Kegiatan Sisa-sisa PKI dan Simpatisannya di beberapa Negara

Kegiatan Illegal Sisa-Sisa PKI dan Simpatisannya  di Luar  Negeri (4): Kegiatan Sisa-sisa PKI dan Simpatisannya di beberapa Negara [1]

 

 

Kegiatan sisa-sisa PKI dan simpatiasnnya yang sangat mencolok dijumpai di bebrapa negara, seperti di RRC, Uni Sovyet, dan Nederland. Namun hal itu tidak berarti, bahwa di negara-negara lain tidak terdapat kegiatan sisa-sisa PKI dan simpatisannya. Setelah beberapa waktu kehancurannya G30S/PKI itu, sisa-sisa PKI dan partai komunis di beberapan negara lebih banyak bersikap diam.

Sambil mereka masing-masing menentukan kiblatnya ke RRC atau Uni Sovyet. Akan tetapi begitu RRC membuka suara dan bersikap membantu sisa-sisa PKI, Uni Sovyet kemudian mengikuti langkah dan sikap yang telah diambil oleh RRC.

Uni Sovyet dan RRC tampaknya bersaing dalam usaha menanamkan pengaruhnya terhadap sisa-sisa PKI. Hal itu terbukti pada waktu terjadinya G30S/PKI tahun 1965, dari 120 orang mahasiswa/Traine Comunis dan IKM (Ikatan Keluarga Marhaen) di Uni Sovyet, 80 orang diantaranya menyeberang ke RRC dan mengadakan kegiatan-kegiatan  di Beijing (Peking).

Demikian pula mahasiswa-mahasiswa Komunis Indonesia di Eropa Timur, aksi-aksinya meningkat sekali. Kegiatan gerilya politik yang mereka lakukan, adalah menerbitkan dan mengedarkan buletin, stensilan, koran, dan majalah yang memuat propaganda komunis yang disusun dan diterbitkan di Peking, Moskow, Praha, Havana, dan Tirana.

Melalui buletin, koran, majalah khusus itu, mereka tidak hanya menyebarkan propaganda dan ajaran komunis tetapi juga mendiskreditkan Pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Soeharto.

Sejalan dengan gerpol sisa-sisa PKI, itu golongan PNI-ASU di luar negeri yang menamakan diri sebagai Perwakilan Front Marhaenis, juga menerbitkan sebuah buletin stensilan berjudul “Marhaen Menang”. Tulisan-tulisan dalam buletin itu bernada anti- RI dengan mengemukakan garis strategi komunis, serta menonjolkan semboyan-semboyan dan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

Karena itu, dalam siaran-siaran gerpol “Marhaen Menang”,[2] senantiasa menyambut dan mengutip tulisan -tulisan yang berisikan sorotan-sorotan dan kritikan-kritikan destruktif pemerintahan RI dan juga tulisan-tulisan yang menyanjung Pemimpin Besar Revolusi Sukarno dan membela ajaran Revolusinya.

Beberapa surat kabar terbitan Jakarta, yang menurut “Marhaen Menang” adalah kawan-kawan sejiwa dan seperjuangan mereka yang setia kepada ajaran- ajaran Pemimpin Besar Revolusi Sukarno, antara lain “Dwiwarna”, “Srikandi”, “El-Bahar”, dan “Warta Harian”.

Sampai pertengahan tahun 1967, buletin-buletin yang diterbitkan oleh gerpol sisa-sisa PKI dan gerpol PNI-ASU, banyak yang beredar di Indonesia. Beberapa di antaranya dapat disebutkan seperti buletin “API”, yang berisi ajaran-ajaran Marxisme- Leninisme (Komunisme) dan mendiskreditkan pemerintahan Orde Baru di lbawah pemimpin Pejabat Presiden Soeharto.

Buletin “Marhaen Menang” yang diterbitkan di Moskow, berisi ajaran Pemimpin Besar Revolusi Sukarno dan tulisan-tulisan yang bernada anti-RI (baca Orba). Kedua buletin itu oleh Kopkamtib dan Kejaksaan Agung telah dilarang beredar di Indonesia sejak tanggal 6 Agustus 1967.

