JUMLAH SUKARELAWAN SUDAH 21 JUTA

JUMLAH SUKARELAWAN SUDAH 21 JUTA [1]

 

10 April 1964

 

Beberapa hari yang lalu tersiar dalam pers jumlah sukarelawan yang mendaftarkan diri telah mencapai angka 21 juta orang. Sukarelawan ini dibentuk setelah Komando Presiden sebagai jawaban terhadap tindakan mobilisasi umum di Malaysia. Menteri Achmadi menyatakan para sukarelawan itu akan diberi latihan militer. Berapa banyaknya tidak dikatakannya.

Ada cerita beredar dalam masyarakat politik di Jakarta. Ketika diminta kepada para sukarelawan mengisi di bagian mana ingin dipekerjakan dan digunakan kelak apakah di bagian Palang Merah atau bagian lain, tnaka sebagian besar mengisi “Bagian Dapur Umum”. Maklum, rakyat kini susah dapat makan.

Saya dengar sebuah cerita lain. Suatu keluarga di Jakarta mau bepergian ke luar kota untuk waktu yang agak lama. Keluarga itu bertanya kepada kenalannya oleh-oleh apakah mau dibawakan nanti? Kenalan itu menjawab :

“Berikan sajalah kami pembagian beras Mas buat bulan ini, tidak usahlah bawa oleh-oleh pembagian beras itu sajalah sudah lumayan sekali. Terima kasih, Mas”.

Dari Mas Bagus di Malang saya menerima cerita yang mengandung arti Mas Bagus mempunyai tanaman percobaan jagung Metro di atas tanah seluas 2 hektar di daerah Ponorogo. Jagung itu tumbuh dengan subur, tetapi Mas Bagus kini menghadapi “hama baru” selain gangguan tikus yang merusak kira-kira sepertiga tanaman jagungnya. Apa “hama baru” itu? Rakyat yang lapar yang dengan tenang mengambil buah jagung untuk dimakan. Mas Bagus mau bikin apa?

Cerita-cerita di atas memperlihatkan betapa di kalangan rakyat jelata dan buruh serta pegawai kecil kehidupan dirasakan berat. Tetapi di kalangan kaum pengusaha dan teristimewa mereka yang disebut sebagai “pengusaha Istana” keadaan semakin jaya saja. A.M. Dasaad menceritakan kepada saya baru-baru ini tiga orang pengusaha yang demikian dapat tanda okay dari “Bapak” (maksudnya Presiden) untuk mengimpor sebanyak 3000 buah kendaraan truk yang dibeli dengan kredit luar negeri. Masing-masing pengusaha tadi dapat bagian boleh memasukkan 1000 truk dan untuk pekerjaan yang gampang itu mereka memungut komisi berupa valuta asing yang lumayan sekali.

Ada cerita lain yang mengatakan beberapa pengusah adengan kerja sama Menteri Deperdatam Chaerul Saleh secara beramai-ramai telah membeli perusahaan remilling karet bekas milik pengusaha Cina yang bermodalkan Singapura-Malaya. Perusahaan-perusahaan remilling itu telah disita oleh pemerintah dan rupanya kini secara diam-diam digeser dan berpindah tangan menjadi milik para pengusaha tadi.

Ya begitulah, ada rakyat yang melarat, ada pengusaha pedagang yang sedang dapat angin untuk menumpuk harta kekayaan berkat koneksi dengan Istana dan Menteri. (SA)

 

[1] Catatan wartawan senior Rosihan Anwar, suasana sosial politik bangsa Indonesia, menjelang peristiwa G30S-PKI 1965, antara tahun 1961-1965. Dikutip dari buku “Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965”, Jakarta : Sinar Harapan, 1980, hal. 447-449.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*