Kapten Eddie pasang ranjau anti-tank dekat rumah Mayjen Soeharto usai G30S

Senin, 9 Oktober 2017 07:11

Banyak kisah menarik seputar peristiwa G30S PKI dan setelahnya. Saat itu suasana panas dan saling curiga antar satuan terjadi di mana-mana. Bahkan Kapten Eddie M Nalapraya sampai memasang ranjau anti-tank di rumah Mayjen Soeharto beberapa waktu setelah G30S.

Ceritanya saat itu Kapten Eddie ditugaskan mengawal para jenderal Angkatan Darat, termasuk Menteri Panglima Angkatan Darat yang dipegang oleh Mayjen Soeharto setelah Letjen Ahmad Yani tewas diculik gerombolan Letkol Untung.

Eddie berasal dari pasukan Kujang Siliwangi. Pasukan yang dikenal tangguh dan punya pengalaman operasi tempur mulai dari menumpas PRRI/Permesta, DI/TII di Jawa Barat dan Sulawesi hingga pemberontakan lainnya.

Karena itu tanpa bertanya lagi, Brigjen Soemitro langsung menganggukkan kepala saat Eddie melapor Bulan November 1965.

“Kujang adalah brandname,” kata Eddie menggambarkan ‘tersohornya’ pasukan Kujang kala itu.

Pasukan pengawal ini dinamakan Kosatgas. Personelnya terdiri dari dua kompi pasukan Raider dari Indonesia Timur. Ditambah satu detasemen panser lengkap terdiri dari Saracen, Ferret dan Saladin. Demikian dikisahkan dalam buku Jenderal Tanpa Angkatan, Memoar Eddie M Nalapraya, Jenderal Tanpa Angkatan, terbitan Zigzag Creative.

Tak cuma itu, jeep milik Letkol Herman Sarens Sudiro juga dibongkar dan dipasangi senapan mesin serta peluncur granat.

TNI AD tak mau lagi kecolongan seperti pada malam penculikan tujuh jenderal beberapa waktu sebelumnya.

Saat itu Eddie menuturkan rumah Pak Harto di Jl Agus Salim sebenarnya sudah dikawal satu kompi pasukan Zeni. Kira-kira sekitar 80 orang pasukan. Namun Eddie merasa itu masih kurang. Dia menugaskan satu peleton (kira-kira 20 orang pasukan) ditambah beberapa panser untuk mengawal Mayjen Soeharto.

Setiap malam Eddie ikut berjaga di rumah Pak Harto. Dia tak mau kecolongan. Bahkan dia pernah memasang ranjau anti-tank di jalan menuju rumah Soeharto. Jika ada pasukan penyerang, Eddie pun siap meledakkan ranjau tersebut.

Pak Harto sendiri tidak pernah tahu karena Eddie memasang ranjau tersebut setiap sore hari dan melepasnya kembali pada pagi harinya.

Apa alasan Eddie?

“Saya lakukan itu untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Eddie.

Dia menambahkan, Pasukan Tjakrabirawa dan kekuatan-kekuatan lain yang berseberangan dengan Angkatan Darat juga masih ada. Jika misal ada penculikan lagi, pasti Pak Harto jadi salah satu target utama. Eddie tak mau ambil risiko.

Nah, Mayjen Soeharto juga diam-diam mencari tahu siapa pengawalnya yang satu ini. Suatu malam dia memanggil Eddie.

“Die, Eddie sini,” panggil Soeharto.

Eddie pun menghampiri dengan sikap hormat. Pak Harto lalu menyodorkan sebatang cerutu Kuba dan mengajak Eddie mengobrol. Salah satu yang ditanyakan pada Eddie adalah pengalaman tempurnya. Pak Harto tampaknya cukup senang mendengar penugasan tempur Eddie.

Untungnya ranjau anti-tank itu tak pernah digunakan oleh Eddie dan pasukan. Ketika Surat Perintah 11 Maret dikeluarkan, posisi Soeharto pun makin kuat. Susunan pengawal Kosatgas dibubarkan untuk direorganisasi.

Namun rupanya Pak Harto sudah kerasan dengan kinerja Kapten Eddie. Dia diminta untuk tetap mengawal Soeharto bahkan menjadi komandan detasemen kawal pribadi, ring yang paling dekat dengan Soeharto.

Eddie kelak pensiun dengan pangkat mayor jenderal TNI. Dia menjadi Kepala Staf Garnisun Ibukota Jakarta dan kemudian menjadi wakil gubernur DKI Jakarta tahun 1987.

 

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/kapten-eddie-pasang-ranjau-anti-tank-dekat-rumah-mayjen-soeharto-usai-g30s.html

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*