Larangan itu dikeluarkan, selain karena kedua buletin itu membuat tulisan -tulisan yang bern ada anti-RI, juga karena memuat ajaran-ajaran Marxisme- Leninisme yang sudah dinyatakan sebagai ajaran terlarang di seluruh Indonesia.

Buletin-buletin terbitan luar negeri terlarang lainnya yang dilarang beredar di Indonesia, antara lain “Indonesia Berjuang”, “Suara Pemuda Indonesia”, Indonesia Tribune”, “Tekad Rak:yat”, dan “Tricontinental”. Buletin-buletin itu dikirim kepada pejabat-pejabat KBRI di berbagai negara, sedang yang dikirim ke Indonesia pada umumnya pos kota Roma, Helsinki, atau kota-kota Eropa lainnya.

Dalam melancarkan kegiatan-kegiatan gerpolnya, sisa-sisa PKI mendapat bantuan moril tidak saja dari negara-negara komunis, tetapi juga dari golongan komunis yang berada di negara-negara non komunis. Di negara-negara yang berideologi komunis seperti di Cuba, pemerintahannya secara terang-terangan membantu kegiatan gerpol sisa-sisa PKI.

Hal itu terlihat dengan jelas ketika berlangsungnya Konferensi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika­ Amerika Latin (Konferensi AAA) yang pertama di Havana. Pada konferensi AAA yang berlangsung di Ibukota Cuba pada bulan Januari 1966 itu, Ketua Panitia Internasional Konferensi yang juga merangkap Ketua Panitia Nasional Konferensi AAA Cuba, menolak delegasi resmi Indonesia dalam KAAA. Sebaliknya mereka menerima delegasi palsu yang terdiri atas sisa-sisa PKI yang diketuai oleh Ibrahim Isa.

Tindakan pemerintah Cuba itu sudah barang tentu menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Indonesia, yang secara politis mendiskreditkan Indonesia di forum Internasional. Karena itu DPR-GR bereaksi keras dan mendesak Panitia Nasional Organisasi Setiakawan Rakyat Asia Afrika dan Organisasi Setiakawan Rakyat Asia Afrika-Amerika Latin, agar memprotes Panitia Persiapan Internasional Konferensi pertama solidaritas AAA, karena sudah terang-terangan memusuhi delegasi Indonesia,[3] yang berarti juga memusuhi Republik Indonesia.

Keberhasilan gerpol sisa-sisa PKI di Cuba tidak terlepas dari peranan yang dimainkan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Havana, A.M. Hanafi (seorang anggota Dewan Harian Nasional Angkatan ’45 yang komunis). Karena gerilya politik yang dimainkan oleh Hanafi, Pemerintah Cina setelah hancurnya PKI tahun 1965 secara terang-terangan memberikan dorongan moral dan fasilitas terhadap sisa-sisa komunis Indonesia.

Sebagai solidaritas negara komunis, Cuba berusaha agar PKI yang sudah hancur itu dapat bangkit kembali di Indonesia. Namun aksi yang dilakukan oleh sisa-sisa PKI yang di bantu sepenuhnya oleh Pemerintah Cuba, tidak dapat bertahan lama dan menemui kegagalan. Duta Besar A.M. Hanafi kemudian dipanggil pulang oleh Kementerian Luar Negeri RI untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Karena beberapa kali tidak memenuhi panggilan Pemerintah, A.M. Hanafi akhirnya dibebaskan dari jabatannya  sebagai Duta Besar sejak 1 Juni 1966. Mantan Dubes itu kemudian meninggalkan Cuba untuk melanjutkan gerpolnya di RRC dan negara-negara Blok Timur lainnya.

Sebagaimana halnya di Cuba, kegiatan gerpol sisa-sisa PKI di Rumania juga tidak dapat dipisahkan dari peranan yang dimainkan oleh Sukrisno (mantan wartawan KBN “Antara” yang komunis). Ketika menjabat sebagai Duta Besar dan Berkuasa Penuh RI untuk Vietnam (RDV), Sukrisno selain membawa istri dan anak-anaknya, juga membawa beberapa Pemuda Rakyat, yang kemudian menjadi mahasiswa dan tenaga staf lokal. Mereka itu antara lain Sumardi, Widodo, Subardjo.

