapat perlakuan yang tidak wajar dari pemerintah Uni Sovyet. Akibat dari tekanan-tekanan itu, mereka minta untuk dipindahkan ke negara lain atau ditarik ke tanah air. Surat pengajuan tersebut terpaksa ditulis oleh mahasiswa Indonesia pada tanggal 30 September 1966, dan ditandatangani oleh Boy Darwin, Syamsul Bakri, Farid, Tanak, K.R. Purba, dan Bambang Krisdarmaji.

Di Universitas Patrice Lumumba, Moskow, sisa-sisa PKI mendirikan suatu gera.kan yang mereka beri nama “Gerakan Mahasiswa Revolusioner Universitas Persahabatan” yang terang­ terangan anti Pemerintah Indonesia.

Pada tanggal 9 November 1967, secara tegas pemerintah Uni Sovyet dengan PKUS beserta mass medianya telah mengambil alih gerakan komunis Indonesia dan menjadikan mereka sebagai tenaga pimpinan untuk mengadakan operasi di dunia Internasional. Tindakan ini nampaknya diambil sebagai bagian dari usaha untuk memberikan harapan dan instruksi -instruksi kepada mereka yang masih tetap bergerak di Indonesia.

Pada saat Kongres Partai Komunis sedunia dilangsungkan di Moskow pada bulan Juni 1969, PKUS menyampaikan “Salam Revolusioner” kepada mereka yang gugur di Indonesia, menjadi korban “teror berdarah”. Di samping itu, disampaikan juga rasa solidaritas kepada bekas-bekas PKI yang masih tetap berjuang. Mereka juga percaya pada suatu saat mesti PKI kembali akan berkuasa kembali.

Akan tetapi bekas anggota PKI yang masih “berjuang” untuk menghidupkan kembali PKI, dihadapkan kepada persaingan antara PKC dan PKUS. Mereka ini juga berusaha merebut pengaruh di antara sisa- sisa PKI yang masih ada, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Akibatnya di antara bekas-bekas PKI terjadi perpecahan. Ada bekas-bekas PKI yang pro Uni Sovyet dan yang pro RRC.

Para bekas PKI yang pro Uni Sovyet menyatakan, bahwa sejak kegagalan G30S/PKI, mereka memutuskan untuk mengikuti garis Moskow, karena Beijing (Peking) ternyata telah menjerumuskan PKI ke dalam kesulitan. Hal ini kemudian dibalas oleh Radio Beijing (Peking) siaran Indonesia dengan menyiarkan sebuah rekaman dari salah satu pidato D.N. Aidit yang memuji-muji Beijing (Peking).

Di samping itu pemerintah RRC mengecam keras Moskow, karena telah mengirimkan senjata kepada Indonesia yang kemudian digunakan oleh pemerintah Indonesia guna menumpas G30S/PKI.

Seperti halnya RRC, Pemerintah Uni Sovyet juga ikut campur dalam masalah dalam negeri Indonesia. Pada tanggal 14 Februari 1969, Galukov seorang dosen Ilmu Teknik di Universitas Patrice Lumumba, Moskow, menyatakan bahwa PKI akan hidup kembali asal dengan tegas berpegang pada prinsip-prinsip MarxismeI Leninisme serta mengadakan kerjasama dengan kekuatan demoktratis yang progresif lainnya.

—DTS—

 

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid V: Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-Sisanya (1965-1981), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*