Widodo yang diangkat menjadi staf lokal, selain ditugasi mengurus bidang penerangan, juga membina mahasiswa untuk kepentingan komunis[4] Sebagai penasehat istimewa pribadi Dubes Sukrisno ditunjuk Subardjo, seorang tokoh Pemuda Rakyat dari Jakarta.[5]

Setelah kudeta G30S/PKI Sukrisno dipecat dari jabatannya sebagai Duta Besar RI sejak 1 Juni 1966,[6]setelah beberapa kali menolak panggilan Pemerintah RI dan terang-terangan mendukung G30S/PKI. Mantan Duta Besar itu kemudian meninggalkan Hanoi, dan melakukan gerpol terhadap RI di Rumania bersama kader-kader dan mahasiswa-mahasiswa komunis Indonesia, yang telah berhasil dibinanya.

Karena itu ketika terjadi peristiwa G30S/PKI tahun 1965, masyarakat  mahasiswa Indonesia yang berjumlah 42 orang yang tergabung dalam PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Rumania terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok mahasiswa Pancasilais yang memihak Orde Baru bergabung dalam PPI Pancasilais dan jumlahnya hanya belasan orang (antara lain : Hudaja Nizam, Djaffar, dan Suhantoro). Kelompok yang memihak G30S/PKI terdiri atas mahasiswa-mahasiswa pendukung PNI­ ASU. PPI Rumania dikuasai oleh kaum komunis, jumlahnya puluhan orang.

Pada waktu G30S/PKI meletus tahun 1965, PPI Rumania diketuai oleh Subroto dan wakil ketuanya Wadja Mangaratua Simorangkir.[7] Karena sudah dikuasai oleh golongan mahasiswa komunis, PPI Rumania dengan tegas dan terbuka bersikap memihak dan selanjutnya akan membantu kegiatan-kegiatan sisa-sisa PKI di Rumania. PPI Rumania dalam rangka gerilya politiknya dibantu sepenuhnya oleh Pemerintah Rumania, organisasi pemuda dan mahasiswa Rumania.

PPI Rumania menciptakan pertemuan “Solidaritas Mahasiswa Asia Afrika” di Bucharest pada tahun 1966. Sebuah “resolusi” yang dikeluarkan sudah dapat diduga isinya, yaitu mengutuk “Pemerintah Republik Indonseia” (baca Orde Baru) dibawah pimpinan Jenderal Soeharto.[8]

Mahasiswa -mahasiswa komunis yang melakukan kegiatannya di Rumania dipimpin oleh satu kelompok, yang terdiri atas Subardjo, Widodo, dan Mintardjo. Kelompok ini mencaplok PPI Rumania yang kegiatan-kegiatan mereka itu berjalan seiring dengan kampanye yang dilancarkan oleh sisa-sisa PKI di luar negeri bersama dengan Gerakan Komunis Internasional, yakni kampanye anti Republik Indonesia (maksudnya Orde Baru).

Kampanye anti Orde Baru juga dilakukan oleh Het Comite Indonesie di Nederland, SDS di Jerman Barat, Youth Againts War dan Fascism di Amerika Serikat, gerakan kaum New Left (kiri baru) di berbagai negara.

Karena terlibat dalam gerakan PKI, maka Ketua dan Wakil Ketua PPI Rumania Subroto dan Wadja Mangaratua Simorangkir beserta para anggota lainnya seperti Wimpi Munandar, Joko Sulistijo, Syamsudin Arifin, Kartowo, dan Kartali sebagai mahasiswa beasiswa Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP), tidak memenuhi panggilan KBRI di Bucharest pada waktu skrining diselenggarakan pada tahun 1966 terhadap semua warga negara RI yang berada di Rumania .

Akibat perbuatan mereka yang memusuhi negara RI, mereka tidak berani muncul di KBRI. Pihak KBRI terpaksa mencabut paspor-paspor mereka, meskipun demikian mereka masih bebas bergerak di Rumania, karena pemerintah negara itu berpihak kepada mereka.

Pelarian dan sisa-sisa PKI dan PNI-ASU serta Partindo terus berusaha mengadakan gerpol untuk menjelek-jelekan nama Indonesia. Selain itu mereka juga berusaha menggagalkan misi Presiden Soeharto yang akan mengadakan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara Eropa pada tahun 1969.

Hal  itu  dapat dilihat dari penerbitan-penerbitan yang mereka siarkan, seperti “Marhaen Menang” yang diterbitkan Gerakan Pembela Ajaran Sukarno (Gepas) di Bucharest.

Produk penerbitan itu mereka kirim kepada organisasi -organisasi dan orang-orang Indonsia di seluruh dunia. Namun penerbitan-penerbitan itu tidak mendapat pasaran, karena isinya berbeda dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi di Indonesia.

Sementara itu Partai Komunis di Albania yang secara terang­ terangan memberikan dorongan moril dan fasilitas kepada sisa­ sisa PKI, secara terbuka menyerang Pemerintah Indonesia. Melalui Kantor Berita Resmi Albania ATA, Partai Komunis Albania menuduh Indonesia dengan tuduhan apa yang disebutnya “melakukan teror putih yang kontra revolusioner terhadap kaum komunis”. Selanjutnya dalam Kongres V Partai Komunis Albania tahun 1966 di Tirana, dikeluarkan resolusi yang isinya mendesak Pemerintah Indonesia agar “membebaskan orang-orang komunis yang dipenjarakan”.

Resolusi itu juga menyebut Pemerintah RI “rejim militer fascis”yang katanya “naik ke tampuk kekuasan” dengan bantuan imperialisme Amerika Serikat dan didukung revisionis­ revisionis golongan Khruschev dan Tito, yang mengubah Indonesia menjadi negeri tempat pembunuhan, penyiksaan, pemburuan manusia, dan pemenjaraan secara sepihak orang-orang komunis, kaum patriot dan rakyat progresif lainnya.

Seperti di negara-negara komunis lainnya, kegiatan utama sisa­ sisa PKI di Albania ialah melakukan gerilya politik (gerpol) terhadap Pemerintah RI. Mereka tidak bosan-bosannya berkampanye menjelek-jelekan nama Indonesia melalui penerbitan buletin yang isinya tidak berbeda dengan siaran-siaran Radio Beijing. Buletin yang diterbitkan di Tirana, antara lain “Indonesia Tribune” dan “Suara Indonesia” oleh OISRA (Organisasi Internasional Setiakawan Rakyat Asia Afrika) serta “Marhaen Menang”yang diterbitkan oleh PNI-ASU.

Seperti halnya dengan kelompok PKI di Romania dan Albania, kelompok lainnya di Jerman Barat, Polandia, Hongaria, Cekoslowakia, dan Bulgaria ditugasi membina mahasiswa-mahasiswa anggota, calon anggota, dan simpatisannya PKI di negara itu masing-masing. Jumlah mahasiswa komunis Indonesia di negara-negara Eropa Timur cukup banyak yaitu, 117 orang di Cekoslowakia, 11 orang di Polandia , 11 orang di Bulgaria, lima orang di Hongaria, 27 orang di Bulgaria, 16 orang di Jerman Timur.[9]

Untuk mengurus kelompok PKI tersebut di bentuk Komite PKI Eropa Timur yang berkedudukan di Praha (Cekoslowakia). Komite PKI tersebut terdiri atas Sugiri (wakil SOBSI di WFTU- World Federation of Trade Union di Praha), Margono (wakil pemuda rakyat di WFDY­ World Federation of Democratic Youth di Budapest) dan Suhardjo (wartawan “Harian Rakjat” di Praha.[10]

Tampaklah betapa luas , rapi, dan rapatnya jaringan jaringan sisa-sisa PKI di luar negeri, terutama di negara-negara komunis, bahkan berkat gerakannya yang licin mereka mampu menerobos ke negara-negara non komunis, seperi Jerman Barat dan Jepang.

Sementara itu PPI Beijing yang sudah demisioner dan tidak diakui lagi oleh Pemerintah RI sebagai organisasi mahasiswa Indonesia, terus melancarkan ofensif terhadap mahasiswa Indonesia di Eropa Barat. Pengurus PPI di Brunschweig (Jerman Barat) mengatakan, buletin PPI Beijing yang dikirimkan kepada mereka, isinya persis siaran-siaran Radio Beijing. Isinya hampir 80% ucapan­ ucapan Mao Ze Dong, yang pola temanya bahwa yang benar dan revolusioner adalah G30S/PKI dan yang salah adalah Orde Baru.[11]

Untuk mencegah meluasnya peredaran buletin PPI Beijing itu di kalangan mahasiswa di Jerman Barat, KBRI di Bonn telah mengambil tindakan pengamanan. KBRI mengumumkan barang siapa yang menerima buletin semacam itu agar segera membakarnya.

Di Jerman Barat terdapat 900[12] lebih mahasiswa Indonesia yang belajar sambil bekerja. Dari jumlah itu sekitar 80-90% terdiri atas mahasiswa Indonesia keturunan Cina.[13] Kebanyakan ketua­ ketuanya terdiri atas kelompok mereka, karena pemilihan dilakukan menurut prosedur demokratis biasa.

Pecahnya G30S/PKI tahun 1965, ternyata tidak kecil dampaknya terhadap kemahasiswaan Indonesia di negara itu. Mereka terpecah-belah dan terseret oleh kubu-kubu politik Internasional yang mengelola soal G30S/PKI menjadi sumber interes politik yang paling buruk dan peka.

Secara obyektif harus diakui bahwa situasi buruk akibat G30S/PKI itu di luar negeri tidak dapat dikontrol. Namun sikap politik mahasiswa-mahasiswa itu tercermin pada sikap mereka sebagai warga negara Indonesia yang berwatak, berpikiran, dan berbuat seperti orang Indonesia.

Sebagian besar mereka yang menduduki pimpinan pengurus PPI pasca G30S/PKI memang masih tetap berwatak, berpikiran, dan berbuat seperti orang Indonesia. Namun ada sebagian yang masih terpengaruh oleh oknum dan unsur Baperki yang berpihak kepada G30S/PKI. Mereka melaksanakan operasinya dari kota Freiburg, Jerman Selatan.

Sikap PPI Eropa Barat umumnya dan PPI Jerman Barat khususnya, sudah mencerminkan sikap KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) di tanah air. Mereka telah mengadakan pemilihan pengurus baru baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Sambutan Deputy Menteri PTIP Mashuri, S.H. pada konferensi PPI se-Eropa di Paris pada tahun 1966 telah dijadikan pedoman kerja.

Mereka ini kemudian menjadi tenaga pendobrak, yaitu mendobrak sementara pejabat pada perwakilan- perwakilan diplomatik Indonesia yang berdasarkan fakta -fakta terlibat G30S/PKI.

Jika di Jerman Barat tidak terkesan adanya campur tangan pemerintahan atau oknum pejabat resmi setempat dalam urusan intern PPI di negara itu, sebaliknya diJerman Timur kesan demikian sangat terasa kuat sekali. Pengurus PPI di Republik Demokrasi Jerman (RDD) itu dalam rapatnya pada bulan Oktober 1966 memutuskan untuk memprotes keras campur tangan pemerintahanI pejabat resmi RDD dalam urusan intern PPI di Jerman Timur Protes keras itu dikeluarkan, karena pemerintahan/ pejabat resmi RDD itu menghalangi pelaksaan skrining yang dilakukan oleh Kedutaan Besar RI untuk Cekoslwakia dan RDD terhadap orang­ orang Indonesia yang berada di Jerman Timur.

Selain itu, mereka juga melarang PPI melakukan pemecatan dan schorsing anggota PPI di RDD, dalam rangka pembersihan terhadap tubuh PPI dari oknum oknum dan simpatisan G30S/PKI yang masih berkelliaran di Republik Demokrasi Jerman.[14]Larangan tersebut disertai sanksi pembubaran PPI di Jerman Timur sebagai organisasi resmi yang diakui oleh Pemerintah Indonesia. Tidak hanya itu saja, larangan itu juga disertai ancaman akan dikeluarkan dari sekolah.

Meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah Jerman Timur, tetapi PPI bertekad tidak akan mundur, PPI dalam rapatnya tersebut dengan tegas telah memutuskan bahwa PPI Jerman Timur akan terus melanjutkan pengganyangan terhadap oknum-oknum dan simpatisan G30S/PKI yang masih berkeliaran di luar negeri umumnya, di Republik Jerman khususnya.

Keputusan tersebut ditandatangani oleh Amiruddin Anwar dan Hendarno Tjipto, masing-masing Ketua Umum dan Sekretaris II PPI Jerman Timur.[15]

Di luar negara-negara komunis tidak hanya di.Jerman Barat, tetapi juga di Jepang terdapat sisa-sisa PKI dan simpatisannya. Di “negeri Matahari Terbit” itu  kegiatan gerpol sisa-sisa PKI dan simpatisannya tidak kalah hebatnya dengan di negara-negara lainnya. Mereka tidak hanya melakukan gerpol, tetapi juga teror terhadap pengurus KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) di Tokyo dan sejumlah masyarakat Indonesia pendukung Orde Baru di kota itu.

Meskipun teror tidak menimbulkan korban manusia, tetapi sejumlah rumah tempat tinggal mereka mengalami kerusakan berat, dengan terjadinya teror itu pengurus KASI di Jepang telah mendesak Pemerintah RI (Deplu) untuk mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap staf KBRI di Tokyo dan sejumlah masyarakat Indonesia di Jepang yang dicurigai.[16]

Polisi Metropolitan Tokyo dan alat alat negara Jepang yang bertanggung Jawab atas keamanan berusaha menyingkap tabir yang menyelimuti teror tersebut. Polisi dan alat alat negaraJepang mencurigai oknum -oknum komunis Jepang berada dibelakang teror, secara diam diam mengumpulkan bukti bukti kerja sama antara Partai Komunis Cina, sisa-sisa PKI dan oknum-oknum komunis Jepang.

Dugaan polisi tidak meleset dan dengan tertangkapnya beberapa oknum komunis Jepang, yaitu Reiji Nagata dan kawan­ kawan, terungkaplah teror tersebut. Ternyata Nagata dan kawan­ kawannya bukan hanya anggota perkumpulan persahabatan Jepang­ Cina, tetapi juga biang keladi teror. Jauh sebelum G30S/PKI tahun 1965 Nagata dan kawan-kawannya[17] telah dipergunakan oleh PKI untuk kepentingan mereka di Jepang.

Reiji Nagata adalah agen PKI yang ditugasi mengawasi tindak tanduk petinggi Indonesia yang berkunjung KeJepang, mengumpulkan fakta-fakta mengenai foya­ foya rombongan Presiden Sukarno dan sebagainya. Sesudah G30S/ PKI hingga tertangkapnya, Nagata ditugasi membantu pelarian sisa-sisa PKI, mengumpulkan informasi mengenai Indonesia untuk disalurkan kepada sisa-sisa PKI di Beijing, dan juga mengadakan kegiatan intelejen untuk kepentingan RRC.[18]

Sementara itu kegiatan-kegiatan gerpol sisa-sisa PKI di kalangan Mahasiswa Indonesia masih terus berlangsung, kegiatan­ kegiatan gerpol yang dikendalikan oleh Badan Koordinasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (BK-PPI) se- Eropa “tandingan” yang dipimpin oleh Tahet Pakuwibowo dan kawan-kawan, yang berpusat di Praha Cekoslowakia.

Perlu diketahui PPI se-Eropa tersebut adalah hasil pembentukan Konferensi PPI di Bucharest tahun 1965, yang kepengurusanya didominsai oleh mahasiswa­ mahasiswa komunis. Dengan kebangkitan pelajar/mahasiswa eksponen 66 di tanah air melawan G30S/PKI dan Orde Lama, maka mahasiswa -mahasiswa Indonesia yang Pancasilais di Eropa juga tidak mau ketinggalan.

Mereka menyadari selama PPI itu masih didominasi mahasiswa-mahasiswa komunis, mereka tidak dapat berbuat apa -apa. Dominasi kaum komunis dalam kepengurusan PPI mutlak harus diruntuhkan. Kepengurusan PPI se-Eropa harus ditangan pendukung Orde Baru.

Pada tanggal 19 sampai dengan 24 Agustus 1969, para pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi PPI se-Eropa telah melangsungkan Konferensinya yang ke 8 di St. Poltyn dekat Wina, Austria.[19]Konferensi itu diikuti oleh 16 cabang PPI dari negara­ negara Eropa, secara aklamasi telah membubarkan Badan Koordinasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (BK-PPI) se-Eropa dan sebagai gantinya telah di bentuk suatu wadah baru yang mereka namakan Kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia (KPPI) di Eropa.

Wadah baru tersebut menitikberatkan kerjasama terutama pada bidang­ bidang ilmiah, kemahasiswaan dan kesenian. Dengan suksesnya Konferensi PPI ini, ambisi gerpol sisa-sisa PKI untuk menguasai PPI dengan memecah belah kekuatan-kekuatan mahasiswa Indonesia di luar negeri dapat digagalkan.

Hal itu membuktikan bahwa mayoritas mahasiswa Indonesia di luar negeri masih lebih cinta pada tanah air dan ideologi negaranya yaitu Pancasila, ketimbag ideologi asing Marxisme- Leninisme.

Dengan runtuhnya dominasi mahasiswa komunis dari tubuh PPI, gerpol sisa-sisa PKI mengalihkan kegiatannya ke negara-negara di Eropa Barat, karena mahasiswa-mahasiswa di Eropa Timur sudah menarik garis pemisah yang tegas, yaitu antara yang pro dan kontra G30S/PKI. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa di Eropa Barat kebanyakan diantara mereka belajar dengan biaya sendiri, yang perasaan kebebasan pribadinya menonjol, sehingga sukar membedakan antara yang Pancasilais dan pendukung G30S/PKI.

Begitu juga suasana kehidupan dan kebebasan berpikir yang terdapat di negara itu dan timbulnya gerakan gerakan golongan kaum kiri baru (New Left), memungkinkan mereka mudah dipengaruhi dengan berita­ berita negatif yang digerpolkan oleh sisa-sisa PKI.

Alasan lain yang menyebabkan mahasiswa-mahasiswa di negara-negara Eropa Barat lebih diperlhatikan oleh mahasiswa-mahasiswa sisa-sisa PKI, karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan dengan di negara-negara Eropa Timur.

Anggota PPI di seluruh Eropa tahun 1969 diperkirakan berjumlah 3.140 orang, hampir 90% diantaranya terdapat di Eropa Barat dan  2.300 orang merupakan anggota PPI Jerman Barat.[20]

Sementara itu nasib sisa-sisa kaum komunis Indonesia dan kaum yang mengaku pendukung Sukarno (Sukarnois) makin lama makin bertambah buruk dan menyedihkan, keadaan mereka pada akhir tahun 1971 menjadi berantakan karena timbulnya pertentangan dan bentrokan di antara mereka itu sendiri, sudah menjadi rahasia umum bahwa pertentangan dan permusuhan di antara sisa-sisa PKI di luar negeri telah lama berlangsung, karena terbawa oleh permusuhan yang terdapat antara negara induk semang masing masing yaitu Uni Sovyet dan RRC.

Demikianlah telah terjadi pertentangan sisa-sisa PKI yang bermukim di Beijing yakni antara kelompok Ajitorop yang menyebut dirinya sebagai Ketua Delegasi PKI di RRC dengan kelompok Sugiri mantan wakil SOBSI di Praha. Pertentangan ini menimbulkan perpecahan yang menyebabkan Sugiri menyingkir dari RRC menuju negara­ negara Eropa Timur, antara lain Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria dan Rumania.

Jika Ajitorop menamakan diri sebagai ketua delegasi PKI di RRC, maka Swie Siauw Poh (Slamet Suryo Prawiro) dan Ernest Pinontoan serta kawan-kawan di Tirana, Albania telah mendirikan GKI-LN (Gerakan Komunis Indonesia Luar Negeri) sebagai tandingan gerakan kaum komunis yang berkiblat ke Moskow.[21]

Kaum komunis yang memihak kepada Uni Sovyet, oleh kelompok kaum komunis pro RRC dijuluki sebagai kelompok renegat munafik yang dibina “klik revisionis sosial imperialis Uni Sovyet”. Caci-maki juga dilontarkan kepada Thomas Sinuraya-Ali Hanafiah dan kawan-kawannya yang dianggap sebagai “benggolan­ benggolan kelompok Renegat yang terkutuk”, karena menyebarkan bahan-bahan beracun dengan tulisan- tulisan seperti “Untuk Jalan Yang Benar Bagi Revolusi Indonesia dan tugas tugas mendadak bagi Gerakan Komunis Indonesia”.

Sebaliknya kaum komunis yang pro Moskow mengancam kaum komunis pro Beijing sebagai “orang-orang bebal yang mengekor kaum komunis Cina yang menjalankan politik petualangan dan pengkhianatan terhadap perjuangan Komunis Internasional”. Selain itu mereka menuduh kaum komunis Cina sebagai pihak yang telah menjerumuskan PKI ke lembah kehancuran. [22]

Selain terjadi perpecahan sejak tahun 1972 kaum komunis Indonesia pun menghadapi kenyataan-kenyataan yang mengecewakan dan membuat mereka tidak saja bingung, tapi juga frustasi.

Mereka kecewa terhadap kenyataan bahwa negara-negara komunis seperti Uni Sovyet, Cekoslowakia, Jerman Timur, Polandia Romania, Bulgaria dan Hongaria telah memperbaiki hubungan dipolomatiknya dengan Republik Indonesia. Bahkan RRC dan Korea Utara oleh mereka dianggap tidak lagi menunjukkan sikap politik yang semula bertindak sebagai pelindung mereka, sudah berkurang perhatian dan bantuan yang diberikan kepada mereka.

Semata-mata sebagai suatu imbalan jasa dari pihak yang menyuruh kepada pihak yang memusuhi Indonesia. Demikian pula negara-negara, partai­ partai komunis, organisasi -organisasi, sudah berkurang perhatiannya terhadap nasib hidup dan kegiatan-kegiatan mereka, semata-mata sebagai suatu imbalan jasa dari pihak yang menyuruh kepada pihak yang disuruh melakukan suatu pekerjaan, yaitu melakukan perang urat syaraf terhadap Republik Indonesia.

Bentuk perang urat syaraf tersebut berupa gerpol untuk merongrong dan menjatuhkan reputasi RI secara politik di forum internasional, dengan cara mempengaruhi pendapat umum di berbagai negara asing, dengan menonjolkan” keburukan-keburukan Rakyat Indonesia”.

Namun yang pasti sejumlah kaum komunis Indonesia dan kaum Sukarnois yang telah menyadari kesalahannya terhadap bangsa, tanah air dan negaranya, menyatakan kebingungan dan putus asa karena menghadapi penderitaan yang tidak tertahankan di negeri asing. Mereka telah terbuang jauh dari tanah air dan bangsanya, yaitu Indonesia.

Ibarat pepatah ”tangan mencencang bahu memikul”, itulah nasib mereka.

—DTS—

 

 

[1]     Sumber : Buku “Komunisme di Indonesia Jilid V: Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-Sisanya (1965-1981), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999

[2]     Ibid, Minggu ke-4, Desember 1970

[3]     Berita Yudha, 14 Februari  1966

[4]     Mingguan Chas, Minggu ke-3 Maret 1971

[5]     Ibid

[6]     Kompas, 28 Juni 1966

[7]     Ibid

[8]     Ibid

[9]     Mingguan Chas, Minggu ke-4 Juni 1970

[10]    Mingguan Chas, Minggu ke-3 Maret  1971

[11]    Kompas, 18 Juni 1966

[12] Mengenai jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman Barat, belum terdapat angka yang pasti. Sumber lain menyebutkan 2.300 orang (lihat Chas Minggu, September 1969)

[13]    Kompas, 18 Juni 1966

[14]    Berita Yudha, 26 Oktober 1966

[15]    Ibid

[16]    Berita Yudha, 3 Juli 1966

[17]    Mingguan Chas, Minggu ke-3 ]uni 1966

[18]    Ibid

[19]    Mingguan Chas, Minggu ke-4 September 1969

[20]    Ibid

[21]    Mingguan  Chas, Minggu ke-2 April1972

[22]    Ibid

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*